
***
Yuan menarik nafas dalam sebelum mengetuk pintu di hadapannya. Saat ini dia tepat berada di depan rumah bu Franda, dia sengaja menunggu Clara pergi karena ingin bertemu dengan bu Frida.
Dengan ragu diketuknya pintu bercat warna putih itu.
Tok tok tok
"Iya sebentar."
Tak berapa lama pintu terbuka, bu Franda tertegun melihat siapa yang berdiri di depannya.
"Kamu? Darimana kamu tahu alamat rumah saya?"
Yuan tak menjawab, dia hanya menatap bu Franda dengan tatapan memohon seolah-olah berkata 'izinkan saya masuk'.
"Mau apa kamu kesini? Kalau Clara tahu dia pasti akan marah. Pergilah sebelum Clara pulang!" Bu Franda hendak menutup pintunya, tetapi Yuan menahan dengan tangannya.
"Saya ada perlu sama anda," ucapnya mengandung permohonan.
Bu Franda terdiam, menimbang-nimbang apakah ia harus mengizinkan laki-laki itu masuk atau tidak? Dan pada akhirnya mengizinkan Yuan masuk.
"Silahkan duduk. Saya tinggal sebentar." Tanpa menunggu jawaban bu Franda meninggalkan Yuan sendirian di ruang tamu.
Sepeninggal bu Franda Yuan mengedarkan pandangannya. Rumah bu Franda itu lumayan besar dan terlihat sangat nyaman. Jika dilihat dari perabotannya yang kebanyakan berisi pernak-pernik dari kerang laut sepertinya bu Franda itu sangat menyukai pantai.
Kedua matanya mengedar lagi, ia melihat dua buah pintu kamar yang bersisian, ia yakin salah satunya adalah kamar Clara. Mendadak jantungnya berdebar, setiap mengingat gadis itu perasaan berdosanya muncul. Betapa terlukanya Clara sekarang karena perbuatannya.
Seharusnya dirinya malu datang dan minta pengampunan dari Clara, tetapi dia tidak mau terus dihantui dosanya. Ia tahu perbuatannya sangat tidak termaafkan.
Tak berapa lama bu Franda muncul dengan nampan berisi minuman berwarna merah. Wanita itu duduk di depan Yuan setelah menyimpan minuman itu di meja.
"Silahkan diminum."
Tanpa menunggu tawaran berikutnya Yuan langsung meraih gelas dan meminum minumannya hingga tinggal setengah. Kebetulan dia juga sedang butuh guyuran air untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering.
Lama Yuan hanya menunduk terdiam, dia bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Dia seperti seorang ABG yang sedang meminta izin pada ibu untuk memacari anak gadisnya.
Ini benar-benar memalukan, seorang pria dewasa berusia 27 tahun masih saja grogi saat berhadapan dengan wanita berumur di depannya. Padahal bu Franda bukan ibunya Clara, tetapi mengapa dirinya sangat gugup.
"Ehemm, tadi katanya Nak Yuan ada perlu sama saya cepat katakan saya tidak punya waktu, saya harus pergi ke kampus!"
Yuan memberanikan diri mengangkat wajahnya, menatap wanita di depannya yang sepertinya sangat tenang meski ada kecewa yang Yuan tangkap dari sana. Mungkin dia marah padanya.
__ADS_1
"Sebelumnya saya mau minta maaf, mungkin kesalahan saya memang tidaklah cukup untuk sekedar minta maaf."
"Jangan berbelit-belit waktuku tidak banyak," tegas bu Franda setelah menoleh jam dinding hampir menunjuk angka 1 itu artinya dia harus pergi mengajar.
Yuan menarik nafas dalam. "Begini bu, bisakah ibu membantu saya agar Clara mau menikah dengan saya? Saya ingin menikahinya, saya ingin menebus dosa saya?" Yuan terdengar sangat tulus.
Bu Franda menatap ke dalam mata itu, mencari kesungguhan di sana. Dan dia melihat kesungguhannya di mata itu, tetapi dia tidak punya hak mengatur masa depan Clara. Clara sudah besar dan dia tahu mana yang baik untuk hidupnya. Dan Clara sudah memilih Zidan untuk masa depannya.
Sebagai orang tua dirinya hanya bisa mendoakan semua akan baik-baik saja.
"Maaf Nak Yuan, saya tidak bisa melakukannya. Saya tidak punya wewenang untuk memaksa Clara. Kamu kan tahu sendiri dia sangat membenci Nak Yuan. Nak Yuan telah menginjak-injak harga dirinya, Nak Yuan juga telah melukai hatinya. Saya takut ini justru akan semakin membuatnya terluka."
Yuan tertunduk lesu mendengar ucapan bu Franda. Iya, dia telah menginjak harga diri Clara dan dia juga telah menghina gadis itu. Seharusnya dia bisa melihat dan tahu saat tubuh Clara menggigil saat disentuh. Clara juga terlihat kaku saat ia ******* bibir gadis itu?
