NALURI ISTRI

NALURI ISTRI
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Devan terus melajukan mobilnya mengikuti suami Emma.


"Devan, ayo lebih cepat lagi," ujar Emma dengan wajah khawatir ketika melihat sepeda motor suaminya melaju semakin kencang.


"Tak apa kalau aku ngebut?" Devan bertanya.


"Tak apa, Devan," jawab Emma. Mendengar jawaban Emma, Devan langsung menambah kecepatan mobilnya. Dari jauh terlihat sepeda motor suami Emma berhenti di pinggir jalan, di dekat sebuah gedung yang tinggi.


"Devan, berhenti," ujar Emma. Devan menghentikan mobilnya.


"Gedung itu adalah kantor, tempat suamiku bekerja." Emma berkata sambil terus menatap ke luar. Terlihat wanita itu turun dari sepeda motor dan memegang tangan Richard, suami Emma. Keduanya terlihat sedang mengobrol. Emma mengambil ponselnya. Ia berencana mengambil foto suaminya dengan wanita itu. Beberapa saat kemudian, wanita itu mencium tangan Richard lalu berjalan menuju ke gedung itu. Jantung Emma berdebar kencang menyaksikan semuanya. Tangannya gemetar. Ia tak jadi mengambil foto. Ia meletakan ponselnya lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Emma, maaf. Ini tisunya." Devan memanggil Emma sambil memberikan tisu kepada Emma. Emma tak menjawab. Tangan kirinya tetap menutup wajahnya, sedangkan tangan kanannya mengambil tisu yang diberikan oleh Devan. Devan tahu Emma pasti menangis. Tanpa banyak bicara, Devan melajukan mobilnya. Ia sengaja mengebut. Beberapa saat kemudian,


"Devan." Emma memanggil Devan. Devan menoleh. Mata Emma teelihat sembab. Ia sudah berhenti menangis.


"Ada apa, Emma?" Devan sengaja bertanya.


"Aku takut. Tolong jangan ngebut," ujar Emma. Devan mengangguk. Ia memperlambat laju mobilnya lalu berbelok dan berhenti di pinggir pamtai.


"Kenapa berhenti?" Emma bertanya.


"Ayo turun," jawab Devan lalu membuka pintu mobil. Emma tak bertanya lagi. Ia mengira bahwa mobil Devan mogok. Ia ikut keluar dari mobil. Keduanya berdiri di pinggir pantai. Emma terlihat bingung. Devan menoleh dan menatap Emma.


"Emma, boleh kita bicara?" Devan bertanya. Emma menoleh menatap Devan lalu mengangguk.


"Boleh," jawab Emma.


"Emma, maafkan aku jika terpaksa ikut campur masalah rumah tanggamu. Meskipun aku tidak berada di posisimu, tetapi aku bisa merasakan bagaimana perasaanmu. Kamu terlihat tegar tetapi sebenarnya hati kamu sangat rapuh. Itu yang kulihat dari matamu. Aku tahu ini tidak mudah bagimu, tetapi aku minta kamu untuk tetap kuat. Cobalah untuk menenangkan perasaanmu. Pikirkan kembali semua yang sedang bahkan sudah kau rencanakan kepada suamimu dan wanita itu. Ingatlah bahwa kamu punya anak-anak. Kamu harus tetap tegar karena anak-anakmu membutuhkanmu. Aku sengaja membawamu kesini. Di pantai ini, lepaskanlah semua bebanmu. Jika kau ingin menangis, menangislah. Jika kau ingin berteriak, berteriaklah." Devan berkata sambil terus menatap wajah Emma. Emma menunduk lalu duduk di atas pasir. Ia memikirkan semua perkataan Devan. Devan tak mengalihkan pandangannya dari wajah Emma. Beberapa saat kemudian, Emma mengangkat wajahnya perlahan menatap Devan. Bulir bening mengalir dari matanya, jatuh membasahi pipinya. Ia meletakan tangannya di dadanya. Devan yang melihat itu, spontan mengambil posisi duduk di samping Emma. Bulir-bulir bening mengalir semakin deras dari mata Emma. Ia memukul pelan dadanya berulang kali. Hati Devan sangat sakit melihat Emma. Ia tak tahu harus berbuat apa. Emma menangis tanpa suara. Sesekali ia menunduk lalu kembali mengangkat wajahnya menatap Devan.


