NODA MERAH KEKASIH

NODA MERAH KEKASIH
MORNING SICKNESS


__ADS_3

***


Clara membuka kedua matanya dan langsung melompat dari tempat tidur ketika perutnya semakin bergejolak. Ia muntah-muntah di kamar mandi hingga tubuhnya terasa lemas seperti tak bertenaga.


Clara menyender pada tembok, membersihkan mulutnya dengan tisu yang ada di sana kemudian terisak. 


Begitu berat hidupnya, sedari kecil sepertinya hidup sepertinya tak pernah mengizinkannya untuk bahagia. Baru saja kebahagiaan menghampirinya, tetapi badai yang datang justru semakin besar. Rasanya ia ingin mati saja. 


Apa dirinya terlahir memang untuk selalu menderita? Bila ia berkaca membanding-bandingkan teman-temannya, ia iri. Mereka sangat bahagia dan tak menanggung beban berat seperti dirinya.


'Kak Yuan' 


Setiap mengingat nama itu hatinya sangat sakit. Entah ada apa dengan dirinya. Padahal ia bukan tipe gadis yang mudah terpikat dengan lawan jenis, tapi entah kenapa dengan mudahnya ia jatuh cinta pada pria itu. Bahkan, sejak pertama mereka bertemu perasaan suka itu sudah muncul. 


Hanya saja awalnya abai karena ia sudah memiliki Dion, tapi bukannya semakin hilang perasaan itu justru semakin kuat sampai ia tidak menahannya dan terjadilah hal seperti sekarang.


Apa salah dirinya mencintai Yuan yang usianya terpaut 7 tahun darinya? Tapi bukankah cinta tak mengenal usia? Lalu apa yang salah dengan dirinya? 


Tidak, ia tidak salah mencintai Kak Yuan. Keadaanlah yang salah karena mempermainkan hidupnya hingga terjadi musibah ini.


 


Tok tok tok


"Clara?"


Seseorang mengetuk pintu kamarnya dan disusul memanggil namanya. Dihapusnya dua matanya yang basah. Ia harus terlihat baik-baik saja, ia tidak boleh lemah di depan bu Franda. Wanita itu sudah terlalu banyak ia repotkan dan dirinya tak ingin lagi menambah bebannya.


Setelah memastikan tak ada jejak gurat kesedihan Clara beranjak menuju pintu dan membukanya.


Bu Franda tersenyum. "Ibu buatkan susu untukmu." 


Clara menyingkir, memberi akses wanita yang telah begitu baik kepadanya untuk masuk. Bu Franda menyimpan gelas di atas nakas, lalu duduk di tepi ranjang diikuti Clara.


"Apa kamu muntah-muntah lagi, Nak, ibu dengar tadi dari luar?" tanyanya menatap lekat Clara.


Clara mengangguk. "Iya, bu," jawabnya singkat lalu menunduk, kedua matanya berkaca-kaca.


Tangan bu Franda terulur membelai rambutnya. 


"Kasihan kamu, seharusnya disaat seperti ini kamu didampingi suamimu. Apa kamu yakin tidak mau bertemu laki-laki itu dan meminta pertanggung jawaban?"


"Bu, Clara sangat membencinya. Clara …"

__ADS_1


"Tapi kamu juga mencintainya kan?"


Clara menunduk dalam dan terisak. Ia memang membenci Yuan, tetapi juga mencintainya sepenuh hati. Dulu saat bersama Dion dia tidak merasakan cinta sebesar cintanya kepada Yuan. Padahal mereka belum lama kenal, tapi cintanya kepada Yuan sudah terlalu besar hingga dia tak mampu membendungnya.


"Clara, andai dia mau bertanggung jawab dan menikahimu kamu tidak akan menanggung derita ini sendirian," sambungnya masih dengan mengusap kepala gadis malang di sampingnya.


"Entahlah, bu. Clara tidak ingin menyakiti Adel, dia juga sangat mencintainya."


"Tapi kamu lebih membutuhkan dia daripada Adelia. Ibu yakin Adel pasti akan mengerti, kalian kan bersahabat sudah sangat lama jadi tidak mungkin Adelia …"


"Buuu … tolong jangan paksa Clara. Biar Clara tanggung semua ini sendirian. Toh ini juga karena kesalahanku juga, andai aku tak membalas perbuatannya semua ini tidak akan pernah terjadi." Clara menunduk kembali, dua butir air mata kembali meluncur dari kedua matanya.


Tangan bu Franda terulur mengusap kepalanya lembut. Sungguh dia sangat kasihan pada Clara yang tak jauh beda dari ibunya-Harnum. Hamil diluar nikah. Dan anehnya lagi mereka sama-sama terjebak cinta segi tiga. Dirinya, Harnum, dan Darma.


Bu Franda meninggalkan Clara sendirian setelah memaksanya untuk menghabiskan susu hamil yang ia buat tadi. Akhir-akhir ini Clara terlihat makin kurus meskipun makannya banyak, tapi karena mengalami muntah di pagi hari membuat asupan gizi yang diserap tubuhnya menjadi berkurang.


Mungkin dia akan bertanya pada dokter bagaimana cara mengatasi agar Clara tidak muntah-muntah lagi.


