NALURI ISTRI

NALURI ISTRI
Sebuah Kejutan


__ADS_3

Tak ada pernikahan yang berjalan mulus tanpa masalah. Kerjasama antara suami dan istri dalam mengatasi masalah rumah tangga sangat penting. Emma yang sudah sekian banyak memupuk kesabaran dan menahan sakit di hatinya perlahan mulai merasa hampa.


"Sayang, kamu hari ini gak kerja?" Richard bertanya ketika melihat Emma berbaring lagi setelah mandi. Emma menggeleng. ia tak menjawab. Richard yang sedang bersiap ke kantor tiba-tiba merasa sedikit khawatir. Ia melirik istrinya. Emma berbaring dengan posisi terlentang dengan. ia meletakkan tangannya dia keningnya dan memijat-mijat keningnya. Ia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Sesaat kemudian, ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Richard merasa tidak tenang. Ia segera menghampiri Emma dan duduk di sampingnya.


"Sayang, ada apa? Apakah ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?" Richard bertanya sambil menggenggam tangan Emma. Emma terdiam sesaat lalu membuka matanya dan menatap Richard.


"Aku baik-baik saja." Emma menjawab singkat.


"Sungguh?" Richard bertanya lagi. Emma mengangguk pelan.


"Tidqk ke kantor?" Richard bertanya sambil mengerutkan keningnya. Ia merasa tak tenang. Emma menggeleng.


"Aku ingin istirahat di rumah hari ini," jawab Emma. Richard terdiam sesaat lalu mengangguk. Ia menunduk dan mencium kening Emma. Emma tak merespon. Setelah Richard berangkat ke kantor, Emma bangun dan menuju ke meja kerjanya. Ia termenung sesaat lalu mulai mengetik. Sebenarnya, ia merasa lelah dan tak punya semangat untuk menjutkan tulisannya namun ia mencoba untuk kembali bersemangat karena para pembacanya sudah menunggu kelanjutan ceritanya. Ia mengetik sambil mendengarkan music favoritnya. Perlahan semangatnya kembali muncul. Ia mulai rileks dan menikmati kegiatan mengetiknya. Baru saja ia hendak berdiri untuk mengambil air minum, ponselnya berdering. Ia melirik ponselnya. Suaminya menelpon. Segera menjawab telponnya.


"Hallo," sapa Emma kepada Richard.


"Sayang, aku mengkhawatirkanmu. Apakah kamu baik-baik saja?" Suara Richard terdengar dari seberang panggilan.


"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir," jawab Emma.

__ADS_1


"Baiklah, sayang. Jangan kemana-mana. Beristirhatlah di rumah," pesan Richard kepada Emma.


"Ok. Terima kasih," jawab Emma lalu menutup telponnnya. Emma meletakan ponselnya. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.


'Entah mengapa perasaanku jadi tawar seperti ini. Di depanku kau memperlakukanku dengan baik, tetapi mengapa di belakangku kau berkhianat lagi, lagi dan lagi? Kau mungkin berpikir aku tak tahu tetapi kau salah. Aku tahu yang kau lakukan di belakangku. Sampai kapan aku harus sabar dan bertahan? Aku hanya manusia biasa.' Emma membatin lalu memijat keningnya. Ia terdiam dan menatap kosong ke luar melalui jendela. Beberapa saat kemudian, ia mengambil air minum, mematikan ponselnya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Di kantor, Devan gelisah setelah membaca pesan dari Emma. Emma meminta ijin untuk tidak masuk kantor karena merasa tak sehat. Devan mencoba menghubungi Emma namun tak bisa. Ia merasa tak tenang.


"Apakah aku harus pergi ke rumahnya? Emma, please aktifkan ponselmu. Aku sangat mengkhawatirkanmu." Devan berkata seorang diri. Setelah berpikir beberapa saat, Devan memutuskan untuk pergi ke rumah Emma. Ia membeli buah-buahan, kue dan vitamin lalu berangkat ke rumah Emma. Ketika sudah setengah perjalanan, Devan menghentikan mobilnya. ia terlihat bingung.


