
Kabar perselingkuhan Richard dan Tasya sudah mulai tersebar. Ibarat buah yang busuk, disembunyikan bagaimanapun tetap tercium baunya.
Emma sudah jarang keluar rumah. Hanya sesekali ia keluar jika ada keperluan penting. Tak seperti dulu lagi, sekarang jika ia keluar ia selalu disambut dengan tatapan-tatapan dan senyum sinia dari tetangganya yang dulu pernah mengingatkannya tentang perselingkuhan suaminya.
" Mereka pasti menertawakanku, meraka pasti menganggapku bodoh telah membela suamiku dan menutup aibnya, aku harus sabar dan kuat melewati semua ini, aku harus tetap pada prinsipku, aku tak mau terpengaruh, biarlah mereka mengatakan apapun sesuka mereka aku tak peduli tapi satu yang pasti aku tidak akan membiarkan mereka mempengaruhi aku, biar bagaimanapun Richard masih berstatus suamiku, jika ia dipermalukan aku juga malu. Tak perlu semua orang tahu. Aku masih bisa menghadapi dan menyelesaikan masalah ini ."
Batin Emma.
****
Kehidupan Emma dan Richard berjalan sebagaimana biasanya. Namun masih tanpa canda dan tawa. Komunikasipun masih jarang. Beberapa kali Richard mencoba bercanda namun Emma tak sedikitpun menanggapinya. Ia seperti mati rasa. Jika sebelumnya Richard yang acuh tak acuh, cuek, diam dan jarang senyum kini sebaliknya Emma yang menjadi pendiam, jarang tersenyum dan bersikap dingin.
Emma menyadari ada yang berubah dari suaminya. Suaminya menjadi sering mengajaknya bicara meskipun Emma tak menanggapi. Emma lebih memilih diam. Ia trauma dengan kebohongan. Ia tak mau cepat percaya. Tak pernah lepas dari ingatan, selalu terngiang di tekinganya semua kata-kata suaminya yang sangat amat menyakitkan.
__ADS_1
"Aku ingin kita pisah, aku sudah lelah dan bosan hidup denganmu "
Kalimat ini selalu mengganggunya.
Hingga suatu malam ketika ia bersiap untuk tidur suaminya datang dan duduk di sampingnya.
Richard : Mah..
Emma : Kenapa?
Emma : Ada apa? Katakan saja.
Richard : Mah, maafkan aku, aku sungguh-sungguh mohon maaf, aku sudah terlalu jauh melangkah ke jalan yang salah, aku sadar aku sangat sadar sekarang, aku sudah sangat menyakitimu dan anak-anak kita. Aku mohon berilah aku kesempatan mah, aku ingin memperbaiki semuanya. Aku tidak ingin pisah darimu mah.
__ADS_1
Emma : Kesempatan dan Kepercayaan yang sudah kuberikan kepadamu adalah yang terakhir jadi sudah tak ada lagi. Aku mau tidur sekarang.
Tak peduli dengan airmata yang mengalir di pipi suaminya Emma mengambil selimutnya, berbaring , memejamkan matanya dan menyelimuti tubuhnya. Emma terlihat tak peduli namun jauh di dalam hatinya ia menangis. Emma tak tega melihat suaminya menangis,tetapi ia terpaksa tak peduli. Ia sangat mencintai suaminya, ingin rasanya ia langsung memberikan kesempatan lagi kepada suaminya sekuat hati ia menahannya. Hatinya memang lemah, cintanya yang begitu besar kepada suaminya membuatnya mudah kasihan, dan mudah memaafkan, tetapi tidak untuk kali ini. Emma mengesampingkan segala perasaannya, ia tak ingin terlalu cepat mengambil keputusan.Ia tak ingin kecewa lagi, tak ingin dibohongi lagi.
Suaminya tak beranjak dari tempat tidurnya. Emma melawan hatinya yang ingin berbalik dan melihat suaminya. Ia melanjutkan tidurnya hingga pagi tiba.
*******
Emma bangun terlambat pagi ini. Ketika ia keluar dari kamar ia melihat suaminya sedang menyuapi kedua anaknya. Emma mencium wangi sabun mandi, Ia tahu suaminya sudah memandikan anak-anak dan membuatkan nasi goreng untuk mereka. Terbersit rasa bahagia di hatinya namun ia cepat-cepat menepis rasa senang yang tiba-tiba hadir.
" pagi mah, ayo sarapan, aku sudah siapkan nasi goreng dan dadar telur untukmu "
Emma tak menjawab, ia hanya serius memperhatikan kedua anaknya yang sedang makan.
__ADS_1
" maafkan mama sayang, mama tak bermaksud mengabaikan kalian mama hanya sedang banyak pikiran, mama sangat mencintai kalian. Mama janji akan tetap kuat demi kalian, mama tahu papa kalian juga sangat mencintai kalian tapi mama sudah terlanjur kecewa dengannya, Biarkan mama menenangkan hati mama.."