
"Kita pulang ke kantor ya?" ujar Richard.
"Terserah," jawab Rani sambil melepaskan genggaman tangan Richard. Ia terlihat kesal.
"Kamu marah?" Richard bertanya. Ia menatap dalam-dalam wajah Rani.
"Tidak." Rani menjawab singkat. Ia tak menatap wajah Richard. Richard tahu bahwa sebenarnya Rani marah. Wajah Rani tak bisa berbohong.
"Nanti sore kita kita jalan-jalan ya. Aku janji. Nanti aku jemput. Sekarang kita harus kembali ke kantor dulu. Kita hanya terlambat beberapa menit. Jangan khawatir." Richard meyakinkan Rani. Rani menatap Richard lalu mengangguk.
"Baiklah. Jangan ingkar janji ya," jawab Rani dengan wajah cemberut. Richard mencubit pipi Rani.
"Untuk gadis secantik kamu, aku tak akan ingkar janji." Richard mengedipkan sebelah matanya. Rani tersenyum. Keduanya lalu kembali ke kantor. Mereka tak tahu, di seberang jalan ada sepasang mata yang sedang melihat mereka. Di dalam perjalanan keduanya terdiam. Richard mengulurkan tangannya ke belakang memegang tangan Rani dan meletakannya di pinggangnya. Rani tak protes. Ia pasrah. kedua tangannya kini memeluk erat pinggang Richard.
"Richard, aku takut ada yang melihat kita." Rani berkata.
"Jangan takut. Santai saja," jawab Richard. Tak ada lagi pembicaraan sampai keduanya tiba di kantor. Rani lebih dahulu masuk ke kantor. Richard sengaja menunggu di luar. Beberapa saat kemudian ia masuk.
"Jangan mengatakan kepada siapapun kalau kita makan siang bersama." Richard mengirim pesan kepada Rani.
[Iya. Aku tak akan mengatakannya kepada siapapun. Jangan lupa janjimu. Tetapi aku tidak mau mendapat masalah dari istrimu. Aku tak mau ia salah paham, jadi pastikan. semuanya aman.] Rani membalas.
"Istriku tak ada di rumah. Kamu jangan khawatir. Aku ingin menanyakan satu hal kepadamu. Apakah kamu menyukaiku? Tolong jawab dengan jujur."
[Aku tahu ini tidak pantas aku katakan karena kamu sudah menikah. Tetapi jujur, aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu. Maaf kalau perasaanku ini salah.]
"Hmm, aku bisa tahu dari matamu kalau kamu menyukaiku. Perasaanmu tidak salah. Itu adalah hal yang wajar."
__ADS_1
[Sungguh? Aku jadi malu. Tetapi, mungkin aku harus melupakan perasaanku.]
"Kenapa kamu berkata begitu?"
[Karena aku tahu perasaanku bertepuk sebelah tangan. Apalagi kamu sudah menikah. Maafkan aku, aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan. Sekarang aku sudah lega.]
"Siapa bilang perasaanmu bertepuk sebelah tangan? Aku juga menyukaimu. Kamu harus bertanggung jawab karena telah membuatku jatuh cinta kepadamu."
Hati Rani berbunga-bunga membaca pesan dari Richard. Ia tersenyum sendiri ketika tahu bahwa ternyata Richard juga menyukainya bahkan Richard jatuh cinta kepadanya.
[Serius, kamu juga menyukaiku? Bertanggung jawab? Bagaimana caranya?]
"Aku ingin kamu menjadi kekasihku dan aku tidak terima penolakan. Aku serius, aku menyukaimu bahkan mencintaimu."
[Bagaimana dengan istrimu? Apakah aku hanya akan menjadi selingkuhanmu?]
"Jangan pikirkan soal istriku. Dia akan menjadi urusanku. Aku bisa mengatur semuanya jika kau mau menjadi kekasihku."
"Terima kasih sayang. Nanti sore aku jemput. Masih ada banyak hal yang ingin aku katakan kepadamu. I love you, Rani Permatasari."
"I love you too sayang. Sampai ketemu nanti sore. Jangan lupa hapus semua pesan."
Rani sangat bahagia. Ia tersenyum sendiri. Pria yang sangat dikaguminya, yang sangat disukainya kini menjadi kekasihnya. Awalnya Rani khawatir karena Richard telah menikah namun kini ia sepertinya tak peduli lagi.
