NALURI ISTRI

NALURI ISTRI
Wanita Penggoda VS Pria Plin Plan


__ADS_3

"Devan, tak usah, terima kasih. Aku bisa membawanya sendiri." Emma menolak halus ketika Devan membawa tasnya.


"Tetapi aku ingin membawanya. Ayo, kamu harus segera check in." Devan berkata sambil melangkah dengan cepat mendahului Emma.


"Disini saja, Dev. Terima kasih telah mengantarku," ujar Emma. Devan menyerahkan tas Emma.


"Hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk mengabari aku. Jaga dirimu. Sekali lagi terima kasih, sudah bersedia membantuku." Devan berkata sambil tersenyum. Emma mengangguk. Ia terlihat kaku karena perlakuan berbeda yang diberikan oleh Devan, atasannya. Usia mereka memang tak jauh beda. Devan dua tahun lebih tua dari Emma.


"Terima kasih Devan. Aku berangkat ya." Emma pamit lalu berjalan meninggalkan Devan.


"Emma, tunggu." Devan berlari menyusul Emma. Emma berhenti lalu menoleh.


"Aku lupa memberikan ini kepadamu." Devan berkata sambil memberikan sebotol air mineral kepada Emma.


"Apa ini?" Emma bertanya sembari mengerutkan keningnya.


"Aku tidak melihatmu membawa air minum. Bawa ini. Cuaca di luar sangat panas," ujar Devan. Emma menerimanya dan mengucapkan terima kasih lalu pergi. Devan buru-buru pulang karena akan menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan keberangkatannya ke Bali.


"Ya Tuhan, maafkan aku, aku tahu ini salah tetapi aku tak bisa membohongi perasaanku. Sudah sejak dulu aku menyukai Emma. Tetapi... Tidak, aku tak boleh mengatakan perasaanku kepadanya. Ia sudah menikah. Aku tak mau merusak hubungan baik kami. Aku tak mau ada jarak di antara kami hanya karena perasaanku kepadanya. Biar kupendam saja perasaanku ini. Aku hanya ingin melihatnya bahagia." Devan berkata seorang diri.


*****


Rani terburu-buru menuju ke ruangan Richard. Tanpa mengetuk pintu ia langsung masuk. Richard terlihat sedikit terkejut.


"Rani? Ada apa?" Richard mengangkat wajahnya, menatap Rani dan bertanya. Rani memasang wajah cemberut.


"Pak Richard tidak membaca pesanku? Atau sudah baca tetapi sengaja lupa? Ini sudah waktunya makan siang.Ayo kita makan siang. Aku yang traktir," ujar Rani.


"Pesan? Pesan yang mana." Richard terlihat bingung. Ia mengecek ponselnya lalu menepuk pelan jidatnya. Ia membaca pesan dari Rani yang menawarkan untuk mentraktirnya makan siang.

__ADS_1


"Maafkan aku. Aku terlalu sibuk sampai tak tahu kalau ada pesan darimu. Mau makan siang dimana?" Richard melepaskan kacamatanya, membersekan mejanya lalu berdiri.


"Ada sebuah restoran favoritku, tetapi jaraknya sedikit jauh dari sini. Sebenarnya aku ingin mengajak Pak Richard makan disana, tetapi sepertinya tak mungkin, jadi kita makan siang di dekat sini saja seperti biasa, warung kilat di depan sana." Wajah Rani terlihat sedikit kecewa.


"Restoran favoritmu? Mengapa tidak mungkin?" Richard berkata lalu mengambil kunci motornya. Rani mengerutkan keningnya.


"Kita mau kemana?" tanya Rani.


"Ke restoran favoritmu," jawab Richard singkat.


"Tetapi agak jauh dari sini. Aku takut terlambat masuk kembali." Rani bingung.


"Ayo kita pergi. Soal terlambat atau tidak, itu akan menjadi urusanku. Jangan khawatir.OK?" Richard berkata dengan nada pasti. Rani mengangguk. Keduanya lalu berjalan keluar dari ruangan Richard. Ternyata benar kata Rani. Restoran favoritnya memang agak jauh dari kantor. Meskipun begitu, Richard tak protes. Setelah melewati sedikit kemacetan, tibalah mereka di restoran tersebut. Restoran itu tak begitu ramai. Keduanya langsung masuk dan memilih meja di sudut ruangan.