"Sakit. Hatiku sangat sakit." Emma berkata lirih sambil terisak. Devan mengulurkan tangannya perlahan memberikan tisu kepada Emma lalu meletakan tangannya di bahu Emma.

__ADS_1


"Sorry, Emma. Menangislah, luapkan semuanya," ujar Devan sambil menepuk pelan bahu Emma.


*****


Bayangan tentang semua kenangan buruk yang pernah dialami Emma terus melintas di pikirannya. Hatinya semakin sakit. Dadanya sesak. Wajahnya telah basah oleh airmata. Devan masih setia di sampingnya, menemaninya meluapkan semua yang dirasakannya. Beberapa saat kemudian, suara isak tangis Emma tak terdengar lagi. Ia menatap kosong jauh ke depan.


Devan membiarkan Emma menenangkan dirinya. Ia menunggu dengan sabar.


"Devan, tolong antarkan aku pulang sekarang," Tiba-tiba terdengar suara Emma berkata. Devan mengangguk.


"Arw you OK now?" Devan bertanya. Emma mengangguk pelan lalu berdiri. Ia mencoba tersenyum.


"Emma, anak-anakmu menanti kepulanganmu. Berikan mereka senyuman terindahmu," ujar Devan sambil tersenyum.


"Terima kasih, Devan. Maafkan aku telah melibatkanmu dalam masalahku dan merepotkanmu." Emma berkata pelan.


Spontan Devan menggeleng.


Devan melajukan mobilnya. Beberapa saat kemudian, ponsel Emma berdering. Ada pesan masuk. Emma segera mengecek ponselnya. Pesan dari suaminya.


[Mah, sudah tiba di rumah?]


Emma membaca pesan dari suaminya dan mengabaikannya. Devan melirik ke arah Emma.


"Apakah semuanya baik-baik saja?" Devan bertanya. Emma mengangguk.


"Kamu bawa perlengkapan make up?" Tiba-tiba Devan bertanya. Emma spontan menoleh dan mengerutkan keningnya.


"Iya, aku bawa. Ada apa?" Emma bertanya dengan wajah heran.


"Pakailah sesuatu di wajahmu. Kamu harus terlihat cantik dan segar ketika anak-anakmu menyambutmu pulang. Jangan membuat mereka bertanya kenapa dengan wajah dan matamu yang sembab," ujar Devan. Mendengar perkataan Devan, Emma spontan mengambil cermin kecil di dalam tasnya dan bercermin.

__ADS_1


"Kamu benar. Aku harus memakai make up untuk menutupi wajahku yang kusut ini. Thank you, Devan." Emma berkata sambil.mengeluarkan perlengkapan make upnya dari dalam tas.


Emma mulai membersihkan wajahnya. Devan terus melirik ke arah Emma.


'Berbahagialah Emma. Aku hanya ingin melihat senyumanmu. Melihat airmatamu, aku merasa seperti ada ribuan jarum yang menusuk hatiku. Apapun yang terjadi, aku janji, aku akan selalu di sampingmu.' Devan membatin.


"Devan, lihat." Devan terkejut mendengar suara Emma memanggilnya. Ia segera menoleh.


"Wow, kamu terlihat cantik. Wajahmu kelihatan lebih segar," ujar Devan sambil tersenyum. Meskipun mata Emma terlihat sembab, namun make up tipis yang dipoles ke wajahnya sedikit membantu menutupi wajahnya yang kusut setelah menangis.


"Devan."


"Iya, Emma. Ada apa?"


Devan melirik ke arah Emma.


"Apa aku terlihat menyedihkan?"


Emma bertanya.


"Tidak. Jangan menyudutkan dirimu sendiri. Dengarkan aku Emma, pikirkanlah anak-anakmu. Be happy, please. Aku ingin kamu tiba di rumah dengan membawa senyuman kebahagian untuk mereka, OK?"


Devan berkata dengan tegas. Emma mengangguk.


"Devan, ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu," ujar Emma.


"Katakan, aku mendengarkanmu," jawab Devan.


"Devan, sebenarnya aku...."


Belum sempat Emma menyelesaikan ucapannya, ponselnya kembali berdering.

__ADS_1


__ADS_2