
***
Usai makan malam mereka melanjutkan obrolan di beranda depan rumah, Clara membaringkan kepalanya di pangkuan Bu Franda. Sudah lama ia ingin merasakan seperti apa tidur di pangkuan seorang ibu.
Sementara Darma duduk tak jauh dari mereka, memperhatikan apa yang Bu Franda lakukan. Wanita itu membelai kepala Clara dan sesekali mendaratkan bibirnya pada kening Clara, dia memperlakukan Clara bagai anak kandungnya sendiri.
Tanpa terasa kedua sudut matanya menghangat dan pandangannya pun mulai mengabur. Clara yang selama ini belum pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Oh, andaikan waktu bisa diputar kembali dirinya tidak akan pernah menyia-nyiakan Harnum.
Perempuan tulus, lembut, dan juga penyabar. Namun, kini hanya tinggal penyesalan yang tersisa. Berjuta-juta maaf mungkin tidak akan mampu menebus semua dosanya pada wanita yang tak pernah dianggapnya.
"Ibu," panggil Clara.
"Iya, kenapa sayang?" Sahut Bu Franda masih membelai rambut Clara.
"Apa menurut Ibu Zidan mencintai Clara?"
"Tentu saja, Ibu bisa melihat jika dia sangat mencintaimu. Apa yang kamu ragukan?"
"Tidak, Clara tidak ragu. Clara cuma takut Zidan akan meninggalkan Clara. Ibu kan tau Zidan itu siapa? Banyak gadis-gadis di luaran sana yang memujanya. Clara takut tidak akan mampu bersaing dengan mereka dan akhirnya Zidan pergi."
"Hus, jangan ngomong begitu! Nak Zidan tidak seperti itu ibu yakin dia sangat mencintai kalian jika tidak mana mungkin dia mau menerima kamu?"
Benar juga apa yang dikatakan Bu Franda, tentu saja Zidan mencintainya jika tidak mana mungkin laki-laki itu mau menerimanya yang sudah ternoda.
Tapi … mengapa hatinya masih saja meragukannya. Seharusnya ia bisa melihat ketulusan dan kesungguhan Zidan terhadapnya.
Zidah rela berlelah-lelah mencari sesuatu apa yang ia mau meski itu sangat sulit dicari. Zidah juga rela menjemputnya padahal dirinya sendiri sangat lelah karena baru tiba dari luar kota.
Apa yang diragukannya coba? Mungkin tidak akan pernah ia menemui laki-laki seperti Zidan. Sudah ganteng, mapan, baik, masih muda, dan yang penting Zidan mencintainya apa adanya. Seharusnya ia bersyukur karena begitu beruntung mempunyai Zidan di hidupnya.
"Iya, semoga begitu."
Saat sedang asik bercengkrama sebuah mobil sedan masuk dan berhenti di halamannya.
Mereka lalu berdiri, saling melempar pandang satu sama lain. Dalam benak Bu Franda bertanya-tanya siapa tamu malam-malam begini? Sementara tubuh Clara bergetar karena tahu itu mobil Yuan.
"Mau apa lagi dia?"
"Kamu mengenalnya?" Tanya Bu Franda menoleh Clara, dia melihat wajah Clara yang mendadak pucat juga tampak sekali gadis itu khawatir.
"Dia Kak Yuan."
Darma yang tahu siapa yang datang bersiap siaga memasang badan di depan Clara, melindungi anak kesayangannya.
"Selamat malam Om, Bu Franda Clara?" sapa Yuan sopan dan ramah.
__ADS_1
"Mau apa lagi kamu kemari?" Darma menjawab lebih dulu, wajahnya dibuat sesangar mungkin seperti singa yang melindungi anaknya.
"Saya datang berniat baik, Om. Saya ingin bicara berdua saja sama Clara, Saya mohon. Saya janji … saya janji setelah ini saya tidak akan mengganggu hidupnya lagi?" Mohon Yuan, dia berharap Darma mau mengizinkannya berbicara dengan Clara.
Hatinya tidak akan tenang jika belum mendengar dari bibir Clara jika gadis itu sudah mengampuni perbuatannya.
Darma menoleh pada Clara meminta pendapat gadis itu apa yang harus dia lakukan. Clara berfikir sesaat kemudian mengangguk samar.
"Baiklah, kami tinggalkan kalian. Tapi awas … jika kamu macam-macam sama anak saya, saya tidak akan segan-segan mematahkan lehermu!"
Glek
Yuan menelan ludah mendengar ancaman ayah Clara. Dia tahu Darma tidak sedang main-main dengan ucapannya.
Clara mempersilahkan Yuan duduk setelah ayah dan Bu Franda masuk ke dalam rumah.
Hening sesaat, keduanya hanya saling diam tanpa ada yang berani buka suara. Clara mengatur detak jantungnya yang mulai beraturan.
Dia pikir dirinya sudah baik-baik saja, tetapi nyatanya rasa itu masih saja ada ada. Mengapa begitu sulit menghapus nama laki-laki itu dari hatinya dan menggantinya dengan nama Zidan.
"Kak Yuan mau bicara apa? Jika tidak ada aku mau masuk ke dalam?" Clara buka suara, dia sudah tidak tahan berada terus-terusan berdua dengan Yuan. Dia khawatir pertahanannya akan goyah dan akhirnya mengatakan semuanya jika dirinya tengah hamil anaknya.
