
Hari ini genap dua bulan sudah semenjak Nyonya Sang mengunjungi kediaman milik Putri Mahkota.
Hari ini kediaman Sang sudah akan menyidang Sang Liang si tokoh utama kali ini, didepan aula Sang Liang terduduk lemas, tubuhnya sudah lelah disuruh diam terdudul didepan aula leluhur, tak diberi makan dengan benar itupun makanan hanya dapat diberi secara diam diam dan bahkan tak pernah dimakan.
Hari ini Sang Liang akan diberikan keputusan akhir, keluarga Sang telah mengambil keputusan setelah Nyonya Utama telah pergi kekediaaman milik Putri Mahkota.
Sang Liang tertunduk didepan persidangan, hari ini dirinya akan menentang segala keputusan yang memberatkan maupun tidak menerima Sisi Huangli disebelah nya.
"Apa kau masih menuntut hal mu? " Tanya Tuan Utama kediaman atau Ayah kandung Sang Liang.
"Aku tak akan merubah keputusan ku sejak dua bulan lalu". Bantah Sang Liang.
" Keras kepala". Bentak paman Sang Liang yang hadir di persidangan keluarga tersebut.
Paman nya yang kini menduduki status mantan tangan kanan Kaisar terdahulu sebelum Kaisar sekarang.
Pamannya yang masih begitu mementingkan kedudukan maupun keturunan keluarganya, tak boleh ada yang merusak sususan yang telalah dibangun sejak leluhur nya terdahulu.
"Apa yang kau banggakan dari gadis pelayanan itu hah? banyak Nyonya muda diluar sana, seakan akan dirimu telah dijerat oleh siluman rubah". Bentak paman Sang Liang dengan keras.
" Kakak ipar tenangkan dirimu sebentar, Sang Liang masih muda pemikirannya masih harus dibimbing menuju depan mohon jangan marah". Mohon Istri utama Sang, ibu Sang Liang.
"Aku Sang Shaoshang, sampai kapan pun tak akan pernah setuju darah keluarga terhormat ini dicampur oleh darah pelayan rendahan".Bentak Sang Shaoshang.
Suara yang begitu besar tak membuat Sang Liang ketakutan.
__ADS_1
" Aku menyerahkan nama depan ku dengan darah diatas cawan keluarga". Ujar Sang Liang membuat semua keluarganya terdiam.
Menyerah nama depan dengan darah diatas cawan keluarga menandakan seseorang ingin melepas marga nya dan menjadi orang biasa, biasanya tradisi ini dilakukan oleh wanita bangsawan maupun ke kerajaan yang kalah dalam pernah untuk kabur dan tak terdeteksi oleh musuh.
Plak
Suara tamparan begitu nyaring di suasana ruang yang sunyi.
Nyonya Sang menampar putra semata wayangnya itu dengan amarah.
"Apa kau akan meninggalkan niang? apa kau akan meninggalkan keluarga yang telah membesarkan mu hanya semua seorang gadis pelayan? nak dirimu masih muda jangan hanya ingin memiliki sepihak, aku tau gadis yang kau inginkan itu cantik tapi kau juga harus memikirkan keluarga mu". Nyonya Sang berbicara begitu panjang sambil menangis tersedu sedu.
Apa yang putra nya sukai dari gadis pelayan itu, kenapa dirinya begitu keras kepala?
Kalian mengenalkan ku pada Nona nona bangsaean untuk mencari bantuan, mencari jilatan dan pujian, menjadikanku tameng didepan dan kalian menikmati hasilnya dibelakang, itu yang kalian maksud keluarga?.
Niang, kau bilang aku tak berbakti bukan? lalu aku bertanya kemana dirimu saat aku terkena penyakit cacar dulu, saat wabah penyakit melanda kalian memaksa aku membantu Putra Mahkota ke daerah timur membantu nya disana untuk mencari wajah, lalu saat obat ditemukan namun dalam jumlah sedikit, aku meminta izin pulang karena lelah dan obat yang susdha ditemukan, lalu aku terkena, kau, yng mengaku ibu ku, ibu kandung ku sendiri malah pergi kerumah teh hanya untuk bertemu teman teman mengobrol dan membicarakan aku yang sejatinya anak mi sendiri, KAU menjual namaku hanya untuk SIMPATI DAN RASA HORMAT DARI ORANG ORANG.
