NALURI ISTRI

NALURI ISTRI
Naluri Seorang Istri


__ADS_3

Devan kembali menawarkan untuk mengantar Emma pulang. Awalnya Emma menolak dengan alasan ia akan menelpon suaminya untuk menjemputnya di bandara, namun setelah menunggu lama suaminya tidak datang juga.


"Emma, biarkan aku mengantarmu pulang," ujar Devan. Emma mengangguk pelan. Wajahnya terlihat murung. Keduannya berjalan menuju ke tempat parkir. Mobil Devan sudah ada disana, diantar oleh supirnya. Devan membuka pintu dan mempersilakan Emma untuk masuk.


"Thank you, Devan," ucap Emma lalu masuk ke dalam mobil. Devan mengangguk dan tersenyum lalu masuk ke mobil.


"Van, nyetirnya jangan ngebut ya." Emma berkata sambil melirik ke arah Devan.


"Jangan khawatir. Aku tidak akan ngebut," jawab Devan. Devan melajukan mobilnya meninggalkan bandara.


"Emma, maafkan aku jika sikapku berlebihan." Tiba-tiba terdengar suara Devan memecah kesunyian. Emma menoleh perlahan menatap Devan.


"Devan, jangan meminta maaf kepadaku. Kamu tak melakukan kesalahan. Aku yang harusnya minta maaf," jawab Emma lalu mengalihkan pandangannya ke depan.


"Terima kasih, Emma. Kamu juga tidak salah. Jadi, jangan meminta maaf, OK?" Devan berkata sambil tersenyum. Emma mengangguk. Keduanya kembali terdiam. Devan fokus menyetir sedangkan Emma mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi suaminya.


'Kamu kemana? Beberapa kali aku menelponmu dan memintamu untuk menjemputku tetapi kamu sama sekali tidak mengangkat telponku? Aku juga mengirimkan sms kepadamu namun kau tidak membalasnya. Sebenarnya, kamu ada dimana?' Emma berkata di dalam hatinya. Entah mengapa hatinya terasa sangat sakit. Pikirannya kacau. Ia merasa tidak tenang. Devan beberapa kali melirik ke arah Emma. Ia ingin sekali bertanya namun ia merasa sungkan. Ia mencoba untuk menahan rasa penasarannya.


Emma yang tak bisa menahan rasa kecewanya kepada Richard suaminya, akhirnya menangis. Bulir bening mengalir dari matanya. Dadanya terasa sesak. Ia cepat-cepat mengambil tisu dan menyeka airmatanya.


"Emma, kamu kenapa?" Devan bertanya sambil menepikan mobilnya dan berhenti. Emma menggeleng. Ia menatap kosong jauh ke depan.


"Apakah kamu sakit? Aku khawatir. Tolong katakan kepadaku apa yang terjadi," pinta Devan sambil menatap wajah Emma dalam-dalam. Emma menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan kasar.


"Aku tak apa-apa, Devan. Ayo jalan lagi," jawab Emma. Devan menyerah. Ia memutuskan untuk tidak mencari tahu lagi. Ia khawatir Emma akan tersinggung jika ia terus bertanya. Ia melajukan kembali mobilnya. Beberapa saat kemudian,


"Devan, stop! Stop!" Tiba-tiba Emma berseru. Devan terkejut dan menghentikan mobilnya dengan tiba-tiba.


"Maaf, aku membuatmu panik," ujar Emma ketika melihat wajah panik Devan. Devan menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.


"Tidak masalah. Ada apa Emma?" Devan bertanya sambil mengerutkan keningnya. Emma melihat keluat melalui kaca jendela mobil.

__ADS_1


"Devan, sepertinya aku mengenal pria itu," ujar Emma sambil menunjuk ke luar. Devan mengalihkan pandangannya ke luar. Seorang pria dan seorang wanita sedang makan di sebuah warung di pinggir jalan. Kebetulan posisi duduk mereka menghadap ke luar.


"Pria yang memakai jaket hitam itu?" Devan bertanya. Emma mengangguk.


"Siapa dia?" Devan bertanya lagi.


"Suamiku. Pri itu adalah suamiku. Dia bersama seorang wanita," jawab Emma.


"Emma, mungkin wanita itu adalah temannya," ujar Devan. Emma tak menjawab. Ia terus melihat ke warung itu. Beberapa saat kemudian, keduanya keluar dari warung. Terlihat si pria itu menggandeng tangan si wanita. Sekatika, jantung Emma bersebar kencang. lututnya terasa lemas, dadanya sesak.


