
Tidak mudah bagi Emma untuk melawan keinginannya. Setiap saat kata-kata ayahnya selalu terngiang di telinganya. Emma mencoba untuk berpikir kembali semuanya. Kebenciannya terhadap Tasya masih melekat erat di dalam hatinya.
Emma ingin memperjelas semuanya kepada suaminya. Seperti biasa Emma menyiapkan makan malam untuk suaminya. Richard menikmati masakan istrinya dengan sangat serius. Sunyi, sepi tanpa suara hanya bunyi sendok yang beradu dengan piring. Setelah menyelesaikan makannya dan beristirahat sejenak Richard beranjak untuk tidur.
Richard : Mah, papah mau tidur sekarang, boleh ya?
Emma : Aku mau bicara.
Richard : Boleh boleh mah, dengan senang hati papah akan mendengarkan ( sambil tersenyum penuh semangat mengambil tempat duduk di samping Emma )
__ADS_1
Emma : Bagaimana dengan keputusanmu kemarin?
Richard : Mah...sudah kukatakan aku menyesal dengan semua yang telah kukatakan, aku khilaf mah, aku tidak ingin pisah darimu, aku tarik kembali semua ucapanku. Ini tidak semudah yang kubayangkan mah. Berulang kali aku coba meyakinkan diriku mah, dan ternyata aku sangat mencintaimu dan tak akan bisa lepas darimu. Mah..berikan aku satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya.
Emma : Aku sangat mencintaimu tapi kamu sudah mengacaukan semuanya, kamu telah merusak semuanya, aku berusaha keras untuk memberikanmu satu kesempatan lagi, jujur...perasaanku padamu sudah tak seperti dulu lagi
Emma : Entahlah, tapi yang kurasakan sekarang hanyalah perasaan yang kosong, aku tak bisa menjelaskan yang pasti semakin hari perasaan cintaku, sayangku padamu seperti perlahan menghilang.
Richard : Mah..secepat inikah perasaanmu berubah? tolong mah, jangn pernah punyaa niat untuk pergi, aku tak akan bisa menerimanya mah.aku tahu aku salah mah tapi tolong mamah jangan pergi dariku.
__ADS_1
Emma : Entahlah tapi ini sesungguhnya yang kurasakan. Berikan aku waktu untuk berpikir, akan kuputuskan tetap tinggal atau pergi. silahkan kamu boleh tidur..
Richard mengangguk lemah sambil beranjak ke kamar.
Emma bukan tipe wanita yang ceroboh. Meskipun di luar sana banyak yang mempengaruhinya untuk melakukan hal-hal yang tak baik hanya untuk melampiaskan rasa sakitnya namun ia tetap memilih dia. Diamnya tak sekedar diam. Ia diam namun tetap berpikir, ia mempertimbangkan segalanya dengan baik. Ia mempertimbangkan juga semua kata-kata ayahnya. Memang ini bukan hal yang mudah. Terkadang pikirannya berubah ubah, ia kadang merasa kasihan kepada suaminya namun di satu sisi ada rasa marah, kecewa, kesal, sakit hati bersatu menjadi rasa dendam. Wanita mana yang sanggup di dalam diam ketika dibohongi, dikhianati, dicampakan, lalu kini dengan mudahnya untuk kembali. Tidak bagi Emma, hidup hanya sekali dan ia tak ingin membuang waktu dengan segala hal yang hanya memberinya kesedihan. Ia berhak bahagia. Ia ingat akan masa depan anak-anaknya. Ia tak ingin terburu-buru mengambil keputusan. Masih dingin, diam dan acuh namun di dalam hati Emma masih punya Doa dan harapan untuk suaminya. Ia percaya akan keajaiban Doa. Masih kacau,bingung dan tak terarah jalan pikiran Emma sekarang. Pikiran dan perasaanya selalu bertolak belakang. Ia butuh untuk menstabilkan emosinya.
" aku harus pergi dari sini untuk sementara waktu, pikiranku buntu jika tetap tinggal disini, aku butuh waktu agar aku tak salah mengambil keputusan "
Fix tiket sudah dibooking, masih di kota yang sama ia putuskan untuk pergi sesaat dari kampungnya. Tinggal beberapa hari lagi menuju keberangkatan.
__ADS_1