
Emma tak dapat menahan emosinya lagi, ia tak bisa mengontrol dirinya.
Suaminya sangat kaget mendapat tamparan keras darinya, ia hanya mundur selangkah lalu duduk kembali di tepi ranjang sambil memegang pipinya.
" kamu jahat, !! sampai hati kamu membohongiku. semua janjimu adalah palsu. aku terlalu bodoh untuk mempercayaimu. Jika saja aku mempercayai suara hatiku, aku tak akan mungkin terluka lagi oleh kebohongan dan pengkhianatanmu. jawab aku..apa salahku padamu, mengapa kamu tega melakukan ini kepadaku? mengapa kamu tega menghancurkan perasaanku?"
sambil menangis Emma bertanya kepada suaminya. Tubuhnya bergetar menahan amarah, airmatanya tak bisa berhenti mengalir. Suaminya terdiam tak menjawab. Emma melangkah mendekati suaminya mengguncang guncang bahu suaminya.
" jawab aku ! jawab pertanyaanku. jangan coba membohongiku lagi pah, aku sudah terlalu sakit. aku mohon jawab aku"
Emma memaksa suaminya untuk memberikan jawaban kepadanya. Ia ingin tahun mengapa suaminya tega melakukan semua ini kepadanya. kepercayaan yang diberikan Emma kepada suaminya kini lenyap seketika berubah menjadi benci yang amat sangat. Emma berusaha meredam tangisnya, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia tak ingin suara tangisannya membangunkan anak-anaknya.
Setelah beberapa menit, suaminya akhirnya berbicara
" Kamu sudah tahu semuanya kan? kamu sudah membacanya sendiri. jadi tolong jangan pernah lagi melarang aku berhubungan dengan Tasya. Aku sangat menyayangi Tasya, aku sudah lelah dan bosan hidup denganmu. Jangan pernah menyalahkan Tasya untuk semua ini. Akulah yang bersalah karena mencintainya dan ingin memilikinya. Aku serius dengan hubunganku bersamanya. tolong jangan campuri urusanku dengan Tasya "
Richard menjawab sinis.
__ADS_1
Jantung Ema serasa berhenti berdetak. Dunia seakan runtuh, dadanya sesak mendengar semua ucapan suaminya.
Hancur, sangat hancur.
Richard, pria yang sangat dicintainya, yang sangat dihormatinya, yang tak pernah berkata kasar kepadanya, yang sangat memanjakannya, yang dibelanya mati-matian dari gunjingan orang karena perselingkuhannya, tiba-tiba berubah menjadi jahat.
Jika saja Emma tak kuat mungkin ia telah jatuh pingsan mendengar semuanya. Emma sangat terpukul, ia tak percaya suaminya sangat berani berkata begitu kepadanya. Airmatanya mengalir semakin deras. Untuk beberapa saat ia membiarkan dirinya tenggelam dalam tangisan.
Sungguh kehancuran yang tak pernah dibayangkannya sebelumnya.
******
Setelah merasa sedikit tenang, Emma mencoba membuka mulutnya untuk berbicara
" kamu jahat, kamu tega, sampai hati, apa salahku? mengapa harus aku? katakan apa salahku. aku hanya ingin tahu..setelah itu aku akan membiarkan kamu melakukan apapun yang kamu mau "
Emma berkata lirih.
__ADS_1
" sudah kubilang aku sudah lelah hidup denganmu, hanya ini alasanku. aku ingin hubungan kita berakhir sampai disini. soal anak-anak itu terserah kamu, tetapi aku akan tetap menafkahi mereka"
suaminya menjawab dengan pasti sambil mengalihkan pandangannya dari Emma.
Perkiraan Emma meleset. awalnya ia mengira suaminya mengatakan semuanya karena terbawa emosi namun ternyata ia salah. Suaminya sangat serius dengan ucapannya. Emma ingin mastikannya sekali lagi. Ia mengumpulkan segala kekuatannya dan mencoba menahan airmatanya. Ia tak ingin menangis lagi di hadapan suaminya. Namun usahanya sia-sia. Airmatanya mengalir semakin deras. Sungguh sakit yang teramat sangat Emma tak sanggup menerima kenyataan pahit ini.
" Apa kamu yakin dengan semua yang kamu ucapkan? apa kamu sudah pasti ingin mengakhiri hubungan kita? menghancurkan pernikahan kita yang sudah kita bangun selama 7tahun ini?
apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi? "
Emma mencoba untuk berbicara lagi.
" tolong jangan mempersulit aku. sudah kukatakan aku serius menyayangi Tasya dan ingin memulai hidup baru bersamanya. Aku ingin kita pisah. Aku menyayangimu tapi aku tak bisa hidup denganmu lagi. Tolong mengerti "
suaminya menjawab dengan sedikit kesal. Sungguh kejam kenyataan ini.
Emma sangat hancur, namun ia berusaha untuk tetap kuat.
__ADS_1