'Aku yakin semuanya akan baik-baik saja, karena aku akan berhati-hati. Aku percaya Richard bisa menjaga semua ini dari istrinya. Di luar sana banyak yang berselingkuh, bukan cuma aku. Lagipula aku dan Richard saling mencintai. Bagiku cinta tak pernah salah. Lagian aku yakin Richard punya alasan tersendiri. Bisa jadi karena istrinya yang mungkin sudah kurang menarik atau mungkin istrinya tidak bisa membahagiakannya. Ah, aku tak sabar menunggu sore. Aku harus menanyakan tentang hubungannya dengan istrinya.' Rani membatin.
*****
__ADS_1
[Dev, ada penerbangan malam. Aku tak jadi menginap, aku akan langsung pulang.]
Emma mengirim pesan kepada Devan. Ia baru selesai mengikuti pertemuan penting. Ponselnya berdering. Devan menelpon.
"Emma, cuaca sedang tak baik. Aku tak mau kamu pulang malam ini. Besok pagi saja." Terdengar suara Devan dari seberang panggilan. Emma terdiam sejenak. Ia melihat keluar melalui jendela kamar hotel. Di luar sedang gerimis di luar. Emma mengalah.
"Baiklah Devan. Tak masalah. Besok pagi saja," jawab Emma.
"Ok. Kamu sudah makan?" tanya Devan.
"Belum. Aku tadi tidak sempat makan siang karena harus buru-buru menginput beberapa data penting. Masih gerimis di luar. Aku belum bisa keluar untuk mencari makan. Nanti saja ,sekalian malam" jawab Emma.
"Tetap disitu. Jangan kemana-mana." Devan berkata lalu memutuskan panggilannya. Emma bingung. Ia tak mengerti maksud Devan, namun ia memilih untuk tidak peduli. Ia meletakan ponselnya dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Beberapa saat kemudian ia terlihat sudah rapi dan cantik dalam balutan dress santai motif bunga selutut. Mesipun sudah memiliki dua anak namun Emma masih terlihat awet. Penampilannya sederhana namun elegan. Ia juga suka berdandan namun ia lebih cenderung menggunakan make up natural. Rambutnya ikal sepinggang dibiarkannya terurai. Ia memiliki postur tubuh tinggi dengan bentuk tubuh yang ideal. Kulitnya kuning langsat. Jika diperhatikan dengan saksama, Emma memiliki mata yang indah dan bentuk bibir yang bisa terbilang seksi.
Ia duduk di atas ranjang sambil melihat ke luar jendela, berharap gerimis segera reda. Ia sudah merasa lapar. Sambil menunggu, ia mencoba menelpon suaminya. Beberapa kali ia mencoba namun ponsel suaminya tidak aktif. Ia mencoba menelpon pembantunya.
"Bi, apakah papahnya anak-anak belum pulang kantor?" Karena khawatir, Emma langsung bertanya ketika pembantunya mengangkat telponnya.
"Sudah sejak tadi bu, tetapi bapak pergi lagi." Terdengar suara pembantunya menjawab.
"Baiklah bi, terima kasih. Aku akan pulang besok pagi. Tolong jaga anak-anak ya bi," ujar Emma lalu mengakhiri panggilannya. Ia merasa gelisah. Ia kembali menghubungi suaminya namun sia-sia. Ponsel suaminya masih juga tak aktif.
'Entah mengapa hatiku merasa tak tenang. Tidak biasanya ia mematikan ponselnya. Ia juga selalu memberitahuku kemanapun ia pergi.' Emma membatin. Seketika bayangan masa lalu yang menyakitkan terlintas di dalam pikirannya.
"Jangan lagi, Tuhan. Kuharap jangan. Aku trauma. Aku lelah. Aku hanya ingin hidup bahagia." Emma berkata lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Ia berusaha untuk berpikiran positif. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa suaminya telah berubah.
"Aku tak boleh menduga yang tidak-tidak. Selama ini, setelah kejadian itu aku telah melihat banyak perubahan dan aku juga tak pernah melihat hal aneh seperti dulu. Ponselnya juga sering kulihat dan aku tak menemukan apapun. Baiklah, untuk sementara aku akan menunggu. Semoga suamiku baik-baik saja, dimanapun ia berada."
__ADS_1
Menunggu gerimis yang tak kunjung reda membuat Emma mengantuk. Ia berencana untuk tidur sebentar. Baru saja Emma membaringkan tubuhnya terdengar suara ketuka di pintu kamarnya.
Tok, tok, tok....