"Pak Richard mau pesan...."


"Shhh.... Richard." ujar Richard menyela ucapan Rani. Rani mengembuskan napasnya dengan kasar. Ia sedikit gugup. Keduanya saling menatap untuk beberapa saat. Richard tersentak ketika ponselnya bergetar. Ia lupa kalau Emma, istrinya mengirim pesan kepadanya sejak tadi dan ia belum membalasnya.


"Aku mengikuti seleramu. Aku tak punya alergi dengan makanan tertentu." Richard menjawab sambil tersenyum. Rani mengangguk. Richard kembali menatap layar ponselnya, membaca pesan dari istrinya.


[Maaf pah kalau aku mengganggu. Tolong jaga anak-anak ya. Aku akan pulang besok pagi.]


"Iya mah, jangan khawatir. Jaga dirimu ya sayang." Richard membalas pesan istrinya lalu menatap Rani.


Rani menjadi salah tingkah. Jantungnya berdebar kencang.


"Kenapa menatapku seperti itu? Hati-hati, nanti tergoda." Rani berkata sambil tertawa.


"Sorry. Aku bercanda," lanjut Rani.

__ADS_1


"Aku memang sudah tergoda. Bagaimana aku tidak tergoda. Kamu selalu menggodaku," ujar Richard sambil ikut tertawa.


"Pokoknya jangan sampai tergoda, nanti ada yang marah." Rani mulai berani.


"Siapa?" Richard tak melepaskan tatapannya.


"Istrimu. Lagipula mana mungkin kamu tergoda. Istrimu pasti lebih cantik dariku. Oh ya, sebenarnya aku penasaran sama istrimu. Boleh aku lihat fotonya?" Rani menggeser kursinya mendekati Richard. Richard mendadak salah tingkah.


'Nekad juga nih cewek. Sudah jelas ada maunya nih. Aku tak bisa menunjukan foto istriku. Aku pasti akan malu jika Rani sampai tahu wajah istriku. Kecantikan Rani dua kali lipat melebihi istriku.' Richard membatin. Ia berpikir keras bagaimana caranya untuk menolak permintaan Rani.


"Tidak sekarang, nanti ya. Aku pasti akan menunjukan foto istriku kepadamu. Tuh, makanannya sudah datang. Ayo kita makan dulu," ujar Richard. Terlihat seorang pelayan berjalan menghampiri meja mereka.


"Janji ya. Jangan sampai lupa." Rani berbisik lalu menggeser kembali kursinya.


Keduanya menikmati makan siang tanpa suara, hanya sesekali keduanya saling menatap dan tersenyum. Sudah jelas terlihat dari bahasa tubuh mereka bahwa mereka saling menyukai.


"Mau langsung kembali ke kantor?" Richard bertanya ketika mereka telah selesai makan.


"Aku.... Terserah kamu. Kamu sendiri yang bilang, terlambat atau tidak akan menjadi urusanmu. Aku kira kita sudah sangat terlambat untuk kembali ke kantor," jawab Rani.


'Inilah jawaban yang kutunggu.' Richard membatin sambil tersenyum.


"Baiklah. Ayo kita pergi." Richard berkata lalu berdiri. Rani ikut berdiri.


"Kemana?" Wajah Rani terlihat bingung .


"Kamu bilang terserah aku kan? Jadi, ikuti saja kemana aku pergi. Yang pasti aku tidak membawamu masuk ke jurang." Richard mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum lalu mengulurkan tangannya. Rani sedikit terkejut. Ia melihat di sekelilingnya.


"Tenang. Jangan khawatir. Tak ada siapapun disini. Ayo," ajak Richard. Rani mengulurkan tangannya. Kini tangannya digenggam erat oleh Richard. Keduanya berjalan meninggalkan restoran itu.

__ADS_1


*****


Pesan Author : Jangan mudah menyerah ketika menghadapi lelaki yang pintar berbohong. Kamu harus lebih pintar mendeteksi kebohongannya. Jangan membebani pikiranmu hanya karena seorang pengkhianat. Kamu harus tetap waras karena kamu berhak bahagia.


__ADS_2