"Rasanya tak pantas aku melakukan hal ini. Emma sudah menikah. Harusnya aku tahu diri. Aku terlalu menuruti perasaanku tanpa mempertimbangkan hal yang lain. Baiklah, mungkin aku harus menahan diriku untuk tidak datang ke rumahnya." Devan berkata seorang diri. Ia menatap kosong jauh ke depan. Sesaat kemudian, ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan lalu memutar balik mobilnya kembali ke kantornya.


Emma tertidur di meja kerjanya. Ia sadar dan terbangun ketika ponselnya berdering. Richard, suaminya menelpon lagi. Ia mengangkat telponnya.


"Sayang, bagaimana keadaanmu. Aku tak bisa fokus kerja karena memikirkanmu. Apakah kau baik-baik saja?" Terdengar suara Richard dari seberang panggilan. Emma menyandarkan tubuhnya di kursi dan mengusap wajahnya dengan telapak tangan kirinya.


"Aku baik-baik saja. Aku baru bangun tidur," jawab Emma.


"Sayang, jangan pergi kemana-mana. Beristirahatlah di rumah. Jika kamu butuh sesuatu, bilang saja padaku, mah."

__ADS_1


Suara Richard kembali terdengar.


"Baiklah, terima kasih," jawab Emma. Setelah Richard mengakhiri panggilannya, Emma mulai berpikir.


"Hm, entah mengapa aku tiba-tiba merasa curiga. Dua kali dia menelponku dan mengatakan hal yang sama. Dia memintaku untuk tetap di rumah dan tidak pergi kemana-mana. Apakah dia sungguh peduli dan takut sesuatu yang buruk terjadi kepadaku? Ataukah ini hanyalah.... Ah, aku tak oantas berburuk sangka tetapi ini sedikit aneh karena tak biasanya dia seperti ini. Ah, entahlah tetapi sekarang aku ingin keluar sebentar. Aku bosan di rumah."


Emma berkata lalu berdiri dan berjalan keluar dari kamar.


Cuaca sangat panas siang itu. Emma sudah bersiap untuk keluar. celana jeans pendek selutut dipadukan dengan baju kaos berwarna putih. Ia terlihat cantik dengan busana santai dan make up natural. Rambutnya diikat rapi. Ia melajukan motornya meninggalkan rumahnya dan menuju ke sebuah restoran baru yang terletak di pinggir pantai. Ia mengambil tempat duduk di pojok yang langsung menghadap ke pantai. Angin pantai yang sejuk berembus pelan. Emma memesan segelas jus jeruk. Ia menunggu pesanan sambil memainkan ponselnya. Ada pesan masuk dari Devan.


[Emma, bagaimana kabarmu? Maaf, aku mengkhawatirkanmu.]


"Terima kasih, Devan. Aku baik-baik saja." Emma membalas pesan Devan. Beberapa saat kemudian, pesanan jus jeruknya datang. Emma menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan kemudian meneguk jus jeruk itu. Ia menatap ke arah pantai di hadapannya sambil sesekali melihat ponselnya. Jus jeruknya kini tinggal setengah.


'Sebaiknya aku makan siang disini saja.' Emma membatin lalu meneguk lagi jus jeruknya. Baru saja ia hendak memanggil pelayan untuk memesan makanan, tiba-tiba matanya melihat sosok pria dan wanitayang di halaman parkir restoran.


'Pria itu, bukankah ia.... Richard?" Jantung Emma berdebar kencang setelah mengenali sosok pria yang sedang menggandeng seorang wanita di halaman parkir. Emma mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya lalu kembali menatap ke halaman parkir. Kini, terlihat jelas Richard suaminya sedang menggandeng seorang wanita. Mereka sedang berjalan menuju pintu masuk restoran. Tubuh Emma lemas seketika. Jantungnya berdebar semakin kencang. Perlahan ia memalingkan wajahnya, mengambil kacamata hitam dari tasnya dan mengenakannya. Ia mengubah posisi duduknya. Ia menahan dirinya untuk tidak menoleh. Tangannya gemetar memegang gelas yang berisi jus jeruk. Sekali lagi ia meneguknya. Ia berusaha menenangkan dirinya.


'Firasatku benar.' Emma membatin. Setelah beberapa saat, kerika ia merasa sedikit tenang, ia memalingkan wajahnya perlahan.

__ADS_1


"Deg!" Jantungnya kembali berdebar cepat.


__ADS_2