NALURI ISTRI

NALURI ISTRI
Dilema Pria Yang Pernah Berselingkuh


__ADS_3

"Mah? Sudah sejak tadi pulangnya?" Richard menyapa Emma yang sedang membuat teh di dapur . Ia mendekati Emma dan mencium kening Emma.


"Iya pah, sudah sejak tadi. Papah kehujanan?" Emma meraba baju yang dikenakan suaminya. Richard mengangguk pelan. Emma meneguk teh hangatnya, lalu meletakan gelasnya di atas meja.


"Ayo papah ganti baju dulu." ujar Emma lalu bergerak cepat memasak air panas untuk suaminya dan membuatkan secangkir kopi panas.


Drrrrttrt Drrrrrrttt.... Ponsel Richard bergetar. Richard yang sedang mengeringkan tasnya yang setengah basah segera mengecek ponselnya.


[Pak Richard, jangan lupa minum yang hangat-hangat ya biar tidak masuk angin. Mandinya juga pakai air hangat ya.]


Pesan dari Rani. Richard tersenyum sendiri membaca pesan dari Rani.


"Terima kasih cantik." Richard membalas.


[Sama-sama pak. Jangan panggil aku cantik. Wajahku di bawah standar cantik pak.] Rani membalas lagi.


"Pah, kopinya sudah siap. Sekalian makan ya? Habis kehujanan pasti lapar." Tiba-tiba Emma masuk ke kamar memanggil Richard. Richard terkejut. Ia salah tingkah.


"Eh, sayang. Maaf, aku hampir lupa. Aku sedang mengeringkan tasku," jawab Richard sedikit gugup.


"Biarkan saja disitu, aku saja yang akan mengeringkannya pah," ujar Emma sambil tersenyum.


"Terima kasih sayang. Oh ya, dimana anak-anak? Aku tak mendengar suara mereka sejak tadi." Richard bertanya.


"Si kakak sedang belajar. Kalau si adek tadi main sama bi Leena." Emma menjawab. Ia mengambil tas Richard dan membawanya keluar kamar. Richard mengikutinya dari belakang. Emma meletakan tas suaminya di sofa lalu menuju ke meja makan untuk menyiapkan makanan.

__ADS_1


"Mah, makannya nanti saja, sekalian makan malam. Papah hanya mau kopi saja." Richard berkata lalu mengambil gelas kopinya.


"Baiklah pah," jawab Emma. Richard tersenyum lalu membawa kopinya berjalan keluar menuju ke teras. Emma melanjutkan pekerjaannya mengeringkan tas Richard.


"Aku memanggilmu cantik karena kenyataan kamu memang cantik." Richard membalas pesan Rani yang tadi belum sempat dibalasnya karena Emma tiba-tiba masuk ke kamar. Ia asyik melanjutkan obrolannya dengan Rani.


[Ah, bapak salah lihat. Aku jelek kok. Istri bapak pasti lebih cantik.]


"Jangan merendah. Kamu cantik, Rani."


[Hehe, makasih pak. Oh ya, aku penasaran sama keluarga bapak. Boleh kan, nanti aku main ke rumah bapak, sekaligus mau kenalan sama istri bapak.]


"Boleh kok. Tetapi istri saya jarang di rumah. Dia sangat sibuk dengan pekerjaannya."


[Luar biasa ya punya istri wanita karier. Tapi janji ya pak, nanti kenalin istri bapak.]


Richard meneguk kopinya, menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan kasar.


'Apa yang harus aku lakukan jika Rani memaksaku untuk memperkenalkan istriku kepadanya? Tidak. Ia tidak boleh mengenal istriku. Aku akan sangat malu jika Rani tahu bahwa istriku tidak secantik yang ia bayangkan. Bagaimanapun juga harga diriku sangat penting.' Richard membatin. Ia meneguk habis kopinya lalu bersantai sambil memainkan ponselnya. Kebiasaan lama Richard yang sudah dibuangnya kini perlahan kembali. Biasanya sepulang dari kantor ia lebih banyak mengobrol dengan istrinya atau sekedar membantu pekerjaan istrinya. Semuanya ia lakukan karena ia berniat memperbaiki kembali hubungan baik dengan istrinya yang sempat goyah. Namun kini, ia mulai kembali dengan lebih mengutamakan ponselnya, ia asyik sendiri dengan dunianya.


"Pah, air panasnya sudah siap. Mandi dulu ya." Emma berseru pelan.