***


Zidan dan Adelia tiba di tempat kerja Clara, dan seperti biasa Zidan langsung dikerubuti penggemarnya. Adelia menyingkir menyelamatkan diri. Selama ini Adelia tidak pernah sekali pun pernah tahu tempat kerja Clara. Memang terdengar sangat aneh tapi itu kenyataannya. 


Adelia tidak suka dengan dunia luar apalagi keluar malam. Bukan orang karena kedua orang tuanya tidak mengizinkannya, tapi memang dirinya benar-benar tidak suka. Jika  tidak ada keperluan mendesak Adelia lebih suka berada di dalam rumahnya, bermanja-manja pada pengasuhnya sejak bayi.


Sepertinya ia baru mengantarkan pesanan pelanggan.


Adelia tak menjawab, menatap Dinda dengan seksama.


"Sepertinya aku pernah melihatmu tapi dimana ya?" 


Adelia merasa lucu, dirinya baru pertama kali datang ke tempat itu, tetapi gadis di sampingnya sudah merasa sok mengenalnya? Apa ini modus penipuan baru?


"Ah iya aku ingat sekarang, kamu Adelia kan, temannya Clara? Clara sering bercerita tentang kamu."


Adelia jadi tertarik, mungkin gadis ini teman Clara. Ah iya tentu saja mereka kan sama-sama bekerja di kafe ini? 


"Iya, aku Adelia. Kamu …"


Dinda mengulurkan tangannya dan Adelia menyambutnya. "Dinda. Namaku Dinda. Teman Clara di sini."


"Adelia Starla Sadewa. Panggil saja Adel."


Keduanya lalu terlibat obrolan, Adelia banyak bertanya mengenai Clara. Dan dari sinilah Adelia baru tahu jika pacar Clara bukanlah Zidan, tapi Dion. 

__ADS_1


'Dion? Dion adiknya kak Yuan kah? Ah tidak mungkin, penduduk Jakarta ini kan banyak jadi pasti bukan Dion itu?' Adelia membatin, dia berpikir sepertinya dirinya tak mengenal Clara sepenuhnya. Buktinya pacar sahabatnya saja ia tidak tahu? Sahabat macam apa dirinya?


"Udah 2 hari Clara nggak masuk kerja, dihubungi nomornya pun nggak aktif. Aku pikir dia sakit."


"Clara tidak ada di rumah, kata tetangganya dia pergi. Apa kamu tau teman Clara yang lain?"


Dinda diam sejenak kemudian menggeleng. Sepanjang ia mengenal Clara gadis itu sangat tertutup, Clara jarang menceritakan kehidupannya. Hanya sesekali itu pun cuma seputar kuliah dan Adelia.


"Itu Dion. Dion!" Dinda melambai ke arah laki-laki yang baru saja masuk ke kafe, kedua mata Adelia mengikuti. 


Mulutnya setengah terbuka dan kedua matanya membola sempurna. 


Bagaimana tidak? Dion yang dimaksud Dinda ternyata benar  Dion yang dirinya kenal, Dion adiknya Yuan.


"Adel, kok kamu di sini, sama siapa? Kak Yuan mana?" Dion membrondong Adelia dengan pertanyaanya, lalu celingukan mencari keberadaan kakaknya-Yuan.


"Dion? Kamu kerja di sini atau ini kafe kamu?" Adelia abai pertanyaan Dion, dia justru bertanya balik.


Adelia masih belum percaya jika Dion ini pacarnya Clara. Tapi kenapa Clara tak pernah bercerita? Atau dirinya yang tidak mengerti sahabatnya itu?


Adelia kecewa karena selama ini dirinya ternyata tidak terlalu menghiraukan Clara. Bisa saja kan selama ini Clara akhir-akhir ini berubah jadi pendiam karena beban yang dia tanggung teramat berat dan tidak tahu harus cerita pada siapa karena dirinya yang terlalu fokus pada Yuan. Dan Clara merasa terabaikan akhirnya pergi.


"Iya, kamu sama siapa ke sini? Sama kak Yuan kan?" Dion mengulang pertanyaannya.


"Bukan. Tuh ..." Adelia mengarahkan dagunya menunjuk Zidan yang sedang melayani penggemarnya yang minta berfoto dengannya.


"Zidan?"


"Hu'um."


Dion lalu berpamit ke ruangannya di susul Dinda di belakangnya.


"Kamu tau nggak Dion, kalo Clara pergi dari rumah?" Tanya Dinda sambil menutup pintu ruangan Dion. Laki-laki itu lalu lalu duduk. Dinda pun duduk di depannya.


"Pergi? Clara pergi kemana?" Wajah Dion terlihat biasa saja, tak nampak kekhawatiran sedikitpun. Apa Clara tak ada lagi di hatinya?


"Aku juga nggak tau, aku udah telpon, tapi nomornya gak aktif." 


"Oh."


Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Laki-laki ya dulu katanya begitu mencintai Clara dan akan selalu menunggunya.


'Kenapa Dion seacuh itu? Apa dia sudah melupakan Clara? Secepat itu kah dia melupakannya?' batin Dinda, ia jadi ragu apakah Dion benar-benar mencintainya? Sedang Clara yang sudah dipacarinya lama saja dengan mudah Dion lupakan?

__ADS_1


Bersambung 


__ADS_2