
***
Clara sedang mematut dirinya di depan cermin, kebetulan malam ini ia mendapat giliran libur. Dan sesuai janjinya ia akan pergi dengan bosnya. Biasanya jika libur seperti ini Clara lebih suka belajar atau pergi bersama Dion meski hanya jalan-jalan ke taman, makan bakso atau terkadang nonton ke bioskop. Clara selalu merasa nyaman dan terlindungi setiap ia bersama dengan Dion. Dion sangat baik, lembut dan penyayang. Tidak seperti Yuan yang sering membuatnya jengkel dan naik darah.
Tapi karena malam ini dia harus menemani Arman, jadi dia tidak bisa belajar atau pun pergi dengan Dion atau pergi dengan Yuan seperti kemarin. Ya, tentu saja tanpa sepengetahuan Dion meskipun mereka tidak pergi berdua, tapi ada Adelia juga.
"Hei, kanapa aku jadi mikirin dia sih? Nggak, nggak, aku udah punya Dion. Fokus ke Dion Clara jangan mikirin cowok lain!"
Usai memastikan penampilannya Clara lalu keluar, mencari sang ayah untuk pamitan.
"Ayah Clara pergi dulu, kopi sudah Clara siapkan juga makan malamnya di atas meja. Kalo mau pergi jangan lupa pintunya di kunci!" ucap Clara di depan pintu kamar ayahnya, Clara tahu Darma sudah bangun karena tadi Clara melihat ayahnya muntah-muntah di kamar mandi. Pasti karena sisa mabuk semalam.
"Hmmm."
Hanya terdengar itu dari dalam kamar bercat putih yang sudah memudar itu. Clara kembali berpamit dan mengingatkan Darma untuk mengunci pintunya jika hendak pergi. Clara sendiri sudah membawa kunci serep agar tidak perlu mengganggu ayahnya tidur.
Clara berdiri di teras menunggu jemputan karena bosnya berjanji akan menjemputnya. Dan benar saja, tak berapa lama sebuah sedan berwarna hitam mengkilap berhenti tepat di depannya. Pengemudinya turun lalu menghampiri Clara.
"Sudah lama nunggu?" tanya pria yang sebenarnya pantas menjadi ayah Clara. Clara tersenyum.
"Lumayan om," sahut Clara sopan.
"Kamu cantik banget malam ini, Clara."
Kedua pipi Clara merona kian menambah kecantikkannya. "Ah, om bisa aja," sahutnya tersipu.
"Sudah siap pergi?" Clara mengangguk, Arman membukakan pintu mobil untuk Clara sementara dirinya memutari badan mobil kemudian duduk di belakang kemudi.
"Gimana kuliahnya, lancar?" tanya Arman dalam perjalanan.
"Lumayan om," sahut Clara singkat.
Arman menganggukkan kepalanya. "Kalo butuh apa-apa jangan segan bilang sama om. Kamu itu sudah om anggap seperti anak om sendiri jadi jangan sungkan."
Clara tersenyum, meski tidak pernah merasakan kasih sayang dari Darma tapi Clara bersyukur karena Arman sayang menyayangi dan peduli padanya. Padahal pria itu bukan siapa-siapa hanya sahabat ibunya, sementara Darma ayah kandungnya sendiri jangankan menyayanginya sekali pun tidak pernah pria itu bicara baik terhadapnya, yang keluar dari mulut dari Darma hanya cacian dan hinaan yang belum tentu kebenarannya.
Clara sering bertanya pada Arman mengenai ibunya. Dan laki-laki itu mengatakan bahwa ibunya perempuan baik-baik.
__ADS_1
Tak terasa mobil sedan itu sampai di tempat yang dituju, sekali lagi Arman membukakan pintu mobil untuk Clara membuat gadis itu merasa tersanjung karena diperlakukan seperti ratu.
Mereka lalu masuk dan duduk di kursi yang telah sebelumnya Arman pesan.
Seorang pramu saji datang membawakan makanan lalu menatanya di meja.
"Ayo dimakan kok cuma dilihatin aja?" Arman heran karena Clara hanya melihat makanannya tanpa menyentuhnya.
"Clara bingung cara makannya, om." Seumur belum pernah Clara makan stik sekali pun, menyajikan sering tapi makan belum pernah.
"Kamu belum pernah makan stik?" tanya Arman yang di jawab anggukan Clara. Pria itu lalu mengajarinya cara memotong stik. Namun, berkali-kali gadis itu mencoba tapi tetap saja tidak bisa, palah stik yang dipotongnya terlempar ke kolong meja. Tentu saja itu membuat Arman tertawa terpingkal-pingkal.
"Dih om nih, bukannya diajarin palah diketawain.' Clara memajukan bibirnya ke depan membuat tawa pria yang duduk di depannya tak berhenti tertawa, baginya Clara sangatlah lucu dan menggemaskan. Andai ia masih muda pasti sudah jatuh cinta pada Clara.
