
Setiap orang menafsirkan arti sebuah pernikahan sesuai pemikiran mereka masing-masing. menurut Emma, pernikahan adalah adalah hal yang sakral dan tak pantas dinodai. ia sangat menghargai dan menjaga janji pernikahannya dengan suaminya. Namun, sebagai manusia biasa tentunya Emma memiliki batas kesabaran ketika kesetiaannya diuji oleh masalah yang jelas ditimbulkan oleh suaminya sendiri, orang yang seharusnya menggandeng tangannya, bersama menjaga keutuhan pernikahan. ia telah berusaha untuk sabar dan kuat menghadapi semua masalah.
"Hai, Bu Emma, selamat pagi." Suara seorang pria menyapa. Emma yang sedang membersekan mejanya terkejut dan spontan menoleh ke arah pintu.
"Pak Devan? Selamat pagi juga." Emma menjawab sambil tersenyum melihat atasannya berdiri di depan pintu.
"Bagaimana kabarmu hari ini? Maaf aku telah membuatmu datang lebih pagi dari biasanya. Ayo ke ruanganku." Devan tersenyum lebar.
"Kabarku baik, Pak, terima kasih. Ayo." Emma berkata lalu berjalan menuju ke pintu. Devan membuka pintu lebih lebar dan memberi kode kepada Emma untuk keluar lebih dahulu. Emma merespon dengan anggukan dan ucapan terima kasih, lalu berjalan keluar. Devan Aldiano, direktur perusahaan tempat Emma bekerja adalah seorang pria lajang berusia 35 tahun. Ia pria yang bijaksana dan juga ia sangat baik kepada seluruh karyawannya. Ia membuat para karyawannya sangat menyayanginya dan menghargainya. Devan tak berpikir dua kali ketika Emma melamar kerja di perusahaannya karena Devan melihat niat Emma yang sangat besar, ingin bekerja untuk masa depan anak-anaknya. Masa percobaan dilalui Emma dengan sangat baik yang membuat Devan semakin percaya bahwa Emma adalah wanita pekerja keras yang memiliki kemampuan di bidang pekerjaannya.
"Silakan duduk." Devan mempersilakan Emma.
"Terima kasih," ucap Emma lalu duduk.
"Begini Bu Emma, tujuanku memintamu datang lebih awal adalah untuk membicarakan suatu hal penting denganmu. Hari ini aku harus berangkat ke Bali karena ibuku sakit, tetapi hari ini juga aku harus mengurus sesuatu yang penting mengenai perusahaan ini di kota Mataram. Aku ingin meminta bantuanmu untuk mewakili aku. Aku sangat berharap kamu bersedia membantuku." Devan berkata sambil menatap dalam-dalam wajah Emma. Emma terlihat berpikir setelah mendengar perkataan Devan.
"Pak, maafkan saya. Bukan saya menolaknya tetapi, bukankah ada Pak Bagas yang selalu mewakili Bapak untuk urusan seperti ini?" Emma bertanya dengan hati-hati. Devan tersenyum mendengar pertanyaan Emma.
__ADS_1
"Pak Bagas sedang sakit dan ia tak masuk hari ini.Aku ingin Bu Emma yang mewakili aku kali ini. Bagaimana?" Devan bertanya penuh harap. Emma mengangguk.
"Baiklah, aku bersedia." jawab Emma sambil tersenyum.
"Terima kasih Bu Emma," ucap Devan.
"Sama-sama, Pak. Aku permisi, aku harus menyiapkan segala sesuatu untuk keberangkatanku." Emma berkata lalu berdiri.
"Baiklah. Oh ya, ini file yang akan kamu butuhkan nanti," ujar Devan sambil memberikan sebuah flash disk kepada Emma. Emma menerimanya lalu sekali lagi ia pamit dan keluar dari ruangan Devan.
Emma menuju ke ruangannya, mengambil tasnya. Ia langsung pulang ke rumah. Ketika ia yiba di rumah, Richard, suaminya telah berangkat. Ponselnya bergetar.
Emma membalas pesan Devan, mengucapkan terima kasih. Ia mengecek pesan WA dan segera menelpon suaminya. Richard sedikit terkejut.
"Maaf sayang, aku tak bisa mengantarmu karena aku ada rapat penting hari ini." Terdengar suara Richard dari seberang panggilan.
"Tak masalah pah. Aku bisa sendiri. Tolong jaga anak-anak dengan baik. Aku pergi ya." Emma menyimpan ponselnya di dalam tasnya dan berjalan keluar. Ia terkejut melihat sebuah mobil di depan rumahnya. Pintu mobil itu terbuka. seorang pria keluar dari mobil.
__ADS_1
"Pak Devan?" Emma terkejut.
"Maaf Bu Emma, aku datang tanpa mengabarimu. Ayo, aku aku mengantar Bu Emma ke bandara." Devan berkata lalu membuka pintu mobil untuk Emma. Emma yang masih bingung, melangkah menuju ke mobil tanpa bicara.
"Aku ikut penerbangan sore. Jadi aku memutuskan untuk mengantar Bu Emma ke bandara karena aku tahu disini jarang ada taksi yang lewat dan suami Bu Emma pasti sedang bekerja. Sekali lagi maaf jika aku membuat Bu Emma merasa tak nyaman." Devan berkata. Ia merasa bersalah.
"Tak masalah, Pak. Aku justru berterima kasih. Sebenarnya aku juga sedang bingung tadi karena suamiku sedang sibuk dan tak bisa mengantarku," ujar Emma. Devan tersenyum.
"Maafkan aku telah merepotkan Bu Emma." Devan masih juga merasa bersalah.
"Pak Devan...."
"Bu Emma, sebentar. Maaf aku menyela. Tolong, kalau di luar kantor panggil saja Devan. Rasanya terlalu kaku," ujar Devan. Emma mengangguk.
"Baiklah, Devan. Kalau begitu aku juga punya permintaan yang sama."
"Emma, aku akan memanggilmu Emma. Aku merasa sangat kaku dengan sapaan yang terlalu resmi ketika di luar kantor. Di luar kantor kita adalah teman dan saudara, jadi sebaiknya kita saling menyapa dengan santai." Devan berkata sambil melirik ke arah Emma dan tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah, Devan. Terima kasih," ucap Emma.
"Tak masalah. Terima kasih kembali, Emma."