
Hari sudah tengah malam. Richard masih duduk terdiam di atas ranjang sedangkan Emma yang telah menyudahi tangisnya kembali ke meja kerjanya. Setelah cukup lama mengetik, Emma mematikan laptopnya dan bersandar di kursi lalu memejamkan matanya. Richard yang melihat hal itu segera berdiri dan menghampiri Emma.
"Mah, jangan disitu. Tidur saja di ranjang biar aku yang tidur di kursi," ujar Richard dengan nada pelan. Emma tak menjawab. Ia bamgun dan berjalan menuju ke ranjang lalu mengempaskan tubuhnya. Richard tak banyak berkomentar. Ia memilih untuk tidur di kursi. Ketika Richard sudah hampir terlelap, tiba-tiba ia terkejut ketika merasa bahunya disentuh. Richard segera membuka matanya dan terkejut melihat Emma sedang berdiri di hadapannya. Ia segera berdiri dan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Ayo, tidur di ranjang, jangan disini," ujar Emma dengan nada datar. Richard sangat gembira mendengar ucapan Emma namun ia berusaha untuk bersikap biasa saja. Ia mengangguk lalu segera menuju ke ranjang. Emma menyusulnya lalu mengambil posisi tidur membelakangi Richard.
"Ini bukan berarti aku telah melupakan semuanya. Aku hanya merasa kasihan kepadamu karena kamu tak terbiasa tidur di kursi. Kalau aku sudah terbiasa karena aku sering melakukannya ketika menunggumu yang selalu pulang larut malam," ujar Emma lalu menyelimuti tubuhnya. Richard sedikit terkejut mendengar perkataan Emma. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
"Ya, aku tahu, mah. Ini adalah kesalahanku, tetapi sampai kapan kamu menyiksaku seperti ini, mah? Please, i am very sorry. Aku tahu ini tidak mudah bagimu tetapi tolong berikan aku kesempatan terakhir," ujar Richard.
"Enak ya jadi kamu. Minta maaf hari ini besok ulangi lagi kesalahan yang sama, lalu minta maaf lagi, ulangi lagi, lagi dan lagi. Kalau dulu aku masih diam dan mengikuti alurmu itu karena aku menghargai kamu. Tetapi sekarang, aku sudah jenuh. Kamu sendiri tidak menghargai diri kamu sendiri dengan terus melakukan kesalahan yang sama jadi aku anggap kamu memang dengan sengaja ingin meninggalkan aku." Emma berkata dengan suara pelan namun tegas.
"Mah, aku sudah tak punya kata-kata lagi. Kamu juga pasti sudah tak mau lagi mendengarkan penjelasanku. Sekarang, aku pasrah. Aku siap menerima segala resiko," jawab Richard pelan. Emma menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan kasar lalu memejamkan matanya.
"Tidurlah, aku lelah," ujar Emma.
__ADS_1
Richard terdiam lalu memejamkan matanya. Mereka melewati malam itu dengan pikirannya masing-masing, membawa amarah, kecewa, kesedihan dan kegelisahan bersama mimpi malam mereka.
Keesokan harinya, ketika Emma bersiap ke kantor, Richard menawarkan untuk mengantar Emma ke kantor namun Emma menolak.
"Kamu tidak kerja?" tanya Emma. Richard menggeleng.
"Aku istirahat hari ini, mah," jawab Richard.
"Aku pergi," ujar Emma lalu menstater sepeda motornya.
"Thank you. Aku bisa sendiri," jawab Emma lalu melajukan sepeda motornya meninggalkan Richard. Sepeninggal Emma ke kantor, Richard mulai mengurus pekerjaan rumah. Ia melarang pembantu di rumahnya untuk bekerja. Ia mulai membersihkan rumah, mencuci dan memasak. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Ia segera memeriksanya.
"Rany? Ada apa dia menelponku?" gumam Richard ketika melihat nama Rany muncul di layar ponselnya. Awalnya ia berniat untuk mengabaikan telpon dari Rany tetapi karena Rany terus saja menelponnya ia merasa penasaran dan akhirnya ia menjawab telpon Rany.
"Hallo?" ucap Richard.
__ADS_1
"Kamu dimana? Mengapa kamu tidak ada di kantor?" Suara Rany terdengar dari seberang panggilan.
"Bukan urusanmu. Berhenti menghubungi aku," jawab Richard ketus.
"Apakah kau yakin? Apakah kau benar-benar ingin aku berhenti menghubungimu? Atau karena kau takut kepada istrimu? Kau pria menyedihkan dan pengecut. Jangan berpikir aku akan diam saja setelah kau dan istrimu mempermalukan aku. Kau tak akan bisa lepas dariku. Kau tak bisa meninggalkanku begitu saja, tuan Richard," jawab Rany.
"Katakan, apa maumu, Rany? Aku tak punya waktu untuk mendengarkan semua perkataanmu." Nada suara Richard semakin meninggi
Suara tawa Rany terdengar jelas di seberangpanggilan ketika mendengar perkataan Richard.
"Aku mau kamu! Hanya kamu!" jawab Rany.
"Gila kamu, Ran. Aku tak mau membuat masalah lagi," ujar Richard.
"Tuan Richard yang terhormat, jadi kau pikir aku akan diam dan membiarkanmu menyakiti aku? Kita lihat saja nanti apakah kamu bisa pergi dariku atau tidak. Aku yakin tentu kau tidak akan mempertaruhkan reputasimu, bukan? Aku menunggumu di kantor sekarang juga," ujar Rany lalu memutuskan panggilannya. Richard mengacak kasar rambutnya. Wajahmya memerah dan rahangnya mengembang. Ia terlihat sedang menahan emosinya. Ia segera membereskan pekerjaannya lalu pergi ke kantor.
__ADS_1