NALURI ISTRI

NALURI ISTRI
Antara Galau dan Cemburu


__ADS_3

Devan dan Emma saling menatap sesaat.


"Angkat telponnya dulu," ujar Devan. Emma mengangguk. Ia mengambil ponselnya dan menatap layar ponselnya sebentar lalu meletakannya kembali ke dalam tas.


"Kenapa tak diangkat?" Devan bertanya.


"Tidak penting," jawab Emma.


"Dari siapa kalau aku boleh tahu?" Devan bertanya lagi.


"Dia," jawab Emma singkat. Devan paham maksud Emma.


Devan memperlambat laju mobilnya. Rumah Emma sudah kelihatan. Beberapa saat kemudian, Devan menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Emma. Sepeda motor Richard tak ada. Itu artinya, Richard belum pulang.


"Devan, terima kasih untuk semuanya," ucap Emma.


"Terima kasih kembali, Emma. Tetap kuat ya," jawab Devan sambil mengambil tas besar milik Emma dan memberikannya kepada Emma. Emma mengucapkan terima kasih sambil tersenyum.


"Devan, soal tadi yang tidak sempat aku katakan, akan kukatakan kepadamu besok," ujar Emma.


"Tak masalah Emma. Aku mengerti. Aku pulang ya. Jaga dirimu. Sampai bertemu besok," jawab Devan.


"Devan, hati-hati ya. Kamu juga, jaga dirimu." Emma melambaikan tangannya. Devan mengangguk sambil tersenyum lalu masuk ke dalam mobilnya. Emma menatap mobil Devan sampai mobil Devan menghilang di tikungan jalan. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan lalu berjalan masuk ke rumahnya. Kedua anaknya sangat gembira menyambut kedatangannya. Setelah melepas rindu dan bermain bersama anak-anaknya, Emma beristirahat. Ia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dan memejamkan matanya. Satu persatu bayangan kejadian yang baru saja terjadi di perjalanan tadi mulai melintas kembali di dalam pikirannya. Ia juga memikirkan semua ucapan Devan. Ia termenung sejenak. Sesaat, ia membayangkan kembali kejadian-kejadian dulu, ketika suaminya beselingkuh dengan Tasya, ketika suaminya hampir meninggalkannya karena Tasya. Suaminya yang tak pernah berlaku kasar kepadanya tiba-tiba berubah menjadi kasar. Bayangan kenangan pahit itu berjejer rapi di dalam ingatannya. Ia mengingat kembali bagaimana perjuangannya untuk melewati semuanya. Ia teringat bagaimana ia harus melebarkan sabarnya dan menguatkan hatinya ketika orang-orang mencapnya sebagai istri yang bodoh hanya karena ia diam saja ketika diperlakukan tidak adil, ketika disakiti dan dikhianati suaminya.


(Mengapa kamu tidak melabrak Tasya? Mengapa kamu tidak mencaci maki wanita yang telah merusak rumah tanggamu? Mengapa kamu tak menamparnya? Mengapa kamu diam saja? Kamu bodoh, mengapa kamu tak membalas perbuatan suamimu? Mengapa kamu tidak meninggalkan saja pria pengkhianat itu? Mengapa kamu masih mau memberinya kesempatan?) Semua pertanyaan itu kembali terngiang di telinganya. Emma menarik napas dalam- dalam dan mengembuskannya perlahan. Ia mencoba membayangkan kembali ketika ia melihat suaminya menggandeng mesra wanita lain dan berbohong kepadanya.


Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Ia mengambil ponselnya dan mengeceknya. Ada pesan masuk dari seorang sahabatnya. Emma membuka pesan itu dan membacanya.

__ADS_1


[Emma, bagaimana kabarmu? Kamu dimana sekarang?]


"Aku di rumah. Kabarku baik, bagaimana denganmu?" Emma mulai membalas.


[Aku juga baik. Emma maafkan aku. Aku ingin memberitahumu sesuatu. Aku mendengar gosip kalau suamimu berselingkuh.]


Emma tidak terkejut lagi. Ia menggenggam erat ponselnya dan tidak membalas lagi pesan dari temannya. Beberapa kali ponselnya bergetar lagi namun ia enggan mengeceknya.


Ia membayangkan wajah suaminya. Wajah pria yang dulu sangat mencintainya, entah bagaimana dengan sekarang. Emma bingung. Setelah ia membayangkan semua perbuatan buruk suaminya, sekarang ia mencoba membayangkan satu persatu kebaikan suaminya terlebih kepada anak-anaknya juga bayangan wajah anak-anaknya sangat mencintai ayah mereka.


