NALURI ISTRI

NALURI ISTRI
Kembalinya sang Pelakor


__ADS_3

Richard mengempaskan tubuhnya ke atas sofa lalu menyalakan tv setelah sepesai membereskan pekerjaan rumah. Tiba-tiba, pintu diketuk. Richard bergegas menuju ke depan. Ia sangat terkejut ketika melihat Rani sedang berdiri di depan pintu rumahnya.


"Rani? Kamu ngapain kesini?"


Rani melepaskan kacamata hitamnya dan tersenyum lebar.


"Kaget ya. Kejutan. Aku emang sengaja datang kesini soalnya kamu tuh susah banget dihubungi. Kenapa gak masuk kantor? Sengaja ya mau menghindar dari aku," kata Rani sembari menyerobot masuk ke dalam rumah meskipun Richard sudah berusaha menghalanginya.


"Rani, tolong keluar dari rumahku. Aku nggak main-main!" tegas Richard. Wajahnya memerah menahan marah juga kesal. Rani tak peduli. Ia terus masuk lalu duduk di ruang tamu. Matanya terus melihat sekeliling.


"Santai aja napa. Toh aku nggak bikin keributan. Aku hanya datang mengunjungi kamu. Lagian salah kamu kenapa menghindar. Apa kamu pikir dengan sikap dan cara kamu aku bakal diam dan nyerah? Nggak akan! Aku nggak peduli mau kamu apa. Kamu harus bertanggung jawab. Emang kamu pikir aku mainanmu?"


Rani mulai berapi-api. Richard menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan kasar.


"Cukup Rani. Aku nggak bisa terusin hubungan ini lagi. Aku mau kita pisah. Tolong, jangan ganggu aku lagi." Richard menegaskan. Rani tertawa mendengar ucapan Richard.


"Terlambat. Semuanya sudah terlambat. Aku nggak mau pisah sama kamu. Kamu yang udah buat aku kayak gini. Mana janji kamu? Kamu menjanjikan banyak hal sama aku dan kamu harus menepati janji kamu. Jangan jadi pria pengecut kamu ya. Aku sudah berkorban banyak termasuk harga diri dan nama baikku lalu sekarang dengan seenaknya kamu mau pisah? Tidak semudah itu. Aku nggak akan terima."


Richard frustrasi melihat emosi Rani yang meluap. Beruntungnya hanya dia yang ada di rumah. Jarak rumahnya dengan tetangga juga agak berjauhan sehingga tak ada yang mendengar pertengkaran mereka.


"Kamu bisa diam nggak? Jangan seenaknya teriak-teriak disini. Aku punya keluarga. Aku nggak bisa ninggalin keluargaku dan memilih kamu. Harusnya kamu paham. Kamu nggak bisa maksa aku!" Meskipun sangat marah, Richard berusaha meredam suaranya. Mata Rani berkaca-kaca. Ia terlihat tak terima dengan perlakuan Richard juga keputusan yang dibuat Richard.

__ADS_1


"Aku nggak peduli. Apapun keputusanmu, aku hanya ingin bersamamu. Aku nggak akan pergi sampai kamu mengubah pikiranmu. Aku akan tetap disini,"


ujar Rani. Ia mencoba memegang tangan Richard namun Richard menghindar. Airmatanya mengalir. Richard bingung. Ia menjadi serba salah. Ia sangat mengenal watak Rani. Susah payah ia berjuang merebut kembali hati sang istri, Richard tak ingin perjuangannya sia-sia.


"Ran, bisa nggak kamu ngerti sama keadaanku sekarang. Kita masih bisa berteman baik kok. Aku hanya ingin kembali memperbaiki hubunganku dengan istriku. Aku udah menghancurkan keutuhan keluargaku dan aku mau berubah. Tolong bantu aku Ran. Kamu wanita yang baik. Aku yakin kamu bisa mendapatkan pria yang lebih baij dari aku. Mari kita akhiri dengan baik-baik," pinta Richard dengan lembut. Ia berharap bisa membujuk Rani.


"Tidak. Kau tak bisa begini. Aku sayang sama kamu. Aku hanya mau hidup sama kamu. Jangan tinggalin aku. Aku nggak akan bisa hidup sendiri tanpa kamu. Jadi istri keduapun aku siap asal kamu nggak ninggalin aku, please." Rani memohon. Rupanya, usaha Richard membujuk Rani gagal. Sejenak ia terdiam dan berpiikir.


