NALURI ISTRI

NALURI ISTRI
PART 13 ( sakit )


__ADS_3

Kring..kring..kring ponsel Emma berdering, Emma segera menuju ke kamar mengambil ponselnya.


Ibu mertuanya meneleponnya, Emma melihat sekeliling untuk memastikan tak ada orang rumah di sekitarnya, ia tak mau ada orang lain yang mendengarkan pembicaraannya dengan ibu mertuanya . Ia mengunci pintu kamar dan segera menerima panggilannya.


"*hallo ma, apa kabar? "


"hallo nak..mama baik-baik saja, bagaimana denganmu? mama harap kamu sehat ya? mama sudah bicara sama Richard, mama bicara banyak hal kepadanya, dia meminta maaf kepada mama, mama sudah ingatkan dia jangan pernah melakukan hal bodoh itu. Tak ada kata PISAH diantara kalian, mama tidak akan memaafkannya jika dia bersikeras berpisah denganmu. Dia yang memilihmu menjadi istrinya, dia juga harus bertanggungjawab atas dirimu, jangan khawatir nak, tetaplah berdoa, percayalah hubungan kalian tak akan hancur semudah itu*."


Emma diam untuk beberapa saat setelah mendengar perkataan ibu mertuanya.

__ADS_1


" ma..terima kasih untuk semuanya ma, aku senang mama sudah berbicara dengan Richard aku lega ma, tapi maafkan aku ma, bukan aku tak menghargai niat baik dan usaha mama, tapi aku tak mau jika nanti Richard berubah hanya karena permintaan mama. kalaupun dia berubah aku ingin perubahan itu datang dari dirinya sendiri, dari niat hatinya, aku tidak ingin dia terpaksa karena patuh kepada mama sebagai ibu yang telah melahirkannya. Aku hanya minta mama doakan kami agar kami bisa menemukan solusi untuk semua masalah yang sedang kami hadapi. Mama..aku senang mama sudah menasehati Richard, aku berharap Richard berubah tapi seandainya ia tetap pada keputusannya, aku pasrah ma, aku kuat . Aku sangat mencintai dan menghargainya, aku akan menghargai juga pilihannya jika itu yg terbaik untuknya."


Emma menjawab sambil terisak. Emma sangat sensitif. setiap kali ada pembicaraan yang berhubungan dengan suaminya airmatanya pasti akan mengalir. Ia berusaha selalu kuat namun kenyataan berkata lain. Ia terluka semakin dalam, suaminya telah berubah bahkan semakin berubah.


Tak ada senyum, canda dan tawa lagi.


Emma hancur berantakan, hingga pada suatu hari Emma tiba-tiba pingsan dan di bawa ke rumah sakit. Saat itu suaminya tak ada di rumah. Setelah sadar ia mendapati dirinya berada di ruang IGD dan ia mencoba menghubungi suaminya hanya untuk meminta tolong menjaga anak-anak mereka. Beberapa kali ia mencoba namun nomor suaminya selalu sibuk.


Dokter menyarankan Emma untuk beristirahat sementara di rumah sakit.

__ADS_1


Ia tertidur untuk beberapa saat dan terbangun karena merasa ada yang memegang kakinya, ia membuka matanya perlahan dan melihat suaminya berdiri di tepi ranjang sambil memegang kakinya.


" sudah bangun? bagaimana kondisimu sekarang? ada apa denganmu? mengapa tiba-tiba pingsan?"


Emma diam saja. Ia tak menjawab pertanyaan suaminya, hatinya sungguh teramat sakit. Tiba-tiba suaminya mendekatinya dan berbisik,


"apakah kamu berpura pura sakit agar aku peduli padamu? agar aku kasihan padamu? tolong jangan merepotkanku, meskipun kamu benar-sakit itu tidak bisa merubah keputusanku, tolong jangan menyiksa dirimu."


Richard sungguh sangat tak berperasaan, disaat seperti ini dia masih menyakiti perasaan Emma.

__ADS_1


Emma masih terdiam, ia tetap memejamkan matanya, dadanya terasa sesak, ia berusaha untuk tetap kuat namun ia kalah, ia tak sanggup menahan sakit di hatinya,tak dapat dibendung lagi setetes demi setetes airmatanya jatuh,dan akhirnya mengalir deras. sakit bertambah sakit hatinya, untuk kesekian kalinya ia terluka lagi dan lagi.


Richard sungguh kejam, sungguh tega sebagai seorang suami. Ia benar-benar telah berubah.


__ADS_2