
Setelah makan malam, Richard dan Emma bersenda gurau di ruang tamu, banyak hal yang mereka bicarakan, ada senyum dan tawa disana.
" Pah...aku mau bertanya, boleh kan?"
Emma beranjak duduk tepat disamping Richard.
" Boleh sayang, Ada apa?."
Richard membalas sambil mengelus rambut Emma lalu mengecup pipinya.
" aku merasa ada yang aneh hari ini, sikap papah aneh."
" Maksud mamah? sikap papah yang mana? coba jelaskan mah, papah merasa tidak ada yang aneh."
Richard menjawab dengan tenang, meskipun jantingnya berdebar kencang ia berusaha bersikap normal.
" Entahlah pah, mungkin ini hanya perasaanku saja, ya sudah lupakan ya pah."
Emma enggan menjelaskan apapun. Ia tak ingin berdebat.
__ADS_1
" Baiklah mah, jangan terlalu berpikiran negatif ya mah, papah baik-baik saja. ayo kita tidur mah, besok papah masih harus ke kantor."
" Papah duluan saja, mamah mau lanjut menyeterika pakaian."
" Ya sudah papah duluan ya, jangan dipaksa kalau capek mah,"
Richard lalu masuk ke kamar meninggalkan Emma di ruang tamu. Ema bergegas menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda. Setelah hampir satu jam akhirnya Emma selesai menyetrika.
Ia masuk ke kamar dan melihat suaminya tertidur pulas. Ia melihat ponsel suaminya tergeletak di atas meja kamar, timbul rasa penasaran, lalu pelan-pelan ia mengambil ponsel suaminya, mengecek satu persatu. tak ada yang mencurigakan, ia mengecek panggilan. Hanya ada satu panggilan dengan nomor tanpa nama. Awalnya ia membiarkan saja tetapi kemudian ia mencatat nomor tersebut di ponselnya dan menyimpannya. Ia meletakan kembali ponsel suaminya lalu tidur. Richard memang pintar menyembunyikan sesuatu namun naluri istrinya sangat tajam.
Ia lupa menghapus panggilan dari Tasya.
Keesokan harinya seperti biasa Emma menyiapkan segala keperluan suaminya, ia menyiapkan sarapan utuk suaminya, Sementara Richard bersiap ke kantor.
" Mah..aku berangkat dulu ya."
pamit Richard kepada Emma setelah menyelesaikan sarapannya.
" Iya pah..hati-hati di jalan ya. jangan lupa kabari aku kalau sudah tiba di kantor."
__ADS_1
" tentu sayang, jaga dirimu ya."
Jawab Richard lalu mengecup kening istrinya. Setelah Richard berangkat seperti biasa Emma menyelesaikan pekerjaan rumah. Setelah beres ia bersantai menikmati teh hangat dan roti buatannya sendiri, sambil memainkan ponselnya. Tiba-tiba ia teringat nomor yang ia ambil semalam dari ponsel suaminya.
" Aku penasaran ini nomor siapa ya? aku akn mencoba menelepon."
batin Emma lalu menelpon nomor tersebut. Setelah beberapa saat terdengar suara perempuan menjawab
" Hallo? dengan siapa ini?
Deg...jantung Emma seakan berhenti. Ia sangat mengenal suara itu. Emma langsung memutuskan panggilannya.
"Tasya??? suamiku??? mereka masih berhubungan?? firasatku kemarin memang tidak salah."
Dadanya terasa sesak..hatinya sakit namun ia berusaha menenangkan dirinya. Ia mencoba untuk tidak berprasangka buruk. Sekuat hati ia menahan tangisnya dan mencoba berpikiran positif.
" Aku tidak boleh terlalu cepat menuduh Richard, aku harus mencari tahu terlebih dahulu, tetapi kenapa Richard tega membohongiku? Ia sudah berjanji untuk tidak akan berhubungan lagi dengan Tasya, tapi kenapa dia mengingkari janjinya? Tidak, aku tidak boleh lemah, aku tak mau menangis lagi."
Batin Emma menguatkan dirinya sendiri. Ia menarik napas dalam-dalam melepaskan lalu ia tersenyum sendiri. Sungguh ia memang terluka namun ia tak mau menyusahkan dirinya dengan terus terusan meratapi kobohongan. Ia sudah berjanji kepada dirinya untuk selalu kuat di dalam situasi apapun. Sudah cukup banyak hal sulit yang ia lalui, ia tak ingin menghabiskan waktunya untuk bersedih. Ia ingin bahagia.
__ADS_1