"Devan, kamu lihat kan? Wanita itu bukan temannya. Lihat cara mereka bergandengan tangan. Kamu tunggu disini sebentar," ujar Emma lalu meletakan tasnya.


"Emma, tunggu," ujar Devan sambil menarik tangan Emma yang hendak membuka pintu mobil.


"Devan, tolong jangan hentikan aku," jawab Emma. Matanya berkaca-kaca. Wajahnya memerah menahan amarah. Ia mencoba melepaskan tangan Devan yang memegang erat tangannya


"Emma, please jangan keluar." Devan mempererat pegangannya.


"Emma, please. Aku mengerti perasaanmu tetapi kamu harus mencoba untuk tenang. Sabar, Emma, please. Kita akan mengikuti mereka. Kamu harus punya bukti yang kuat sebelum mengambil tindakan. Aku tahu ini tidak mudah bagimu tetapi cobalah untuk bersabar. Tenangkan dirimu." Devan berkata sambil menatap dalam-dalam wajah Emma. Emma terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Mulutnya seolah terkunci. Sesak di dadanya tak dapat ditahannya lagi. Airmatanya mengalir deras.


"Maafkan aku, Emma. Kau harus kuat. Hapus airmatamu. Lihat, mereka akan pergi. Kita harus mengikuti mereka." Devan berkata lalu melepaskan tangan Emma dan melajukan mobilnya mengikuti pria dan wanita itu.


*****


"Emma, are you okay?" Devan bertanya sambil melirik ke arah Emma. Emma mengangguk pelan sambil menyeka airmatanya dengan tisu.


"Be strong, please. Aku percaya kamu wanita yang tegar," ujar Devan.


"Thank you, Devan. I will be strong," jawab Emma.


Mobil Devan terus melaju mengikuti sepeda motor milik suami Emma di depan mereka. Tak lama kemudian, Devan menghentikan mobilnya ketika sepeda motor itu berhenti di depan sebuah butik. Pria dan wanita itu berjalan masuk ke dalam butik.

__ADS_1


"Minumlah," Devan berkata sambil memberikan sebotol air mineral kepada Emma.


"Terima kasih, Devan," ujar Emma meneguk air sambil terus menatap ke arah butik. Beberapa saat kemudian, suami Emma keluar dari butik. Ia terlihat sedang serius mengutak atik ponselnya. Beberapa saat kemudian, ponsel Emma berdering.


"Dia pasti menelponmu," ujar Devan sambil menoleh menatap Emma.


Devan mengambil botol air di tangan Emma sambil berkata.


"Angkat telponnya." Emma mengangguk dan mengambil ponselnya. Ternyata benar. Suaminya menelponnya. Ia segera menjawab telponnya.


"Hallo, mah. Maafkan aku, aku baru membaca pesanmu. Aku sangat sibuk jadi tidak tahu kalau ada telpon darimu." Terdengar suara Richard dari seberang panggilan.


"Tak masalah. Kamu dimana?" Emma menjawab dengan nada tak datar. Wajahnya terlihat tak senang.


"Aku masih di kantor, sayang. Kamu dimana sekarang? Kalau masih di bandara, aku akan menjemputmu." Richard berkata.


"Tak usah, aku sudah di jalan. Sampai bertemu nanti. Hpku lowbat. Aku akan menelponmu nanti," jawab Emma lalu mematikan telponnya dan kembali melihat suaminya yang sedang berdiri di depan butik. Richard terlihat memasukan ponselnya ke dalam saku dan berjalan masuk kembali ke dalam butik.


"Emma, sabar ya." Devan berkata sambil menatap wajah Emma. Emma mengangguk tanpa jawaban.


"Mereka sudah keluar. Ayo kita ikuti mereka," Devan berkata lalu melajukan kembali mobilnya.


"Devan, aku malu." Tiba-tiba Emma berkata sambil menoleh menatao Devan. Devan mengerutkan keningnya.


"Malu? Kenapa? Apa yang membuatmu malu?" Devan bertanya.


"Perbuatan suamiku. Aku tak pernah ingin orang lain tahu. Tetapi sekarang, kamu tahu. Aku malu," ujar Emma.


"Emma, tak masalah. Tak ada manusia yang sempurna. Tak ada rumah tangga tanpa ada masalah. Kamu harus kuat ya." Devan menjawab sambil melirik Emma dan tersenyum.


"Terima kasih, Devan," ujar Emma.

__ADS_1


"Devan, mereka berbelok arah," lanjut Emma sambil menunjuk ke depan.


__ADS_2