NALURI ISTRI

NALURI ISTRI
PART 18


__ADS_3

Emma perlahan bangkit dari keterpurukan. Meskipun hubungannya dengan suaminya belum ada kejelasan namun Emma tetap berusaha bersikap normal. Ia tak ingin menyakiti perasaan anak-anaknya karena dia tahu anak-anaknya sangat mencintai ayahnya dan sebaliknya Richard adalah sosok ayah yang penyayang dan sangat bertanggungjawab kepada anak-anaknya. Meskipun hubungan mereka masih belum jelas, komunikasi mereka kurang baik namun Richard tak pernah melupakan kewajibannya. Gaji bulanannya selalu dikasih full kepada Emma tentu saja tak seperti dulu yang langsung ia berikan kepada Emma, kini ia memberikannya secara diam-diam. Disaat Emma tak ada di kamar Richard memanfaatkan kesempatan mengisi dompet Emma dengan lembaran-lembaran rupiah. Ia bukan suami yang pelit atau perhitungan. Semua tanggungjawab keuangan dipercayakan kepada Emma. Emma tidak merasa kaget lagi ketika tiba-tiba ia melihat sejumlah uang di dalam dompetnya karena ia tahu betul kebiasaan suaminya. Tak ada manusia yang sempurna, semua pasti pernah melakukan kesalahan begitu pula Richard, namun jika kesalahan yang sama diulang ulang itu sudah keterlaluan. Hal ini yang membuat Emma tak bisa percaya kepadanya lagi.


******


Hari demi hari berlalu, Richard masih berjuang untuk memperbaiki keadaan, di suatu sisi Emma mulai berubah. Rasa sakit yang teramat dalam, dan pengkhianatan berkali kali merubahnya menjadi pribadi yang dingin. Emma yang dulu sangat perhatian kini bersikap masa bodoh, yang dulu selalu khawatir jika suaminya terlambat pulang kantor sekarang menjadi tak peduli. Emma bahkan berhenti menanyakan kabar, mengingatkan suaminya untuk makan tepat waktu.


Fatalnya bukan hanya sikapnya saja yang berubah tetapi perasaanya perlahan berubah. Ia menjadi tak simpatik lagi dengan suaminya, rasa sayang dan cintanya perlahan memudar, hilang rasa cemburu. Emma telah sampai ke pucak kesabaran.


Dulu ia begitu takut kehilangan namun sekarang ia seolah telah siap kehilangan. Ia tak peduli lagi dengan cerita orang. Ia lebih diam dari biasanya namun diamnya bukan diam yang baik. semua luka dan sakit yang ia pendam membuatnya menjadi seorang pendendam. Sosok yang lembut, penuh cinta dan peduli kini berubah menjadi pendendam, dan penuh misteri. Tak ada yang bisa menebak pikiran dan isi hatinya. Sikapnya sangat bertolak belakang dengan hatinya. Ia mampu bersandiwara dengan baik menutupi amarah dan dendam yang membara di dalam hatinya. Emma gagal mengontrol dirinya, ia gagal menguasai hatinya. Lantas salah siapa kalau sudah begini?


*****


Hati yang penuh kehangatan kini menjadi dingin sedingin es. Hingga pada suatu hari Richard jatuh sakit.


Biasanya jika Richard sakit Emma selalu siaga merawatnya, Emma segera membawanya ke dokter, memasak makanan kesukaannya, menghiburnya dan selalu berdoa untuknya.

__ADS_1


Namun Emma yang sekarang bukan Emma yang yang dulu lagi.


Tak sedikitpun Emma menanyakan kondisi Richard, ia tak pernah melihat keadaan suaminya dari dekat. Ia biarkan Richard kedinginan karena demam yang hebat, ia bahkan tak menawarkan segelas air kepada suaminya. Sampai pada hari ke 5 suaminya masih tak bisa bekerja, Tubuhnya lemas, ia tak bisa makan dengan baik, namun ia berusaha mengurus dirinya sendiri. Emma bahkan tak bicara dengannya.


Dibalik diamnya Emma ia mempunyai rencana untuk membalaskan dendamnya kepada suaminya. Ia ingin suaminya merasakan apa yang dirasakannya.


*****


Di suatu malam. Emma dan anak-anaknya sudah tidur. Richard duduk sendirian di teras rumah. Ia masih sakit, tubuhnya masih lemas namun ia berusaha untuk kuat. Ia terlihat sedikit lebih kurus.


" oh syukurlah dia masih hidup, ia sudah membuatku takut setengah mati.


Ah...tapi untuk apa aku peduli, dia sudah sangat jahat kepadaku, aku begitu bodoh telah mengkhawatirkannya."


Emma berbicara di dalam hatinya.

__ADS_1


Ia berencana meninggalkan suaminya begitu saja, namun entah kenapa rasa kasihannya muncul kembali, ia tak tega.


Ia mengguncang bahu suaminya perlahan tanpa bersuara sedikitpun. Tak lama kemudian suaminya perlahan membuka matanya, mendapati Emma sedang menatap wajahnya penuh khawatir. Ia sangat kaget.


Richard : sayang? sejak kapan kamu disini? bukannya kamu sudah tidur?


Emma : Tidurlah di kamar. ayo aku akan membantumu berdiri.


Emma mencoba membantu suaminya untuk berdiri. Tiba-tiba ia berhenti, segera ia meletakan tangannya di dahi suaminya. Sangat panas, Richard demam. Dengan buru-buru Emma membantunya menuju ke kamar dan membaringkan suaminya di tempat tidur. Ia segera ke dapur mengambil air hangat dan untuk mengompres suaminya. Ada rasa bahagia di hati Richard, setidaknya ia sudah melihat sendiri Emma masih peduli padanya.


" Aku melakukan ini agar kamu cepat sembuh karena anak-anak membutuhkanmu "


Tiba-tiba Emma berkata sambil menyelimuti tubuh suaminya. Richard tak kaget lagi mendengar ucapan Emma. Ia sudah terbiasa dengan jawaban-jawaban sinis dari Emma.


" tidurlah jangan membuatku takut lagi. Jika ada sesuatu yang buruk terjadi padamu aku tidak bertanggungjawab. "

__ADS_1


Emma melanjutkan pembicaraannya sambil berjalan menuju ke tempat tidurnya.


__ADS_2