NODA MERAH KEKASIH

NODA MERAH KEKASIH
PERTEMUAN


__ADS_3

***


Terlihat seorang gadis sedang berlari tergesa, di dadanya ia mendekap buku bersampul biru tua. Clara Permaysella Rahadi nama gadis itu. Ia sedang terburu-buru karena pagi ini Clara harus pergi ruang administrasi untuk membayar uang kuliah semesternya yang sudah menunggak beberapa bulan.


Sebenarnya uang itu sudah ada, tetapi uang itu diambil oleh ayahnya untuk berjudi. Uang yang sudah susah payah Clara kumpulkan dengan bekerja part time di sebuah kafe sepulang kuliah terpaksa harus ia relakan.


Clara terpaksa harus meminjam pada bosnya, dan untunglah bosnya berbaik hati meminjamkan karena Clara sudah dianggapnya seperti anak sendiri.


BRUG


Karena kurang hati-hati Clara menabrak seseorang hingga terjatuh, tapi bukannya menolong orang yang menabraknya justru pergi begitu saja meninggalkannya.


"Ish, dasar nggak berperikemanusiaan!" Sungut Clara lalu berdiri melanjutkan perjalanannya.


Tiba di ruang administrasi dengan nafas yang memburu.


"Pak, atas nama Clara Permaysella Rahadi," ucapnya pada seorang petugas administrasi.


"Loh, dompet gue mana ya kok nggak ada?"


Clara mengacak-acak isi tasnya, mencari dompetnya tapi tidak ketemu. Ia lalu menumpahkan semua isi tasnya ke lantai tapi tetap saja dompet miliknya tak ada. Dompet itu seperti raib entah kemana. Seingatnya ia sudah memasukkannya ke dalam tas sebelum pergi ke kampus tadi.


"Apa jangan-jangan aku lupa naro ya?"


Clara lalu mengingat-ingat kapan terakhir ia membuka tas dan …


"Astaghfirullahaladzim, orang itu ... orang yang nabrak aku tadi ..."


Clara baru ingat saat bertabrakan tadi, ia memang sempat merasa aneh karena tabrakan itu sangat keras dan seperti disengaja.


"Neng, gimana? Totalnya 3 juta 300 ribu. Apa mau dibayar sekarang?"


Clara menoleh petugas admin lalu menghampirinya. "Emmm ... maaf, Pak, nggak jadi. Uang saya hilang, Pak," jujurnya, Clara merasa tidak enak hati. Petugas itu tersenyum kecut.


Clara meninggalkan ruang administrasi dengan pikiran yang berkecamuk. 


"Kemana lagi aku mesti nyari duit buat bayar kuliah?"


Hati Clara begitu pilu, kenapa hidup seolah mempermainkannya. Sudah punya ayah yang kerjaannya hanya mabuk dan berjudi, ditambah lagi sekarang ia kehilangan uang untuk membayar kuliahnya. Masa iya harus pinjam lagi? Pinjam pada Dion juga tidak mungkin, kekasihnya itu sudah terlalu sering memberinya uang.


"Ibu, Clara nggak kuat. Kenapa ibu ninggalin Clara sendirian? Kenapa ibu nggak bawa Clara aja? Clara nggak kuat, bu."


Clara berjalan gontai ke taman lalu duduk di sana, menunduk, menutupi wajahnya yang mulai berurai air mata.


Sejak baru lahir Clara sudah ditingggal ibunya. Clara hanya tinggal berdua dengan ayahnya yang tiap hari pulang larut malam dan tak jarang ayahnya pulang dalam keadaan mabuk. Setiap hari hidup Clara seperti di neraka.


Clara pun harus mencari uang sendiri untuk kebutuhannya sehari-hari dengan bekerja bantu-bantu di toko. Dan seiring berjalannya waktu Clara kini bekerja di sebuah kafe milik teman  almarhumah ibunya. Meski capek karena ia harus pintar mengatur waktu untuk belajar. Belum lagi ia harus ekstra sabar menghadapi pengunjung yang sering menggodanya dengan meminta nomor handphonenya.


Memiliki wajah yang cantik ternyata sebuah musibah bagi Clara. Buat apa wajah cantik jika hidupnya menderita seperti sekarang.

__ADS_1


"Hai ..."


Tepukan di bahu berhasil membuat Clara tersentak, buru-buru diusapnya kedua pipinya yang basah, menoleh dan lalu tersenyum.


"H-hai ...."


"Mata lo kok bengkak? Lo abis nangis?" tanya gadis berambut panjang di sebelahnya. Clara menggeleng. 


"Jangan bohong! Gue udah kenal lo lama jadi percuma kalo lo bohong sama gue!"


Clara menarik nafasnya dalam. "Ketahuan juga deh. Emang susah bohongin elo ya, Del?" ujarnya.


"Lo ada masalah apa cerita sama gue, gue pasti bantu kok?"


Clara tak menjawab tapi justru menunduk. Sahabatnya Adelia juga sudah terlalu sering membantunya sampai Clara bingung harus bagaimana membalasnya.


Melihat Clara diam Adelia paham. "Lo butuh berapa gue ada kok."


Cepat Clara mengangkat wajahnya. "Nggak usah, Adel. Lo udah terlalu sering bantu gue, duit elo yang bulan lalu aja gue belum bisa balikin." 


Bulan lalu Adelia memang memberikan sejumlah uang kepadanya untuk membayar uang kontrakan yang telah diambil ayahnya.


Adelia mengibaskan tangannya di depan wajah. "Halah pake diinget. Emang itu buat apaan?"


"Buat bayar uang kuliah gue. Gue udah nunggak beberapa bulan."


