NALURI ISTRI

NALURI ISTRI
Terbongkarnya Rahasia Perselingkuhan


__ADS_3

Tak jauh di belakang Emma, terlihat Richard dan wanita yang datang bersamanya sudah meja di dekat pintu masuk. Posisi. duduk Richard menyamping menghadap wanita itu. Keduanya terlihat sangat asyik mengobrol. Sekali-sekali keduanya tertawa. Emma melihat ke arah mereka untuk beberapa saat namun mereka sama sekali tidak menyadarinya. Emma memalingkan wajahnya. Pikirannya sudah tidak tenang lagi. Ia sudah kehilangan selera makan. Rencannya untuk memesan makanan dibatalkannya.


'Aku kira aku tak akan merasa sakit hati lagi ketika melihatnya berkhianat, tetapi ternyata aku salah. Hatiku ini seperti ditusuk ribuan jarum. Ini terlalu sakit. Aku bahkan hampir tak bisa menelan salivaku sendiri. Dadaku terasa sangat sesak."


Emma membatin lalu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Kali ini, rasa sakit di hatinya lebih besar daripada amarahnya. Ia melirik sekelilingnya. Ada banyak orang di restoran itu. Ia mencoba menenangkan dirinya meskipun sangat sulit. Ia mengubah posisi duduknya seperti semula, menghadap ke pantai. Kini, ia bisa melirik suaminya dan wanita itu tanpa harus memalingkan wajahnya lagi.


'Haruskah aku menghampiri mereka dan melabrak mereka? Haruskah aku mencaci maki mereka, meluapkan semua amarahku dan mempermalukan mereka disini?' Emma dilema. Ingin rasanya ia segera pergi dari tempat itu namun hatinya mendua. Saking asyiknya bercerita dengan wanita yang sebenarnya adalah Rani, Richard tak menyadari bahwa istrinya ada di dalam restoran yang sama, bahkan sedang melihatnya. Ia dan Rani sedang menikmati makanan mereka.


'Baiklah, aku harus bisa menahan emosiku. Aku akan bermain dengan rapi. Richard, ayo lihat apa yang bisa dilakukan oleh istrimu yang menyedihkan ini untukmu.' Emma membatin sambil tersenyum. Senyum pahit yang terpaksa.


Richard dan Rani itu santai menikmati makanan tanpa beban. Emma menunggu sampai keduanya selesai makan. Richard belum menyadari bahwa istrinya ada di restoran itu. Ia terlalu asyik dengan wanita yang ada di sampingnya. Emma mencoba menenangkan diri, menguatkan hatinya lalu berdiri. Ia tak melepaskan kacamata hitamnya. Ia melangkah pasti melewati orang-orang yang sedang menikmati makanan dan bercengkrama gembira dan tertawa. Emma melewati meja Richard dan Rani. Richard yang sedang asyik memainkan ponselnya sama sekali tidak melihat istrinya.


"Mba, ini uangnya." Emma berkata sambil menyerahkan dua lembar uang kertas. Wanita muda yang cantik yang berdiri di meja kasir itu tersenyum sambil menerima uang yang diberikan oleh Emma.


"Ini terlalu banyak kak," jawab gadis itu sambil mengembalikan selembar uang kepada Emma.


"Aku sekalian mau bayar untuk dua orang di meja enam itu," jawab Emma sambil melirik ke arah Richard dan Rani.


"Baik kak, sebentar ya. Aku hitung dulu," jawab gadis itu sambil tersenyum. Emma mengangguk. Ia melirik ke arah suaminya. Richard dan Rani terlihat sedang bersiap-siap untuk pergi.


Emma menahan napas. Jantungnya kembali berdebar kencang. Setelah gadis itu menyerahkan uang kembalian, Emma segera bergegas keluar dari restoran itu.


"Mba, berapa semuanya?" Richard bertanya kepada kasir itu.


"Maaf, Pak. Sudah dibayar," jawab kasir itu sambil tersenyum.


"Sudah dibayar? Sama siapa?" Richard bertanya sambil melirik ke arah Rani. Rani menggeleng. Keduanya terlihat bingung.


"Wanita itu yang membayarnya," jawab kasir itu sambil menunjuk ke luar restoran. Spontan, Richard dan Rani melihat ke luar. Emma yang berjalan menuju halaman parkir menoleh sesaat. Ia melihat Richard dan Rani sedang melihat ke arahnya. Richard sangat terkejut. Jantungnya berdebar kencang. Ia panik.

