
Tinggal sehari lagi Emma berangkat. Ia tak mempersiapkan banyak hal, hanya meyimpan beberapa lembar pakaian ddalam sebuah ransel yang berukuran sedang. Ia tak berencana untuk tinggal lama, ia sudah membicarakan keberangkatannya dengan kedua orangtuanya dan ia menitipkan anak-anaknya kepada ibunya.
Di malam hari, ketika anak-anaknya sudah tertidur lelap, Emma membereskan beberapa barang bawaannya.
" apa yg kamu lakukan mah? mau kemana? kenapa tak membicarakan ini denganku terlebih dahulu?"
Tiba-tiba suaminya muncul di hadapannya. Emma setengah kaget melihat suaminya sekaligus mendengar pertanyaan yang bertubi-tubi dari suaminya. Ia terdiam untuk beberapa saat.
" Tak perlu tahu kemana aku pergi, toh kamu juga tidak akan peduli. Biarkan aku melakukan apapun yang ingin kulakukan, jangan menghalangiku, please."
__ADS_1
Richard menatap dalam-dalam wajah istrinya, tak ada kata yang terucap, ia memegang kepalanya,memukul mukul kepalanya dengan kepalan tangannya, terlihat ia menahan amarah. Ia berusaha menenangkan dirinya.
Richard : " kamu tidak bisa pergi begitu saja, bagaimana dengan anak-anak? Mereka akan mencarimu, tak apa jika kamu tak memikirkanku tapi tolong pikirkan anak-anak. Mereka masih membutuhkanmu."
Emma : aku sudah memberitahu anak-anak. Kamu sendiri pernah bilang kamu bisa menjaga dan merawat anak-anak meski tanpaku, jadi jangan menahanku. Aku melakukan ini bukan untuk diriku tetapi untukmu, agar kau bebas melakukan apapun yang kau mau tanpa ada yang melarang atau mengontrolmu, bukankah ini baik untukmu? aku pikir kamu akan senang dengan kepergianku, karena bagaimanapun juga kamu sendiri yang pernah memintaku untuk pergi."
Richard : " Tolong jangan mengungkit semua kesalahanku, aku tahu aku salah tapi aku mohon jangan mengungkit lagi, aku berniat untuk beubah dan aku sedang berusaha memperbaiki semuanya, beri aku waktu, aku akan melakukan apapun untuk menebus semua kesalahanku, tapi tolong jangan pergi, aku tidak ingin melihat anak-anak sedih, tinggalah demi mereka, aku mohon."
Emma : " aku juga butuh waktu untuk memperbaiki hatiku yang telah hancur, entah bisa kembali utuh atau tidak aku tak tahu, aku hanya ingin mencoba, aku tak mau terluka lagi dan lagi. Aku pernah berjuang untuk memperbaiki keadaan kita namun kamu sendiri yang merusaknya lagi dan lagi. sekarang silahkan jika kamu ingin memperbaiki, aku hanya akan diam dan melihat, aku tak akan berjuang lagi, yang kuperjuangkan sekarang adalah untuk menyembuhkan luka di hatiku agar aku tak menjadi gila karena semua masalah ini."
__ADS_1
Emma melepas paksa genggaman tangan Richard. Disaat itu airmata Richard mengalir deras. Ia tertunduk dan menangis.
Richard : " Pergilah aku tak akan menahanmu lagi, tapi maaf jika aku juga akan pergi untuk selamanya karena tak ada gunanya lagi aku hidup."
Skakmat..!! Richard tahu kelemahan Emma. Dan Emma tahu betul karakter Richard. Richard sangat nekad dan kalau sudah begini Emma pasti akan kalah, bukan karena lemah namun Emma tahu Richard akan melakukan apapun jika ia sedang stress. Emma tahu betul watak suaminya.
Emma : " jangan mengancamku, karena itu tak akan mempan lagi, aku tak peduli lagi. Kamu berani bahkan sangat berani berkhianat tetapi kamu tidak berani menanggung resikonya. Pengecut !!
selsesaikanlah dengan cara yang terhormat jika kamu memang berniat untuk berubah tetapi jika begini caranya berarti kamu tak benar-benar ingin berubah."
__ADS_1
Emma berharap ucapannya bisa merubah semuanya. Ia berharap Richard akan membiarkannya pergi dan tak akan melakukan hal-hal buruk yang menyusahkan dirinya sendiri, tapi ternyata Emma salah.
Richard : " Kamu sangat tahu bagaimana aku. aku tidak akan mengatakannya dua kali. Silahkan, kamu bebas memilih, tak akan ku larang dan tak akan kutahan,"