"Astaghfirullahaladzim, Clara! Kenapa elo nggak ngomong sama gue? Sekarang lo ikut gue!" Adelia berdiri, menarik tangan Clara agar ikut bersamanya.


"Ke rumah sakit!" 


"Hah? Rumah sakit? Kamu sakit? Sakit apa?" tanya Clara mulai panik. Adelia melotot, gemas sekali dengan kepolosan sahabatnya ini.


"Ke ruang admin, Clara," geram Adelia, ia begitu kesal pada sahabatnya karena selalu tak mau membagi bebannya.


"Ta-tapi, Adel ..."


"Udah diem! Elo ikut gue sekarang!"


Clara hanya bisa menuruti langkah Adelia yang membawanya ke ruang administrasi. Gadis bersurai panjang itu menyuruhnya menunggu sementara ia membereskan administrasi Clara.


"Nih, gue udah bayar samua." Adelia mengangsurkan secarik kwitansi pada sahabatnya, Clara menerimanya.


"Del, ini ..." Clara tak mampu meneruskan kalimatnya, ia begitu terharu sampai menitikan air matanya.


"Loh kok palah nangis, gue bikin elo sedih ya?" Adelia merangkul sahabatnya yang mulai terisak.


"Kenapa sih elo baik banget sama gue, Del?"


"Karena elo memprihatinkan."

__ADS_1


Jawaban Adelia yang asal membuat Clara terdiam, lalu menunduk. Ia sadar dirinya memang samgat memprihatinkan.


"Ya elah serius amat, Buu. Gue cuma becanda." Adelia tertawa. Clara tersenyum kecut.


"Cla, lo itu sohib terbaik gue. Jadi wajar dong gue bantu sahabat gue? Ssstt ... udah nggak usah ngomong. Mending kita cari makan, laper. Gue belum sarapan tadi." Adelia mengusap permukaan perutnya.


Clara diam sejenak, di tatapnya wajah Adelia yang sempurna menurutnya.


"Udah jangan liatin gue mulu tar lo jatuh cintrong lagi," kata Adelia tergelak. Clara berlaga sok seperti hendak muntah membuat tawa gadis berambut ikal panjang itu kian menjadi.


Kedua gadis cantik itu melenggang pergi meninggalkan kampus mereka sambil bergandengan. Hampir seluruh kampus tahu jika Clara dan Adelia sahabatan dari SD. Kadang ada yang merasa iri melihat keakraban mereka. Clara yang terkenal cerdas dan sedikit pendiam dan Adelia yang menjadi idola kampus dan pintar. Perpaduan yang sangat klop menurut mereka?


Ciiiittt


"Aouuww ..." pekik Adelia terjatuh ketika sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melintas di depannya, jika saja Clara tak menariknya entah apa jadinya sahabatnya itu.


"Adel, lo nggak papa?" Clara membantu Adelia berdiri. "Maaf ya tadi gue refleks?" Clara merasa bersalah karena telah menariknya terlalu keras hingga Adelia tersungkur ke lantai yang kasar.


"Iya, nggak papa, Cla, lagian gue nggak kenapa-napa kok cuma lecet doang."


"Ya ampun tangan lo ..." Clara panik melihat telapak tangan Adelia memar dan sedikit berdarah. Seketika emosinya naik ke ubun-ubun. Clara menghampiri mobil yang baru saja terparkir.


"Woy, tanggung jawab gak lo!" Clara menggebrak kap mobil itu. 


Pengemudinya keluar. Seorang pria berpakaian rapih serta berkaca mata hitam, menghampiri Clara. 


"Ada apa ini? Kenapa kamu marah-marah dan menggebrak mobil saya, Nona?"


"Pake nanya lagi! Lo udah bikin temen gue celaka. Lo kudu tanggung jawab!"


Laki-laki itu menoleh Adelia yang berada tak jauh dari mereka. "Sepertinya temen kamu nggak papa tuh? Atau perlu saya bawa ke rumah sakit?" tanyanya santai, tentu saja itu membuat Clara naik pitam.


Sungguh saat ini Clara seperti singa betina yang sedang mengamuk. Gadis yang sedikit tomboy dan pendiam itu sangat galak macam induk singa yang melindungi anaknya dari singa jantan yang hendak memangsa anaknya.


Pria itu membuka kacamatanya membuat Clara yang terlanjur membuka mulutnya hanya terdiam, lidah Clara tercekat, jantungnya yang semula tenang kini jadi gedebag-gedebug tidak jelas. 


'Gila, ganteng banget kayak Lee Joung Suk' batin Clara mengatakan jika laki di depannya sangat tampan seperti artis k-pop idolanya.


Laki-laki di depannya sangat tampan dan sangat sempurna. Belum pernah Clara bertemu pria setampan di depannya kini.


Yuan Anggara Wijaya, dia baru saja pulang ke indonesia beberapa bulan lalu atas permintaan kedua orang tuanya. Sebelumnya ia kuliah dan berkerja di luar negeri, tetapi demi menuruti keinginan kedua orang tuanya Yuan pulang dan kini bekerja di kantor milik orang tuanya.


Sebenarnya papahnya menyuruhnya pulang untuk membantunya mengurus salah satu cabang cafenya, tapi Yuan mengatakan tidak tertarik.


Mendadak auman singa dalam diri Clara lenyap entah kemana, berubah menjadi singa yang hilang taringnya.


"Ta-tangan temen gue lecet tuh, lo mesti tanggung jawab."


'Ya Tuhan kenapa gue mendadak mlehoy begini. Jangan terpesona jangan terpesona. Lo udah punya Dion Clara ingat itu' Clara meruntuki dirinya dalam hati.

__ADS_1


"Oke saya akan tanggung jawab saya antar kalian ke rumah sakit."


__ADS_2