INI YANG DISEBUT KELUARGA HAH? KENAPA AKU? KENAPA? AYAH, KAU MEMILIKI SELIR DAN MEMILIKI TUAN DNA NONA MUDA KEDIAMAN INI LALU KENAPA HANYA AKU YANG DIBERI TANGGUNG JAWAB BESAR, KENAPA?". Ucap Sang Liang dengan panjang dan nada teriakan diakhir akhir kalimat nya.
Dirinya lelah, dirinya hanya ingin ditatap dengan lembut oleh keluarganya, ditatap bangga dengan hasil nya sendiri bukan karena bersanding dengan Putra Mahkota, ataupun menjadi sempurna, dia ingin menjadi seorang pelukis, seorang yang bisa bebas mencari keindahan dan menjadikannya sebuah karya yang indah.
Tapi itu semua fipatahkan saya obsesi kedua orang tuanya yang menyuruhnya menjadi salah satu kesatria dari Putra Mahkota agar bisa mendapat dukungan yang kuat dari pihak kerajaan.
Dulu dirinya pikir tujuannya berlatih ekras untuk membanggakan kedua orang tuanya, namun selama pelatihan dan pendekatan dengan Putra Mahkota dirinya sadar, itu bukan atas kemauan nya, itu bukan karena hatinya.
__ADS_1
Semua palsu, tak ada yang tulus dari hati.
Dirinya tak ada dendam dengan Putra Mahkota, bahkan dari dirinya lah Sang Liang belajar, jika ingin menjadi apa yang diimpikan memang harus menerima kenyataan pahit terlebih dahulu, dirinya pikir Hao Chun bisa memilih karena dari Naga yang mengalir di dalam dirinya, tapi semua itu sama saja seperti dirinya, sampai Sang Liang melihat sendiri, satu keputusan yang di mana temannya sekaligus pemimpin masa depan kerajaan Hao itu mengambil keputusan secara sepihak.
. Dan disat itulah dirinya menjadi berubah, dirinya juga ingin mengambil satu kebahagiaan nya sendiri walau dirinya akan menyesal di esok harinya, tapi setidaknya ia sudah pernah merasakan apa itu impian yang terkabul, impian mas akecil yang sudah lama terkubur.
Kini kembali.
Sekarang dirinya sudah tidak akan peduli dengan keluarganya, ayah? ibu? itu semua palsu, tak ada namanya keluarga.
Menyesal? mungkin esok hari, tapi dirinya tidak akan mengakuinya karena akan menjadi penyesalan yang indah.
Berdiri dari duduknya, menatap semua yang berada di aula keluarga Sang, dirinya menunduk hormat sampai membungkukkan badannya, menempelkan jidatnya ke lantai merah ruang aula.
"Aku Sang Liang dengan ini memutuskan semua ikatan kekeluargaan yang pernah terjadi, darah lebih kental dari pada air, namun darah juga bisa berhenti jika saatnya tiba". Sang Liang berdiri laku menatap sang ayah dan ibunya yang masih berdiri di depannya.
Dengan perlahan dirinya berjalan ke depan aula, di depan pintu penjaga ada seorang prajurit yang bertugas menjaga kediaman, diambilbya pedang penjaga tersebut lalu mengatur tangannya sendiri.
Darah menetes didepan pintu aula keluarga Sang.
" Dengan ini aku memutuskan darah kekeluargaan Sang yang ada didalam diriku, aku Sekarang bukanlah Sang Liang yang bisa kalian perintahkan, aku sekarang seorang pemuda bernama Liang tanpa memiliki marga dan tanpa tujuan rumah, aku Liang seorang elmuda bebas". Ujar Sang Liang, oh ralat namanya sekarang Liang tak ada embel embel Sang lagi didepan namanya.
Dirinya pergi menuju luar kediaman, penjaga membukakan pintu untuknya, keluar dan berdiri didepan kediaman Sang lalu menghirup udara.
Seakan akan dirinya baru saja keluar dari penjara, udara yang dulu dirinya hirup selama mengandung racun, namun sekarang dirinya menghirup udara dengan damai.
__ADS_1