NODA MERAH KEKASIH

NODA MERAH KEKASIH
TOLONG NIKAHKAN KAMI


__ADS_3

***


Tubuh Clara terasa lemas, air mata berderai tak ada hentinya. Ia masih saja tak percaya dengan ucapan Zidan yang meminta kepada Darma untuk menikahkan mereka segera. 


"Nak Zidan serius … mau menikah sama anak om? Apa Nak Zidan sadar, Clara sedang hamil anak orang?" Sekali lagi Darma meyakinkan laki-laki itu bahwa keputusannya tidak akan disesali nantinya.


Darma khawatir jika Zidan hanya main-main dan terburu-buru mengambil keputusan. Bagaimanapun juga dia tidak ingin anaknya menderita di kemudian hari.


Tapi Zidan tetap kekeh dengan pendiriannya, dia tetap mau menikahi Clara meski dia tahu perempuan itu sedang hamil bukan darah dagingnya. Rasa cinta yang begitu besar pada Clara membuatnya ikhlas menerima perempuan itu apapun keadaannya.


"Nak Zidan tidak akan menyesal?" 


Zidan menoleh Clara yang sedang menangis dalam pelukan bu Franda, lalu kembali menatap Darma.


"Tidak, om. Saya tidak akan pernah menyesali keputusan yang sudah saya ambil. Saya sangat mencintai Clara melebihi saya mencintai diri saya sendiri." 


Tiba-tiba Zidan berlutut di bawah kaki Darma. 


"Om, tolong nikahkan saya sama Clara. Saya sangat mencintainya, saya janji akan melindungi mereka. Saya janji akan mencintai dan menyayangi anak itu seperti saya mencintai anak saya sendiri." Tegas dan tanpa keraguan sedikitpun. 


Darma menoleh bu Franda meminta pendapat dari perempuan itu. Bu Franda hanya menjawab dengan anggukan, dia tahu Zidan pasti akan menjadi suami dan ayah yang baik buat Clara dan bayinya. Meskipun Zidan masih muda, tetapi pola pikir pemuda itu sangat dewasa dan bertanggung jawab.


Akhirnya Darma mengiyakan dan akan menikahkan mereka setelah Clara keluar dari rumah sakit.


Menjelang ashar Zidan pamit pulang ke rumahnya dan berjanji akan kembali lepas isya. 


Bu Franda membelai rambut anak sahabatnya itu. 


"Selamat ya sayang, kamu beruntung dicintai oleh laki-laki seperti Zidan. Sudah ganteng, baik, dan ibu lihat dia bisa bertanggung," ucap Bu Franda.


Clara hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dia masih saja belum percaya dengan apa yang barusan terjadi.


Sementara sampai detik ini nama Yuan masih menghuni hatinya. Entahlah, dia sudah berusaha melupakan laki-laki itu dengan mengingat perbuatannya terhadapnya, tetap saja dia tak mampu.


Seharusnya dia membenci Yuan, tapi sulit. Entah mantra apa yang digunakan lelaki itu sampai menghapusnya dari pikiran begitu sulit.


"Bagaimana perasaanmu? Apa kamu masih mencintai lelaki itu?"


Clara diam sesaat, kemudian mengangguk pelan. Dia tidak mau berbohong pada bu Franda yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.

__ADS_1


"Tidak apa, pelan-pelan kamu pasti bisa melupakannya dengan kehadiran Zidan di sampingmu."


Clara mengangguk, dia pun berharap seperti apa yang bu Franda katakan. Dia akan lebih berusaha mencintai Zidan.


Darma masuk dengan kantong berisi buah di tangannya, pria itu tadi pamit mengantar Zidan sampai ke parkiran. Diam-diam pria itu pun kembali menanyakan keseriusan Zidan hendak menikahi putrinya, dan nyatanya Zidah tetap pada pendiriannya.


"Ayah darimana kenapa lama sekali?" tanya Clara yang tak sabar menunggu. Dia tadi berpesan ingin makan buah-buahan.


"Ayah tadi ke mushola sholat ashar dulu." Sahut Darma sambil mengupas buah apel yang baru dibelinya.


"Ayah sholat?" Clara seperti tak percaya, selama ini dia tidak pernah melihat Darma beribadah sekalipun.


"Hei, kau jangan meledek ayah. Selama ini ayah memang tidak pernah sholat, tapi ayah percaya Allah itu ada." Darma memberikan buah apel yang baru dikupasnya pada Clara dan bu Franda.


"Terima kasih," ucap bu Franda tersenyum malu, Darma balas tersenyum. Bu Franda lalu membuang mukanya ke samping karena Darma terus menatapnya.


Clara yang melihat aksi itu jadi tersenyum sendiri. Dia tahu dulu mereka adalah sepasang kekasih. Dia tahu itu dari om Arman. Dan timbul niat dalam benaknya untuk menyatukan mereka kembali.


"Kenapa kalian tidak menikah saja, Clara setuju kok kalo kalian menikah." Celetukan Clara barusan mengalihkan kedua pandangan mereka pada gadis itu, Clara hanya tersenyum menggoda.