Dan seharusnya dengan tanda-tanda itu dirinya sadar jika itu adalah untuk pertama kalinya buat Clara, tapi dia sama sekali tak berpikir ke arah sana. Yang hanya di otaknya hanya nafsu untuk menguasai Clara malam itu.
"Jika sudah tidak ada perlu silahkan pergi dari rumah saya dan jangan pernah kembali lagi. Clara tidak akan sudi bertemu lagi dengan kamu!" Bu Franda berdiri meninggalkan Yuan.
"Apa anda ingin Clara dan saya menderita karena tidak bisa bersatu?"
Kalimat itu berhasil menghentikan langkah bu Franda, kemudian memutar tubuhnya.
"Apa maksudmu?"
Ya, dia tahu Clara juga mencintai laki-laki itu, tapi itu dulu. Sekarang Clara membencinya.
"Tolonglah bu, saya mohon bantu saya membujuk Clara bu?" Tiba-tiba Yuan berlutut di depan bu Franda membuat wanita itu tersentak mundur beberapa langkah.
"Apa yang kamu lakukan? Berdiri!"
Yuan menggeleng. "Saya tidak akan berdiri sampai Ibu mengatakan akan membantu saya, saya juga tidak akan pergi meskipun Ibu mengusir saya."
Yuan tetap kekeh dan tak mau bangun meski berkali-kali bu Franda memintanya.
"Hah, baiklah. Saya akan mencoba membujuk Clara, sekarang bangun!" Yuan menurut dan bangun, meraih tangan bu Franda lalu menempelkannya ke pipi.
"Terima kasih, Bu. Terima kasih."
"Iya, iya, tapi saya tidak janji Clara mau menikah denganmu. Dia sangat kecewa sama kamu."
"Tentu saja dia sangat kecewa, saya memang sangat berdosa padanya."
"Sekarang pulanglah sebelum Clara pulang."
__ADS_1
Yuan akhirnya pulang dengan perasaan sedikit lega. Setidaknya dia masih punya harapan untuk bisa bersama dengan Clara meski caranya ini tidaklah menunjukkan ke gantelan, justru terlihat sangat kekanakan, tapi dia tak peduli yang penting dia bisa menikahi Clara agar beban di dalam hatinya berangkat.
Sepeninggal Yuan Bu Franda masih berdiri di tempatnya, dia masih ragu dengan keputusan yang telah diambilnya. Benarkah keputusannya sudah tepat atau justru keputusan yang diambilnya adalah salah?
"Hah, semoga saja tidak. Aku hanya ingin melihat Clara bahagia bersama siapapun nanti." Gumamnya kemudian meraih gelas dan membawanya ke dapur, setelah itu siap-siap pergi ke kampus untuk mengajar.
Di luar Yuan yang hendak masuk ke dalam mobilnya urung saat melihat sebuah mobil sport memasuki halaman rumah yang baru saja ditinggalkannya. Dia memang sengaja memarkir mobilnya sedikit jauh dari rumah Bu Franda agar tak mencurigakan.
Dari jarak sekitar 20 meter, Yuan melihat Clara turun dari mobil dengan dibukakan pintu Zidan. Tak hanya itu, Zidan juga merendahkan badannya sedikit lalu mengulurkan tangannya pada Clara.
"Kita sudah sampai tuan putri, mari hamba bantu turun," ucap Zidan mesra dengan senyum menggoda.
"Hahaha, apaan sih, Zi, lebay deh."
Zidan kian melebarkan senyumnya terlebih saat Clara menyambut tangannya dan bersiap turun, tetapi sungguh sial roknya tersangkut sehingga keseimbangannya goyah. Dengan cepat Zidan menangkapnya.
Kedua mata mereka bertemu dan saling mengunci. Zidan tersenyum, menyibakkan rambut Clara yang menutupi sebagian wajahnya.
"Kamu cantik banget, Sell."
Clara tak menjawab, ia hanya diam menatap Zidan. Zidan sadar, Clara belum bisa membuka pintu hati untuknya.
"Ah, hati-hati!"
Clara tersentak lalu melepaskan diri dari pelukan Zidan. Zidan membantunya melepas roknya yang tersangkut.
"Makasih."
"Sama-sama. Yuk!"
Yuan sudah tidak tahan melihat adegan mesra itu di depannya. Tangannya terkepal, rahangnya mengeras, giginya gemeretak. Bisa-bisanya Clara sebahagia itu sementara dirinya selalu tersiksa karena terus dihantui dosa.
Tidak bisa, Clara tidak boleh bahagia tanpanya. Clara harus bahagia bersamanya, bukan dengan laki-laki lain.
Dengan amarah yang sudah di ubun-ubun, dengan langkah lebar Yuan menghampiri mereka.
"Clara …."
Clara maupun Zidan memutar badannya secara bersamaan. Wajah ceria Clara mendadak berubah pucat, tubuhnya bergetar melihat siapa yang berdiri di depannya.
"Ka--kamu?"
Bersambung
__ADS_1