"Iya mah, sebentar lagi." Richard menjawab.


"Sudah dua kali Emma memanggil Richard namun jawabannya tetap sama. Richard tetap asyik dengan ponselnya.

__ADS_1


Emma bukan tak tahu. Ia tahu namun ia berusaha mengerti bahwa mungkin suaminya lelah dan butuh hiburan. Setelah mengeringkan tas Richard, Emma sempat berjalan menuju ke teras. Ia bermaksud untuk duduk bersama suaminya disana, namun ketika melihat Richard asyik memainkan ponselnya dan tersenyum sendiri, Emma memilih kembali ke meja kerjanya. Selain bekerja Emma juga menekuni dunia kepenulisan. Ia mendapatkan kontrak dari beberapa platform menulis.


[Bu Emma, besok tolong datang lebih pagi.] Emma mendapat pesan dari atasannya. Ia menyudahi aktivitasnya dan beranjak untuk mengecek anak-anaknya dan menyiapkan makan malam. Malam berlalu. Emma tak mempersoalkan Richard yang sibuk dengan ponselnya. Bukan ia tak peduli tetapi ia trauma. Ia tak mau kejadian yang dulu terulang kembali. Lagipula ia tidak mau terlalu cepat mencurigai suaminya. Richard juga bersikap normal. Ia tetap bersikap mesra kepada Emma.


Pagi-pagi sekali Emma sudah bangun. Seperti biasa ia melakukan aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga. ia ingat pesan dari atasannya bahwa hari ini ia harus datang ke kantor lebih awal. Setelah semuanya beres ia membangunkan suaminya.


"Pah, aku berangkat ya." Emma pamit kepada Richard.


"Mah, bukannya ini masih pagi sekali? Kenapa buru-buru mah?" Richard bertanya sambil mengerutkan keningnya.


"Atasanku memintaku untuk datang lebih awal pagi ini. Aku pikir mungkin ada suatu hal penting. Kopi dan sarapanmu sudah kusiapkan di atas meja ya pah. Perlengkapan sekolahnya si kakak juga sudah siap. Bibi sedang mencuci. Kalo masih sempat papah tolong antar si kakak ke sekolah ya," kata Emma.


"Baiklah sayang, hati-hati ya," ujar Richard lalu mencium kening Emma. Emma mengangguk sambil tersenyum lalu mencium tangan suaminya dan berangkat ke kantor. Richard tak jadi melanjutkan tidurnya. Ponselnya bergetar ketika ia hendak meneguk kopinya.


"Pasti Rani." Richard berkata lalu mengecek ponselnya. Benar dugaannya. Rani mengirim pesan.


[Selamat pagi pak Richard. Selamat beraktivitas.]


Richard tersenyum membaca pesan dari Rani.


"Aku tahu maumu, Rani." Richard berkata lalu meneguk kopinya. Ia memilih untuk tidak membalas pesan Rani. Beberapa saat kemudian, ponsel Richard bergetar lagi. Richard sudah menduga bahwa Rani pasti akan mengirim pesan lagi.


[Aku sakit.] Richard sedikit terkejut membaca isi pesan Rani.


[Maaf pak, salah kirim.] Pesan masuk lagi dari Rani ketika Richard hendak membalas pesannya.

__ADS_1


"Aku tahu, kamu sengaja karena aku tak membalas pesanmu." Richard membalas pesan Rani. ia sengaja membuat Rani penasaran.


'Rani sepertinya menyukaiku. Aku bosa melihat dari tatapannya. Kalau benar ia menyukaiku, apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus meladeni dia? Tapi bagaimana dengan istriku. Di suatu sisi aku tak mau ada masalah lagi antara aku dan istriku karena aku sudah berjanji padanya untuk tidak mengulangi lagi perbuatanku. Tetapi disisi lain.... Sayang, kalau aku mengabaikan wanita cantik itu. Aku juga penasaran dengannya. Sepertinya aku harus lebih berhati-hati lagi agar istriku tidak curiga kepadaku seperti kejadian yang dulu. Rugi juga kalau wanita secantik Rani dicuekin. Tetapi aku harus memastikan dulu. Kalau memang Rani benar suka. kepadaku aku akan mencari cara agar bisa berselingkuh dengannya dengan aman agar istriku tidak curiga. Mungkin dulu aku kurang berhati-hati.' Richard membatin. Ia tersenyum sendiri membayangkan wajah Rani yang cantik.


__ADS_2