
Kehidupan Emma dan Richard kembali berjalan normal. Richard kembali seperti dulu, sosok romantis, penyayang dan perhatian kini kembali lagi.
Hari-hari Emma dipenuhi kebahagiaan. Hingga pada suatu hari.
Ponsel Richard berdering ketika ia sedang berada di kantor.
" Hallo? dengan siapa ini?. "
" Tak perlu tahu siapa aku, aku hanya ingin kau tahu kalau aku sangat mencintai istrimu dan aku tidak mau melihat dia menderita."
Terdengar suara pria dari seberang menjawab pertanyaan Richard dengan tegas.
" siapa anda? jika anda seorang lelaki tunjukan siapa diri anda. Tahu apa anda tentang keadaan istriku? kata siapa dia menderita?"
" Apa anda yakin istri anda bahagia bersama anda, suami yang telah mengkhianatinya habis habisan, menipunya dan melukai perasaannya? apa kamu pikir saya tidak tahu bahwa kamu masih berhubungan dengan Tasya?? meskipun hanya melalui telepon tetapi tetap saja itu adalah pengkhianatan. Jangan kamu pikir aku tak tahu apapun tentang kamu. Berhentilah berpura-pura. Jika anda tak lagi mencintai Emma, katakan atau jika anda tak bisa membahagiakannya katakan saja. Jangan membuatnya semakin menderita."
__ADS_1
Nada tegas penuh ancaman terdengar kembali.
Wajah Richard memerah menahan amarah.
" Lebih baik kau katakan siapa anda sebenarnya, karena jika sampai aku sendiri tahu siapa anda, aku tidak segan-segan membuat perhitungan denganmu, jangan mengarang cerita baru untuk menghancurkan kebahagiaan kami. Jangan sampai anda menyesal nanti."
" segera anda akan tahu siapa aku. aku mengarang cerita?? untuk apa?? aku justru punya bukti. apa anda mau kutunjukan langsung buktinya kepada Emma?? Richard, Richard, anda harusnya menjaga ucapan dan janji anda kepada Emma, anda mengatakan kebohongan kepadanya. Anda masih berhubungan dengan Tasya, yah meskipun hanya bertukar cerita, bertanya kabar tetap saja itu salah, jika Emma tahu ia akan semakin hancur dan ia tidak akan percaya kepadamu lagi. Anda sungguh tega Richard. Dengar baik-baik, kalau sampai Emma menangis lagi karena perbuatanmu aku pastikan akan membawa Emma pergi, karena aku mencintainya."
Belum sempat Richard menjawab, pria itu sudah mematikan teleponnya.
"sial, bagaimana dia tahu kalau aku masih menghubungi Tasya? tapi aku hanya bertanya kabar, tidak lebih. apa aku salah?" batin Richard
Ia mengambil ponselnya dan menelpon istrinya.
" Hallo mah?."
__ADS_1
" Hallo? pah, ada apa? sudah makan siang?"
" Eh iya mah sudah, apa mamah baik-baik saja?."
Richard sedikit gugup menjawab pertanyaan istrinya, jantungnya berdebar kencang.
" Iya pah aku baik-baik saja, ada apa pah? papah seperti menghkhawatirkan sesuatu?" selidik Emma
" Oh tidak mah, papah hanya bertanya, baiklah mah, papah lanjut kerja dulu ya, tunggu papah di rumah, love you."
" love you too papah."
Emma merasa sedikit curiga, tak biasanya Richard menghubunginya hanya untuk bertanya kabar disaat sedang bekerja.
" ah mungkin saja dia khawatir." batinnya
__ADS_1
Richard kehilangan konsentrasi, ia terdiam menatap layar ponselnya, ada pesan masuk dari pria yang menelponnya tadi.
" Bro, jaga istrimu baik-baik, jangan salahkan aku kalau aku berbuat nekad, kamu seharusnya jauhi Tasya untuk selama lamanya, meskipun hanya bertanya kabar tetap saja kamu salah. Kamu tahu kan bagaimana sikap Emma? Semoga kamu tidak menyesal. Aku jadi curiga, jangan-jangan kamu masih menginginkan Tasya."