Tapi bukankah Yuan berhak tahu? Dia ayahnya, tetapi ia tidak mau menyakiti Adelia. Jadi biarlah semua seperti ini.
Yuan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, dia butuh itu.
Ditatapnya Clara yang tampak masih pucat. Entah karena masih sakit atau karena tidak ada make up satu pun yang meriasi wajahnya, tetapi biar begitu Clara tetap terlihat sangat cantik meski kini terlihat lebih kurus.
"Sesuai keinginan kamu … saya akan bersama Adel dan menjaganya demi kamu," sambung Yuan masih tanpa mengalihkan pandangannya dari Clara.
Kedua mata mereka bertemu, dan lagi Clara merasakan dadanya kembali berdebar, tapi tidak seperti tadi. Kali ini terasa nyeri dan sedikit sakit.
Apa dia tidak rela melepas Yuan untuk Adelia? Seharusnya dirinya yang bersama Yuan bukan Adelia. Yuan sudah menghancurkan masa depannya dan terlebih ia sedang mengandung anaknya?
Kenapa ia harus merelakan ayah dari bayinya untuk wanita lain sementara dirinya juga butuh laki-laki itu? Seharusnya Adelia yang mengalah bukan dirinya.
Batin Clara terus berperang antara mengikhlaskan atau memperjuangkan. Dan disaat pergolakan batin itu tiba-tiba bayangan Zidan muncul di benaknya.
'Astaghfirullahaladzim, kenapa aku jahat pada Adelia? Terlebih kenapa aku tidak adil pada Zidan?'
"Clara tolong maafkan saya agar hidukupku tenang?" Tahu-tahu Yuan sudah berlutut di bawahnya sambil menggenggam tangannya.
Clara tersentak dan refleks menariknya tetapi genggaman Yuan sangat erat.
"Kak, lepaskan tangan aku dan bangunlah. Nggak enak dilihat orang lewat!" Clara malu pada tetangga yang kebetulan lewat depan rumahnya sambil berbisik-bisik membicarakan dirinya.
__ADS_1
"Clara beruntung banget ya? Laki-laki ganteng itu pasti sedang melamarnya? Lihat saja dari caranya yang … mmm so sweet."
Samar Clara mendengar obrolan dua gadis tetangganya yang baru pulang dari tempat kerjanya, dan salah satu dari mereka adalah Mbak Nayla. Gadis yang lumayan akrab dan sangat baik kepadanya.
"Hus, jangan ngedosip. Mari Clara, kami permisi?" Sapa Mbak Nayla ramah sambil sedikit membungkukkan badan.
Clara membalasnya dengan tak kalah ramah. "Iya Mbak. Baru pulang kerja, Mbak Nay?"
"Iya, permisi Clara? Yuk, Sal!" Ajak Mbak Nayla menarik tangan temannya yang bernama Salsa.
"Eh, bentar Nay, gue mau liat mereka dulu pasti endingnya kek difilm-film drakor itu. Oh … romantisnya."
Ingin rasanya Clara tertawa dengan ulah tetangganya yang memang jomblo itu. Padahal kenyataannya tidak seperti apa yang sedang gadis itu bayangkan.
Mbak Nayla menarik paksa Salsa setelah mereka berdebat cukup lama karena Salsa masih ingin melihat apa yang akan terjadi pada Clara dan Yuan selanjutnya.
"Tuh kan. Cepetan bangun Kak aku nggak mau terjadi kayak tadi!" Bagaimanapun Clara tak ingin tetangganya menggosipi dirinya.
"Saya tidak akan bangun sampai kamu mau memaafkan saya, biarpun kamu menyuruh ribuan tentara pun saya tetap tidak akan bangun sampai kamu mau memaafkan saya. Clara tolong ampuni saya?"
Clara menghela nafasnya dalam. Entah sudah keberapa dirinya mendengar laki-laki yang sedang berlutut di depannya itu meminta maaf. Sebenarnya sudah sejak lama dirinya memaafkan Yuan karena ia pun juga bersalah.
Andai waktu itu ia menolak aku menampar perbuatan Yuan musibah ini tidak akan terjadi.
"Clara, saya mohon masfkan saya? Saya janji tidak akan mengganggu hidup kamu lagi karena kamu tidak mau menikah dengan saya?"
'Bukan tidak mau Kak Yuan, tapi aku lakukan ini demi Adel. Dia sangat mencintaimu. Jadi barlah aku yang mengalah' batin Clara mengingatkan.
"Aku sudah memaafkan Kak Yuan karena aku pun juga bersalah. Sekarang bangunlah!"
Wajah Yuan berbinar. "Benarkah kamu mau maafin saya?"
Clara mengangguk. "Iya."
"Terima kasih Clara, terima kasih." Yuan mengecupi punggung tangan Clara membuat gadis itu tersentak lalu menariknya.
"Ah, maaf saya terlalu senang tadi." Yuan grogi lalu kembali duduk.
Clara hanya tersenyum dan seketika senyumnya pudar.
"Zi-Zidan …."
Bersambung
Hai, readers semua. Jangan lupa vote, komen, masukin ke favorit dan gif nya ya, author tunggu😁😁
__ADS_1
Beberapa hari enggan menulis karena mood berantakan. Maklum, gada yang nyemangatin.
(Jomblo ya thor?) 😣😣😣