NALURI ISTRI

NALURI ISTRI
Part 34


__ADS_3

Meskipun hatinya sedikit kacau namun Emma mampu mengendalikan dirinya, ia bersikap sangat tenang kali ini. Ia memutuskan untuk tidak mengatakan apapun kepada suaminya, ia hanya akan memantau diam-diam pergerakan suaminya. Ia ingin melihat sejauh apa suaminya melangkah. Emma tak ingin memaksa suaminya untuk berubah, Richard bukanlah anak kecil lagi yang perlu didikte setiap saat. Jika ia punya niat berubah ia akan berubah jika tidak Emma tak mau memaksa lagi. Emma memilih pasrah dan siap menerima segala kemungkinan buruk yang terjadi. Bagaimanapun juga ia hanyalah seorang manusia biasa yang punya batas kemampuan. Perjuangan demi perjuangan yang ia lalui demi mempertahankan rumah tangganya sudah sangat cukup. Bukan berarti menyerah tetapi kali ini Emma ingin melihat bagaimana perjuangan Richard memenuhi janjinya untuk memperbaiki segala keadaan yang sempat berantakan.


" aku bukan pengemis cinta juga bukan pengemis perhatian, aku juga berhak bahagia. Aku pernah memperjuangkannya kembali aku ingin tahu apakah aku diperjuangkan atau tidak. "


******


Emma menyambut suaminya pulang dari kantor, sambil tersenyum ia mengambil tas suaminya. Richard membalas senyumannya lalu mengecup kening istrinya.


" Selamat sore cintaku."


ucap Richard sambil memeluk Emma


" Selamat sore juga pah, bagaimana pekerjaan papah hari ini? apakah semua baik-baik saja?"


" aman sayang, semuanya baik-baik saja"

__ADS_1


Emma tersenyum lalu berjalan menuju ke dapur membuatkan kopi untuk suaminya. Ia membawa kopi dan beberapa potong roti buatannya untuk suaminya.


" Mah setelah ini aku mau keluar sebentar ya, aku ada urusan dengan temanku."


Richard berkata sambil meneguk kopinya.


" Urusan apa pah? " selidik Emma


" Urusan pekerjaan mah, aku akan segera pulang jika sudah selesai urusan. mamah tau kan rumahnya Jorgy juga tak jauh dari sini."


" Tentu dong sayang, kebetulan papah memang sedang lapar."


sahut Richard


" Iya tapi minum kopi dulu, rotinya juga dimakan ya pah, "

__ADS_1


Emma duduk menemani suaminya sambil memainkan ponselnya. Entah mengapa ia merasa tak percaya pada suaminya.


Dulu sebelum hadirnya Tasya di dalam kehidupan rumah tangga mereka,Emma selalu bahkan sangat percaya kepada suaminya. Namun sejak Richard mengkhianatinya kepercayaan itu seakan musnah, susah payah Emma berusaha membangun kembali kepercayaannya kepada suaminya namun sungguh sangat sulit baginya. Apapun yang dikatakan suaminya meskipun benar susah baginya untuk percaya. Ia hanya berpura-pura percaya karena tak ingin menyinggung perasaan suaminya juga tak ingin berdebat. Ia lebih memilih diam dan mengikuti namun tetap memantau. Dulu ia sangat rapuh dan mudah menangis ketika masalah datang namun tidak untuk kali ini. Rupanya rasa sakit yang dialaminya membuatnya menjadi wanita yang kuat. Dulu ia hampir tak bisa mengontrol perasaannya dan mudah menangis namun sekarang ia tangguh meski diterpa masalah.


" Aku tak ingin memperlihatkan kelemahanku lagi, karena aku tak mau kelemahanku dimanfaatkan. Aku juga tak mengerti kenapa aku tak bisa menangis setelah mengetahui suamiku masih berhubungan dengan Tasya. Mungkin diri ini sudah sampai ke puncak lelah, tak ingin apapun, hanya ingin bahagia."


" Mah..hey..apa yang sedang mamah pikirkan,?"


Emma tersentak kaget ketika Richard menepuk bahunya.


" eh iya pah, tak ada yang kupikirkan, sudah habis kopinya? mau roti lagi?"


" Belum mah, ini hampir habis, kalau masih ada rotinya, papah mau lagi tapi yang isi cokelatya mah."


" Baiklah pah, sebentar ya. "

__ADS_1


Emma beranjak ke dapur mengambil roti untuk suaminya.


__ADS_2