"Clara, kamu jangan sembarangan bicara. Mana mungkin kami menikah, ayah sudah janji pada ibumu bahwa ayah tidak akan pernah menikah lagi."


Meskipun Darma menikahi Harnum tanpa cinta, tetapi tak pernah sedikitpun terbesit dalam benaknya untuk menikah lagi setelah wanita itu meninggal. Ia akui dirinya suka main perempuan, tapi tak ada satupun yang ditidurinya. Wanita-wanita itu hanya diminta menemaninya minum. Dan mereka akan pergi setelah Darma membayarnya.


"Ayah, ibu pasti juga setuju kok, kalo ayah menikah lagi. Clara yakin itu. Apalagi ayah menikah dengan sahabat baiknya."


Darma berdecak, dia sedikit kesal Clara menggodanya. Sebab, dirinya pun masih memiliki perasaan pada bu Franda meskipun hanya tinggal sedikit.


"Hei anak kecil." Darma mencolek hidung Clara membuat gadis itu nyengir. "Tau apa kamu hal beginian hah?"


"Ayah, Clara sudah besar. Sudah mau 20 tahun. Palah sudah mau jadi ibu."


Darma terdiam. Yah, Clara ternyata sudah besar, selama ini dirinya tak pernah memperhatikan anaknya. Dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.


"Sudah, kenapa jadi bahas ayah? Sekarang ayah mau tanya sama kamu? Kamu mau menikah dengan Zidan?" sambung Darma. 


Clara diam sesaat, urung menggigit buah apel di tangannya kemudian mendesah.


"Entahlah ayah, Clara masih bingung. Clara takut Zidan hanya kasihan pada nasib Clara." 

__ADS_1


"Tidak, dia sangat serius."


"Darimana ayah tau itu?"


"Ayahmu ini laki-laki jadi ayah tahu mana laki-laki yang serius dan mana yang cuma main-main."


"Ohiya Clara lupa, ayah kan mantan playboy," ledeknya lalu terkekeh.


"Apa kamu bilang? Kamu mengejek ayah? Nih rasakan." Darma menggelitiki perut Clara membuat gadis itu tertawa-tawa.


Bu Franda hanya melihat dan tersenyum, sejak tadi dia melihat ayah dan anak yang sedang bercengkrama begitu akrabnya. Dia jadi membayangkan jika mereka adalah suami dan anaknya. Oh, alangkah bahagianya dirinya. Punya anak yang cantik dan baik seperti Clara, dan juga … punya suami seperti Darma yang sudah kembali hangat seperti dulu.


'Apa aku berlebihan karena masih mengharapmu Darma? Aku tau hatimu kini hanya untuk Harnum, tapi … aku masih ingin mewujudkan mimpi kita dulu. Menikah dan hidup bahagia dengan keluarga kita?' batin bu Franda lalu menghapus sesuatu yang baru saja mengalir dari tempatnya.


***


Zidan baru saja mengunci pintu rumahnya ketika sebuah mobil memasuki halamannya dan berhenti dengan tergesa, pengemudinya keluar dan langsung melayangkan pukulan di wajahnya.


Bug


Zidan yang tak menyangka akan mendapat serangan mendadak pun tersungkur ke lantai, dia berusaha bangun lalu memegangi pipinya yang terasa sakit, ada darah segar mengalir dari salah satu sudut bibirnya.


"Kenapa tiba-tiba memukulku?"


"Itu pantas untukmu karena berani merebut Clara dariku. Clara hanya boleh menikah denganku. Dia milikku!" Yuan sangat geram dan marah, tadi sòre dia sempat melihat saat Zidan melamar Clara  pada ayahnya.


Zidan tersenyum, dia berusaha tetap tenang agar tidak terpancing emosi.


"Apa menurutmu begitu? Apa kamu yakin … aku merebut Clara darimu? Bukannya dia yang nggak mau sama kamu ya?" Zidan maju beberapa langkah hingga jaraknya dengan Yuan hanya setengah meter.


"Kamu sudah menghinanya, menyakiti hatinya. Apa kamu masih belum puas? Apa menurut kamu pantas Clara mendapatkan itu semua? Dia sangat mencintaimu sampai rela menyerahkan semuanya buat kamu, tapi kamu malah menghinanya. Menganggap dia wanita murahan."


Yuan kehilangan kata-kata, lidahnya tiba-tiba terasa kelu. Ya, dia telah menyakiti hati perempuan yang sangat dicintainya. Seharusnya ia sadar itu, pantas saja jika Clara menolak bersamanya. 


Melihat Yuan tak berkutik membuat kedua sudut bibir Zidan melengkung ke atas, tersenyum penuh kemenangan.


"Biarkan Clara bahagia denganku, aku akan menjaganya dengan segenap kemampuanku."


Usai berkata Zidan meninggalkan Yuan yang berdiri mematung di tempat, Zidan masuk ke mobilnya.

__ADS_1


"Sialan dia, wajah tampanku jadi bengkak begini. Aku harus menutupnya pake hansaplast kalo nggak Clara pasti nanti curiga." Gumam Zidan saat melihat wajahnya di kaca spion bagian dalam.


Bersambung 


__ADS_2