NALURI ISTRI

NALURI ISTRI
Berawal Dari Canda


__ADS_3

Kehidupan rumah tangga Emma dan Richard yang sudah kembali normal terlihat bahagia. Emma akhirnya mendapatkan kesempatan bekerja yang membuatnya semakin bersemangat menjalani hari-harinya apalagi dengan perubahan sikap suaminya yang menjadi lebih baik membuatnya semakin bahagia.


"Pah, aku berangkat duluan ya." kata Emma sambil mencium tangan suaminya.


"Iya mah, hati-hati di jalan ya," jawab Richard lalu mengecup kening Emma. Jarak kantor Emma tak begitu jauh dari rumah. ia pergi menggunakan sepeda motornya. Setelah Emma pergi, Richard segera bersiap untuk berangkat ke kantor. Sejak Emma bekerja, mereka mempekerjakan seorang pengasuh untuk anak-anak mereka.


Ponsel Richard berdering. Richard yang baru saja keluar dari rumahnya segera mengangkat teleponnya.


"Hallo, Rani. Ada apa?" Rani seorang karyawan magang di kantor tempat Richard bekerja, menelpon.


"Pak Richard,maaf aku terpaksa menelpon. Begini pak, rumah kita kan searah pak, motorku mogok. Apakah aku boleh menumpang sama bapak?"


Terdengar suara Rani dari seberang panggilan.


"Oh begitu. Boleh. Kebetulan aku mau berangkat sekarang. Kamu tunggu di jalan ya. Sampai ketemu." jawab Richard lalu menutup telponnya.


Richard mengendarai sepeda motornya meninggalkan rumahnya menuju ke kantornya. Ia tak lupa untuk menjemput Rani.


"Pak Richard, maaf ya aku merepotkan." Rani berkata sambil mengenakan helmnya.


"Tak masalah. Ayo, kita sudah hampir terlambat."


ujar Richard. Perjalanan menuju ke kantor tak butuh waktu yang lama. Rani mengucapkan terima kasih sekali lagi ketika tiba di kantor. Richard berjalan dengan terburu-buru. Ia langsung menuju ke ruangan meeting. Hari ini ada meeting penting.


"Syukurlah, belum terlambat." gumam Richard sambil melirik jam tangannya lalu berjalan masuk ke ruangan meeting. Ia langsung mengambil tempat duduk di pojok ruangan. Beberapa saat kemudian Rani dan beberapa temannya yang lain masuk. Rani langsung mengambil tempat duduk tepat di samping Richard.


"Boleh aku duduk disini, pak?" Rany tersenyum sambil bertanya.


"Silakan." Richard mengangguk. Selama meeting berlangsung mata Richard sekali-sekali mencuri pandang ke arah Rani. Rani sempat memerogokinya. Rani merasa tak nyaman karena ia mengenakan rok yang terlalu pendek.


"Baiklah, bagi karyawan-karyawan magang yang merasa kesulitan bisa langsung konsultasi dengan Pak Richard. Meeting hari ini selesai. Silakan kembali bekerja. Terima kasih."


Suara pak Gunawan sang Direktur terdengar tegas dan pasti. Satu persatu peserta rapat keluar dari ruangan.


"Pak Richard, tunggu." Rani berseru ketika melihat Richard berjalan keluar ruangan.


Richard mengehentikan langkahnya ketika mendengar suara Rani. Ia menoleh.


"Iya, ada apa Rani?" tanya Richard.

__ADS_1


"Bolehkah kita bicara sebentar?" tanya Rani.


"Boleh. Ke ruanganku saja." jawab Richard lalu berjalan menuju ke ruangannya disusul oleh Rani.


"Silakan duduk." ujar Richard mempersilakan Rani untuk duduk.


"Terima kasih, pak." jawab Rani lalu duduk.


"Baiklah, Rani, langsung saja. Apakah ada hal yang ingin kau sampaikan?"


Richard bertanya sembari memakai kacamatanya dan menatap layar komputer di hadapannya.


Rani terdiam sejenak. Entah mengapa ia merasa sangat gugup. Sampai Richard mengerutkan keningnya dan menatap kepadanya, ia akhirnya berbicara.


"Begini, pak. Mengenai karyawan magang. Saya dan teman-teman saya. Ada beberapa teman saya yang tempat tinggalnya cukup jauh dari kantor dan saya mendengar informasi bahwa kantor ini punya mess khusus karyawan yang tak jauh dari sini dan masih ada beberapa kamar yang belum ditempati. Mengenai hal itu, apakah teman-teman saya yang tempat tinggalnya cukup jauh bisa menempatinya? Maaf pak jika pertanyaan saya kurang berkenan."