"Nobody perfect. Aku tak perlu memberitahukan kepada dunia tentang alasanku bertahan dengannya. Suatu saat nanti mereka, mereka, dan mereka yang mempersoalkan kebodohanku, yang menyesali diamku, yang meragukan kewarasanku, akan mengerti dengan sendirinya," gumam Emma.


Ketika ia melangkah keluar dari kamar, terdengar bunyi sepeda motor suaminya. Emma menahan langkahnya.


*****


"Sayang." Terdengar suara Richard memanggilnya dengan suara yang lembut. Emma tak menjawab. Ia merasakan sesuatu yang lembut di pipinya. Ia membuka matanya perlahan. Richard sedang mengecup pipinya.


"Kamu tidak tidur, sayang?" Richard bertanya. Emma beranjak bangun dan duduk. Ia menggeleng.


"Sudah tiba sejak tadi?" Richard bertanya lagi. Emma mengangguk.


"Maafkan aku, sayang. Aku tak bisa menjemputmu." Richard berkata sambil membelai rambut Emma.


"Tak masalah," jawab Emma sambil tersenyum. Senyum yang dipaksakan. Richard mengulurkan kedua tangannya dan memeluk erat tubuh Emma.


"Maafkan aku," bisik Richard.

__ADS_1


"Maaf untuk apa?" Emma bertanya.


"Karena telah membiarkanmu pulang sendiri," jawab Richard.


"Aku tidak pulang sendiri. Aku diantar oleh bossku," jawab Emma. Spontan, Richard melepaskan pelukannya. Wajahnya tiba-tiba berubah. Ia menatap Emma dalam-dalam.


"Pak Devan maksudmu?" Richard bertanya. Emma mengangguk.


"Kenapa? Mengapa wajahmu berubah?" Emma bertanya.


"Bagaimana bisa dia mengantarmu pulang? Apakah kamu memintanya?" Richard bertanya. Ia sepertinya sangat penasaran.


"Aku menunggumu terlalu lama. Aku tidak memintanya. Dia yang menawarkan untuk mengantarku pulang," jawab Emma santai. Richard menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan kasar.


"Baiklah sayang. Kamu sudah makan?" Richard bertanya. Emma menggeleng.


"Bersiaplah, kita makan di luar ya." Richard berkata sambil tersenyum. Sebenarnya Emma sangat lelah, namun ia menghargai tawaran suaminya. Ia tak bisa menolaknya.


"Baiklah. Aku akan bersiap. Aku mau mandi dulu," jawab Emma. Richard tersenyum. Emma beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamar. Richard mengendap perlahan mengikuti Emma. Ia mengintip dari balik pintu. Setelah memastikan Emma sudah masuk ke kamar mandi, Richard segera mengambil ponsel Emma.


"Syukurlah. Ponselnya tidak dikunci," gumam Richard. Ia mulai memeriksa ponsel Emma. Mulai dari panggilan, sms, whatsaap, instagram, facebook, semua diperiksanya satu persatu. Beberapa saat kemudian, ia mengerutkan keningnya.


"Tak ada yang mencurigakan. Tetapi aku harus mencari tahu lagi tentang Devan. Entah mengapa aku merasa cemburu ketika mendengar bahwa ia mengantar istriku pulang. Perasaanku jadi tidak tenang." Richard menggumam lalu meletakan kembali ponsel Emma. Ia membaringkan tubuhnya. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Ia segera mengambil ponselnya.


"Rani?" gumam Richard ketika melihat siapa yang menelponnya. Ia tak menjawab telpon Rani.


"Aku sibuk. Jangam telpon sekarang. Aku akan menelponmu." Richard mengirim pesan kepada Rani. Ia mematikan ponselnya dan meletakannya di atas meja.

__ADS_1


'Mengapa aku sangat terganggu dengan perkataan istriku tadi? Ia diantar pulang oleh bosnya? Mengapa jantungku berdebar kencang begini? Haruskah aku bilang kepadanya bahwa aku cemburu? Ah, tidak. Ini memalukan.' Richard membatin. Beberapa saat kemudian, ponsel Emma bergetar. Richard bergerak cepat. Ia segera mengambil ponsel Emma dan memeriksanya.


__ADS_2