"Baiklah. Aku nggak akan ninggalin kamu. Sekarang, aku minta kamu pulang. Aku nggak mau ada masalah lagi," ujar Richard. Wajah Rani seketika berubah ceria.


"Kamu harus janji sama aku. Mulai besok kamu kerja. Jangan abaikan telponku lagi. Kalo kamu ingjar janji, aku bakal datang dan tinggal disini selamanya," ancam Rani halus. Ia sangat licik memanfaatkan kesempatan dan kelemahan Richard. Richard mengangguk setuju dan berjanji memenuhi permintaan Rani.


...****************...


"Gimana pak. Ada yang bisa kubantu?" tanya Emma. Devan tersenyum.


"Ikut ke ruangan saya sekarang," pinta Devan lalu berjalan meninggalkan Emma. Emma mengernyitkan keningnya lalu menyusul ke ruangan Devan. Emma bingung ada apa Devan memanggilnya. Ia melangkah pasti menyusul Devan.


"Silakan duduk," ucap Devan. Emma mengangguk dan duduk. Devan menatap wajahnya dalam-dalam.


"Are you Ok?" tanya Devan. Ia terlihat cemas. Emma mengangguk pelan. Devan spontan berdiri dan berjalan menghampiri Emma. Jaraknya yang sangat dekat tepat di samping Emma membuat Emma gugup.

__ADS_1


"Ada apa, Pak?" tanya Emma. Devan tak menjawab. Ia mengulurkan tangannya lalu menyentuh kening Emma. Suhu tubuh Emma tidak normal. Tubuhnya sangat panas.


"Sudah kuduga. Kenapa nggak isturahat aja?" ujar Devan.


"Nggak masalah. Hanya demam biasa. Aku akan baik-baik saja," jawab Emma santai.


"Kamu harus istirahat. Ini perintah!" ujar Devan lalu menarik pelan tangan Emma. Emma berdiri mengikuti maunya Devan. Ia tak melawan sedikitpun. Devan membawanya ke sofa panjang di sudut ruangan yang disekat oleh tirai. Ia menyuruh Emma duduk kemudian ia berjongkok dan melepaskan sepatu Emma. Spontan Emma menarik kakinya namun Devan menahannya.


"Kamu ngapain? Please, aku nggak enak kalo kamu kaya gini. Aku bisa sendiri," ujar Emma. Ia sangat salah tingkah.


"Berbaringlah," ujar Devan lalu meletakan bantal mini sofa itu di bagian kepala. Emma terpaksa menurut. Ia berbaring. Devan segera melepaskan jasnya lalu menutupi tubuh Emma.


"Tetaplah disini. Aku akan segera kembali," ujar Devano lalu keluar dari ruangan kecil bersekat tirai itu. Emma tak bisa membohongi dirinya bahwa ia sungguh lelah dan merasa sakit. Ia mencoba memejamkan matanya. Beberapa saat kemudian, ia terbangun ketika merasakan sesuatu di keningnya. Ia membuka matanya perlahan dan terkejut melihat Devan yang sedang mengompresnya. Emma bergerak untuk bangun namun lagi-pagi, Devan tak membiarkannya.


"Kamu nggak pantas melakukan ini. Aku benar-benar nggak nyaman," ujar Emma.


"Buat dirimu nyaman. Tubuhmu panas tinggi. Setelah ini kamu makan dan minum obat," kata Devan. Emma tak membantah lagi. Ia diam dan mengikuti perkataan Devan.


'Aku tak tega melihatmu begini. Kamu harus tetap sehat dan bahagia. Sudah cukup penderitaan yang kamu alami. Aku tak ingin melihatmu bersedih dan menangis lagi. Biarkan aku menjagamu dengan caraku. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk saat ini.' batin Devan.


"Makasih ya," ucap Emma kepada Devan. Devan mengangguk pelan sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


"Makan ya," kata Devan lalu mengambil mangkok di meja. Entah dari mana ia mendapat bubur ketika ia keluar sebentar tadi. Emma berusaha bangun dan bersandar.


"Biar aku saja," tolak Emma ketika Devan menyuapinya. Awalnya Devan menolak tetapi akhirnya ia membiarkan Emma makan sendiri.


__ADS_2