"Nggak makan ah, susah." Clara mendorong piring menjauh darinya, meraih jus melon kesukaannya lalu menyeruputnya.
Clara sangat kesal pada dirinya sendiri karena memotong stik saja ia tidak bisa. Melihat gadis di depannya terus manyun Arman berdiri lalu mengajari Clara cara memotong stik.
"Nah, gampang kan? Sekarang kamu coba sendiri!"
Clara mencobanya dan berhasil, gadis itu bersorak senang. Tidak peduli dengan pengunjung yang melihat ke arahnya. Mungkin dalam benak mereka kelakuan Clara sangat kampungan dan norak. Tapi bukan Clara namanya jika diambil pusing.
Sebenarnya malam ini Yuan berniat mendekati Clara atas usul Dion dirinya harus bersikap romantis. Dan entah kenapa sejak pertama kali bertemu dengan Clara Yuan merasa ada sesuatu yang berbeda dari Clara dari gadis-gadis lain. Ia yang biasanya acuh terhadap perempuan menjadi sangat tertarik terhadap Clara. Yuan merasa hanya Clara yang mampu membuat hatinya bergetar.
Namun, kini apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Yuan mulai berargumen jika Clara sama saja dengan perempuan-perempuan kebanyakan. Rela menjual diri demi lembaran rupian pada pria hidung belang.
"Ternyata kamu sama saja dengan kebanyakan perempuan, Clara, murahan. Aku pikir kamu beda dari yang lain tapi ternyata aku salah. Kamu tak ubahnya seperti sampah masyarakat yang menjijikan."
Yuan meremas kaleng minumannya hingga tak berbentuk lalu pergi meninggalkan restaurant. Menaiki motornya dengan kecepatan tinggi. Ia sengaja membawa motor biar bisa saling berdekatan dengan Clara. Tadinya Yuan sudah membayangkan akan dipeluk Clara dari belakang, membayangkan gadis cantik itu menyandarkan kepalanya sambil berkata, "aku juga sayang sama kamu, kak Yuan.".
"Sialan! Kenapa pikiranku selalu terbayang wajah gadis sialan itu?" maki Yuan yang entah pada siapa yang jelas ia membenci Clara kini.
***
"Makasih ya, om, udah traktir Clara makan enak," ucap Clara setelah turun dari mobil Arman, pria itu tersenyum.
"Sama-sama om juga seneng karena kamu mau nemenin om makan."
__ADS_1
Clara mengangguk, andai ayahnya sebaik dan selembut Arman pasti ia akan sangat bahagia. Tidak perlu lagi merasakan tinggal di rumah yang selalu membuatnya seperti di neraka.
"Clara," panggilan Arman sedikit membuat Clara kaget. Pria itu melambaikan tangannya agar mendekat.
"I-iya om," sahutnya terbata lalu menurut.
"Om boleh peluk kamu nggak?"
Clara terdiam sejenak tapi sejurus kemudian mengangguk. Sedikit merendahkan tubuhnya agar Arman yang ada di dalam mobil dapat memeluknya. Nyaman dah hangat saat Clara merasakan rengkuhan Arman pada tubuhnya hingga tidak terasa ia sanpai meneteskan air matanya.
"Terima kasih ya?" ucap Arman lalu melepas pelukan, Clara tahu apa yang sahabat ibunya itu maksudkan. Arman tidak mempunyai keturunan karena dia mandul. Namun, istrinya menolak untuk diceraikan meski Arman mengatakan jika ia pantas mendapatkan laki-laki yang lebih baik darinya.
"Iya, om, sama-sama."
Arman lalu berpamitan setelah memaksa Clara menerima amplop darinya. Chara hendak membalikkan badannya ketika sebuah panggilan berhasil membuatnya urung.
"Kak Yuan?"
Laki-laki itu berlari kecil menghampiri Clara.
"Sedang apa kak Yuan disini?"
"Nungguin kamu."
Clara mengerutkan dahinya. "Nungguin aku? Kenapa?" Sejak kapan laki-laki itu menunggunya.
"Mau ajak kamu nonton. Mau ya, please. Ya, ya?" Yuan memohon sambil menangkupkan kedua tangannya di depan wajah.
Clara diam sesaat. "Maaf kak, aku capek. Besok aku kuliah pagi sorenya aku mesti kerja sampai malam."
Ucapan Clara barusan disalah artikan oleh Yuan. "Munafik, capek karena baru melayani pria tua itukan?" Tentu saja itu hanya Yuan ucapkan dalam hati.
"Sebentar aja, janji deh nggak lama," Yuan masih kekeh mengajak Clara pergi.
"Maafkan lain kali aja ya, aku capek banget lagian ini juga udah malam."
"Kamu capek karena baru melayani pria tadi kan?"
__ADS_1
Bersambung