NALURI ISTRI

NALURI ISTRI
Part 39


__ADS_3

Ponsel Richard berdering.


" Hallo? ada apa lagi Tasya? bukankah sudah kubilang jangan menghubungiku lagi?


" Richard ada yang ingin kubicarakan denganmu, aku ingin menjelaskan sesuatu kepadamu."


" Katakan saja sekarang."


Tiba-tiba timbul niat Richard untuk merekam pembicaraannya dengan Tasya.


dan ia melakukannya.


" Richard, apa kamu ingat pria yang pernah menghubungimu? yang mengancam kamu?."

__ADS_1


"Iya aku ingat, ada apa? apa kamu kenal dengannya? oh..atau jangan-jangan ini permainan kamu."


" Richard dengarkan aku, aku mengakui kesalahanku, pria itu adalah temanku, aku yang menyuruhnya untuk menerormu, aku yang mengatur semua ini, aku benci melihat kalian bersama lagi, aku sakit hati melihat istrimu tersenyum lagi, aku ingin melihatnya hancur, dan juga aku butuh uang jadi aku menyuruh temanku menerormu dan mengancam kamu dengan harapan kamu akan menawarkan untuk memberinya uang agar ia tak buka mulut menceritakan semuanya kepada istrimu. Akulah yang menjebakmu, maafkan aku. aku sangat bersalah. Hatiku sangat sakit melihat istrimu tersenyum, apalagi melihat kemesraan kalian., aku cemburu, aku pikir aku bisa mendapatkan perhatianmu kembali tapi aku salah, setelah aku mendengar ucapanmu tadi aku sadar kalau kamu sangat mencintai istrimu, aku sadar aku bukanlah siapa-siapa dan tak penting bagimu., sungguh aku sangat menyesal."


Richard terdiam menahan amarah


" Jadi begini caramu Tasya? apa kamu bahagia sekarang melihat rumah tangga kami yang akan hancur? kamu senang melihat istriku hancur lagi dan lagi? aku tak pernah menyangka ada wanita sekejam kamu. Teganya kamu menjebakku, kamu pintar bersabdiwara dan aku sangat bodoh terlalu percaya sampai aku masuk ke dalam jebakanmu. Tak ada gunanya kamu meminta maaf, sekarang rumah tanggaku di ambang kehancuran. puas kamu????puas??"


Richard sangat marah, hampir saja ia membanting ponselnya jika saja ia tak mengendalikan dirinya.


" Terserah..!!! terserah !! puas kamu??"


Richard berteriak marah lalu memutuskan panggilannya. Ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia berusaha menguasai dirinya, mengendalikan pikirannya dan menahan perasaan marahnya. Berulang kali ia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.

__ADS_1


Rekaman pembicaraannya dengan Tasya sudah tersimpan. Kali ini ia sengaja tidak menghapus panggilan dari Tasya. Tak ada lagi yang ingin ia sembunyikan, ia hanya berpikir bagaimana menyelamatkan rumah tangganya.


*******


Berulang kali Emma membaca pesan dari suaminya, ada rasa marah, kecewa namun ada rasa kasihan kepada suaminya.


Ia masih bimbang, ia belum bisa berpikir jernih sekarang, kacau pikirannya juga hatinya. Terngiang kembali kata-kata indri, juga kata-kata ayahnya. Namun disaat bersamaan kata-kata teman-temannya juga mengusik pikirannya. Sungguh ia bingung. bayangan suaminya dan anak-anaknya terlintas menghantui pikirannya.


" Tuhan, apa yang harus aku lakukan, aku marah aku kecewa namun kenapa aku tak bisa membencinya? aku sangat ingin membencinya, ingin menyakitinya seperti yang dia lakukan kepadaku, tetapi mengapa aku tak bisa ya Tuhan?? Aku tak mau melihatnya ketika ia berbicara kepadaku tapi mengapa setelah itu hatiku sakit, aku tak mau peduli kepadanya tapi mengapa aku sangat khawatir ketika ia tak memberi kabar saat tiba di kantor?sungguh aku sangat bingung."


Di tengah kebingungannya Emma memutuskan untuk membalas pesan suaminya.


" Aku harus membalas pesannya, aku tak mau pikirannya kacau, aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya, hatiku tak tega membiarkannya berkendara pulang dengan hati penuh beban, aku khawatir."

__ADS_1


" Kita bicara setelah papah tiba di rumah, hati-hati di jalan."


Emma membalas pesan suaminya.


__ADS_2