Setelah berkata, Rani menahan napasnya. Jantungnya berdebar. Ia menatap penuh harap kepada Richard. Richard memainkan penanya. Ia berpikir sebentar kemudian menatap Rany. Rani spontan menundukan kepalanya


"Aku tidak bisa memutuskannya sekarang.. Aku akan membicarakan hal ini dengan direktur terlebih dahulu. Apakah kamu bersedia menunggu?"


Richard bertanya.


"Rani, tunggu!" Rany yang hendak berbalik menuju ke pintu keluar spontan berhenti. Ia duduk kembali.


"Ada apa, pak? Apakah aku melakukan kesalahan?" Rany bertanya dengan hati-hati.


"Tidak. Kau tidak melakukan kesalahan. Hanya saja, kamu harus lebih rilex lagi. Aku melihat kamu sangat gugup dan kelihatan takut ketika berbicara denganku. Apa kamu pikir aku ini harimau yang akan menerkammu?" Richard berkata sambil tertawa.


"Maaf pak, ya.... Siapa tahu bapak memang harimau. Eh, maaf pak aku hanya bercanda."


Rani tertawa.


"Jika aku harimau, kamu pasti sudah kuterkam sejak tadi karena aku sedang lapar."


Richard tertawa sambil menutup mulutnya.


"Kalau begitu aku harus segera pergi, aku takut diterkam sama bapak." ujar Rani yang masih tertawa, lalu menundukan kepalanya sejenak dan keluar dari ruangan Richard.


Richard menatap Rany hingga tubuh Rani menghilang di balik pintu.

__ADS_1


"Harusnya aku mengingatkannya untuk tidak mengenakan rok yang terlalu pendek, hmmm.." gumam Richard sambil tersenyum sendiri.


Hari demi hari berlalu. Rany tak lagi merasa canggung ketika berbicara dengan Richard, justru ia sering bercanda dengan Richard tanpa merasa gugup lagi. Rani yang awalnya singkan menumpang motor Richard kini malah semakin sering menumpang dengan berbagai alasan. Hingga pada suatu hari ketika keduanya pulang bersama dari kantor dan hari sudah menjelang malam, mereka terjebak hujan.


"Kita cari tempat berteduh ya?" Richard berkata sambil mengurangi laju motornya.


"Iya pak. Itu, disana ada warung. Kita berteduh disana saja," kata Rani sambil menyeka wajahnya yang mulai basah.


"Iya, ayo. sebelum hujan semakin deras."


Richard menambah kecepatan motornya agar segera sampai di warung tersebut.


"Warungnya tutup. sayang sekali." ujar Rani ketika mereka tiba di warung itu.


"Tak masalah. Kita hanya berteduh, bukan makan. Iya kan? Atau kamu lapar?" Richard mengelap bangku panjang di teras warung itu dengan sapu tangannya lalu mempersilakan Rani untuk duduk.


"Sebenarnya aku tidak lapar. Hanya saja aku ingin sesuatu yang hangat." Rani berkata sambil mengebas rambutnya yang sedikit basah.


"Seperti sebuah pelukan?" tanya Richard sambil tertawa.


"Iya, pelukan secangkir kopi panas" sahut Rani sambil ikut tertawa.


"Maaf, aku bercanda." Richard menoleh dan menatap Rani.


"Serius juga tak masalah." Rani kembali tertawa.


Wajah Richard berubah. Ia tiba-tiba menjadi salah tingkah. Ingin rasanya ia menganggap perkataan Rani hanyalah gurauan namun tak bisa.


'Entahlah, dia bergurau atau serius. Yang pasti aku merasakannya seperti sebuah sinyal.' Richard membatin sambil tersenyum sendiri.


Rani melepaskan jaketnya yang sedikit basah. Kemeja putih yang tipis dan juga agak basah mencetak tubuhnya. Richard memperhatikan Rani hampir tak berkedip.


"Pak Richard?" Suara Rani mengagetkan Richard.


"Eh, maaf. Aku melamun." jawab Richard lalu mengalihkan pandangannya.


"Menatapku seperti itu sambil melamun? Aku penasaran, apa yang sedang Pak Richard lamunkan?" tanya Rany lalu mengambil posisi duduk di samping Richard.


"Sesuatu yang tak boleh kau ketahui. ini rahasiaku." jawab Richard. Rani memasang wajah cemberut, berharap Richard mau memberitahunya, namun Richard tak mengatakan apapun lagi. Ia malah menatap tajam ke arah Rani.

__ADS_1


__ADS_2