
Emma menutup rapat-rapat pengakuan suaminya dan Tasya. Ia tak ingin orang lain tahu. Ia sangat menghargai suaminya dan tidak ingin merusak nama baik suaminya.
*****
Pada suatu malam, Emma sangat gelisah, ia sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Entah kenapa perasaanya menjadi tak tenang, pikirannya kacau. Tiba-tiba ia terbayang wajah Tasya dan suaminya, perasaan curiga yang telah hilang perlahan kini datang lagi bahkan lebih besar dari sebelumnya.
" mengapa perasaanku tiba-tiba menjadi tidak tenang? mengapa bayangan Tasya sangat menggangguku? aku yakin suamiku sudah berubah aku percaya padanya juga Tasya aku yakin dia tidak akan berani mengulangi perbuatannya lagi, tapi mengapa sekarang aku merasa seperti sedang dipermainkan?
__ADS_1
Emma berkata di dalam hatinya. Ia berusaha membuang jauh-jauh pikiran negatif yang sangat mengganggunya itu namun sia-sia.
Emma mencoba tidur tetapi tidak bisa.
" Tuhan, maafkan untuk segala salah dan dosaku, aku sadar aku belum bisa menjadi istri yang baik untuk suamiku, aku mempunyai banyak kekurangan, aku tak berdaya menghadapi semua masalah ini. Jika memang gelisahku di malam ini adalah suatu pertanda buruk aku mohon kuatkanlah hatiku untuk menghadapi hari esok. Aku percaya Engkau adalah kekuatanku. Amin. "
******
__ADS_1
Keesokan harinya, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, rasa curiga kini benar-benar penuh di dalam hatinya. Emma berusaha sebisa mungkin menutupinya dan bersikap sewajarnya. Ia tak ingin suaminya curiga. Ia tak ingin berdebat lagi dengan masalah yang sama. Namun setiap kali melihat suaminya Emma merasa seperti ada sesuatu yang disembunyikan suaminya.
Emma ingin sekali bertanya tetapi ia menahan diri dengan alasan yang sama, tak ingin membuat suaminya tersinggung, dan tak ingin merusak suasana. Mereka menjalani kehidupan seperti biasa.
Beberapa hari kemudian,
Emma merasakan ada yang berbeda pada diri suaminya, suaminya terlihat aneh. Jam pulang kerja menjadi berubah menjadi sangat terlambat, jika ditanya selalu alasan banyak pekerjaan. Waktu bersama Emma dan anak-anak semakin kurang, meskipun hari libur tidak seperti sebelumnya, kini menghabiskan hari liburnya dengan memainkan ponselnya seolah lupa kalau ia memiliki istri dan anak yang membutuhkan perhatiannya. Jika ditegur selalu alasan pekerjaan. Kemanapun ia selalu membawa ponselnya. Biasanya dulu jika anaknya meminta ponselnya untuk sekedar bermain game ia langsung memberikannya tetapi sekarang jika anaknya meminta ia langsung membentak dan memarahi anaknya, sangat keterlaluan. Ia menjadi gampang marah jika anak-anaknya mendekatinya dan mencoba mencari perhatiannya agar ia bisa bermain dengan mereka. Jelas terlihat anaknya yang sulung menjadi sangat kecewa bahkan terkadang menangis dan protes kepada ayahnya yang menjadi mudah marah. berulang kali Emma juga protes dengan sikap suaminya namun suaminya seperti tak peduli.Ponselnya kini menjadi yang terpenting baginya ketimbang istri dan anak-anaknya. Sungguh Emma dibuat kesal dengan tingkah lakunya, Emma benar-benar kecewa. Suaminya benar-benar berubah. Terkadang Emma menangis sendiri, ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya.Suaminya menjadi tak peduli lagi kepadanya. Emma merasa kehilangan, ia kehilangan perhatian suaminya, ia merasa sendiri dan rapuh namun ia berusaha keras untuk tetap tersenyum kepada anak-anaknya,ia tak ingin anak-anaknya turut merasakan kesedihannya. Ia ingin anak-anaknya selalu bahagia. Emma menyimpan semua beban hidup dan permasalahan yang dihadapinya di dalam hatinya
__ADS_1
Ia hanya bisa berdoa kepada Tuhan.