__ADS_1


"Rani, kamu tunggu disini sebentar," ujar Richard lalu berlari keluar restoran. Ia langsung menghampiri Emma dan menarik pelan tangan Emma yang sedang berjalan. Emma menghentikan langkahnya dan memalingkan wajahnya. Di balik kacamata hitamnya, matanya sudah berkaca-kaca.


*****


Emma berusaha menguatkan hatinya.


"Sayang? Maafkan aku. Aku...."


"Yang seharusnya kamu panggil sayang itu dia yang disana, bukan aku."


Belum sempat Richard melanjutkan perkataannya, Emma menyela sambil menunjuk ke arah Rani yang sedang melihat dari kejauhan. Ia melepaskan tangan Richard yang memegang erat tangannya.


"Sayang, aku mohon, jangan ribut disini. Aku bisa menjelaskan semuanya. Ayo kita pulang. Aku akui, aku salah. Maafkan aku."


Richard berkata dengan nada memelas. Wajahnya memerah menahan malu.


"Ribut disini? Jangan khawatir, aku tidak akan melakukan hal itu. Aku tidak ingin membuang waktuku untuk mengurus hal tak berguna dan membosankan ini. Pergilah dan urus wanitamu. Aku akan baik-baik saja tanpamu. Satu lagi, aku tak butuh penjelasan apapun lagi darimu karena bukti yang kulihat dengan kedua mataku ini sudah cukup jelas."


"Mah, tunggu!" Richard berseru dan kembali menarik tangan Emma. Disaat itu Rani datang menghampiri mereka.


"Ada apa ini?"


Rani bertanya sambil melotot tajam ke arah Richard. Emma berusaha melepaskan tangan Richard namun Richard menahan tangan Emma sekuat mungkin.


"Ini bukan urusanmu, Rani.Tolong tinggalkan kami," jawab Richard.


"Apa-apaan ini? Kenapa kamu berkata begitu kepadaku? Siapa wanita ini? Apakah dia...."


"Tolong, bawa pergi kekasihmu," ujar Emma kepada Rani.

__ADS_1


"Tidak. Rani, tolong pergi," pinta Richard sekali lagi.


"Kalian membuatku bingung. Sda apa sebenarnya? Siapa kau?" Rani mulai kesal dan bertanya kepada Emma. Emma tak segera menjawab. Ia menatap Richard.


" Kau mau menjawabnya atau aku?"


Emma bertanya kepada Richard. Richard terdiam sesaat lalu menggeleng.


"Aku adalah istri sah Richard, kekasihmu."


Emma menjawab sambil menatap Rani. Rani sangat terkejut mendengar pengakuan Emma. Seketika, Rani menjadi salah tingkah. Richard mengacak kasar rambutnya, menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan kasar.


"Biarkan aku pergi. Kau harus bertanggungjawab mengantarnya pulang. Kau tak bisa membiarkannya sendirian disini. Tolong, lepaskan tanganku," ujar Emma. Richard. Richard terdiam sesaat lalu melepaskan tangan Emma. Tanpa banyak bicara lagi, Emma berbalik lalu pergi meninggalkan Richard dan Rani. Rani terdiam menatap kepergian Emma. Richard menunduk dan memijat keningnya.


"Seharusnya kau tak kesini," ujar Richard lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Jadi sekarang, kamu mulai menyalahkan aku? Bagaimana aku bisa tahu kalau dia itu istrimu sedangkan kamu bilang padaku bahwa istrimu jelek tak terurus dan kampungan, padahal kenyataannya sangat jauh berbeda. Atau jangan-jangan aku tertipu. Bisa jadi wanita tadi memang bukan istrimu tetapi selingkuhanmu yang lain yang mengaku-ngaku sebagai istrimu." Rani berkata sambil menatap wajah Richard dalam-dalam. Ia terlihat sangat kesal. Richard mengangkat wajahnya perlahan.


"Jangan membuatku semakin pusing dengan tuduhanmu yang tak masuk akal itu, Rani."


Richard berkata lalu berjalan meninggalkan Rani.


"Richard! Richard tunggu!" Rani berlari mengejar Richard.


"Ada apa lagi? Kau bisa pulang sendiri, kan?"


Richard bertanya. Rani menggeleng dengan cepat.


"Tidak, aku tak mau pulang sendiri. Kau harus mengantarku pulang. Kau tak bisa meninggalkanku disini," ujar Rani sambil menarik tangan Richard.

__ADS_1


Dari kejauhan, Emma ternyata masih disana menatap perdebatan Richard dan Rani. Ia tersenyum getir lalu melajukan sepeda motornya meninggalkan tempat itu.


__ADS_2