
***
Clara memutar badannya ke arah Dion, memandangi laki-laki itu sejenak.
"Baiklah kalau itu mau kamu. Mulai sekarang jangan ganggu aku lagi!" Clara meninggalkan Dion yang sepertinya syok dengan jawabannya, mungkin karena Dion tidak menyangka bahwa dirinya akan berucap demikian.
Dion sadar dari syoknya lalu mengejar Clara dan memeluknya dari belakang.
"Aku nggak mau putus dari kamu, Clara, tadi aku cuma bercanda." Dion mengeratkan pelukannya di pinggang Clara, ia menyesal karena telah berkata demikian.
Bagaimana pun ia tak ingin mengakhiri hubungannya dengan Clara. Dia sangat mencintai Clara.
Setetes air mata jatuh ke pipi Clara, entah apa yang ia rasakan kini yang jelas ia hanya ingin sendiri. Clara ingin fokus belajar agar cepat selesai dan keluar dari pekerjaannya di kafe.
Clara ingin mencari pekerjaan yang lebih baik agar ibunya melihatnya bangga dari sana.
"Maafkan aku, Dion. Lebih baik kamu cari gadis lain saja yang lebih baik dari aku." Clara melepaskan tangan Dion, tetapi laki-laki itu tidak mau melepasnya sama sekali.
Namun, Clara terus berusaha hingga akhirnya ia menyerah karena Dion tetap tak mau melepasnya.
"Dion aku mohon lepasin aku, aku mau shalat!"
"Gak akan sebelum kamu menarik kata-katamu. Aku sangat mencintai kamu Clara, aku nggak mau kehilangan kamu." Dion semakin mengeratkan pelukannya hingga Clara sesak nafas.
"Dion kamu menyakitiku."
Dion tersadar jika dirinya terlalu erat memeluk. Dion melepas pelukannya, menatap Clara dengan wajah penyesalan.
"Dion, mengertilah. Aku hanya ingin sendiri sekarang." Clara memberanikan diri menyentuh wajah Dion meski dengan tangan gemetar karena ini pertama kali dirinya menyentuh wajah laki-laki itu.
"Kalau memang kita jodoh kita pasti akan dipersatukan lagi." Clara lalu berjinjit dan mengecup pipi Dion sebagai salam perpisahan.
"Semoga kamu menemukan gadis yang lebih baik dari aku." Clara membalikan badannya meninggalkan Dion yang berdiri mematung lalu berjalan menuju pintu.
Susah payah Clara menahan sesuatu yang mendesak hendak keluar dari tempatnya. 2 tahun bersama bukanlah waktu yang sebentar. Suka duka mereka lalui bersama.
"Aku akan selalu menunggu kamu, Clara. Semoga kita berjodoh."
Clara yang hampir mencapai pintu menghentikan langkahnya.
"Semoga. Aamiin," sahutnya tanpa melihat Dion lalu kembali berjalan. Di dekat pintu ia bertemu Dinda, Clara yakin gadis itu pasti mendengar percakapannya dengan Dion.
"Clara elo nggak papa?" Dinda memegang bahu Clara, ia yakin hati Clara pasti sedang tak karuan saat ini.
Ia tahu persis seperti apa hubungan mereka selama ini, adem ayem dan hampir tak pernah bertengkar. Mereka berpacaran tapi seperti tidak berpacaran, seperti teman tapi ada hubungan.
Clara tersenyum, menggelengkan kepalanya.
"Gue nggak papa. Gue titip Dion ya Din. Gue tau lo suka sama dia kan?"
__ADS_1
Dinda tersentak mendengar ucapan Clara barusan. Pasal dari mana gadis cantik itu tahu jika dirinya diam-diam menyukai kekasihnya, mungkin lebih tepatnya Mantan Clara mulai sekarang.
"Clara gue …"
Clara menggeleng mengisyaratkan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Gue nggak apa, kok. Mungkin sekarang waktu yang tepat buat lo deketin, Dion. Good luck ya." Clara mengangkat tangannya yang terkepal, memberi semangat kepada Dinda dengan tersenyum tulus.
Dinda ikut tersenyum lalu mengangguk.
"Makasih banyak, Cla."
Clara membalasnya dengan anggukan kepalanya.
"Samperin gih!"
"Iya. Doain ya?"
"Pasti."
***
Yuan berjalan sempoyongan menuju mobilnya di parkiran. Yuan pergi ke bar dan mabuk untuk menghilangkan rasa kecewanya pada Clara.
Mungkin karena terlalu banyak minum hingga Yuan tidak bisa membedakan yang mana mobilnya.
"Ah, yang itu pasti mobilku." Yuan menyeret kakinya menuju mobil yang ada di dekat pos kemudian masuk dan langsung tertidur di jok belakang.
Tak berapa lama dua orang datang dan kaget mendapati orang asing tidur di mobilnya.
"Woy bangun lo salah mobil." Zidan mengguncang bahu Yuan agar keluar dari mobilnya, tetapi Yuan sama sekali bergeming.
"Wah parah nih orang. Dia minum terlalu banyak."
Zidan baru tahu jika Yuan mabuk karena bau alkohol yang keluar dari nafasnya sangat menyengat hingga ia mau muntah.
Meski Zidan sering datang ke tempat haram itu tapi tidak pernah setetes pun ia mencicipinya. Zidan tahu itu dilarang agamanya.
"Terus gimana?" tanya teman Zidan yang sekaligus adalah managernya.
Zidan tampak berpikir sejenak lalu menoleh Yuan.
"Kita anterin aja dia pulang," putus Zidan akhirnya.
"Hah? Serius lo? Terus mobilnya? Nggak mungkin kalau dia nggak bawa mobil secara dia terlihat orang kaya."
Zidan kembali berpikir lalu mencari tanda pengenal di dompet Yuan, dia juga mengambil kunci mobil milik Yuan lalu melemparnya ke arah temannya.
"Lo cari mobilnya, bawa dan lo ikutin gue!"
__ADS_1
"Sekarang?"
"Taun depan. Ya sekarang cepetan!"
Manager bernama Roby itu segera melaksanakan perintah sahabatnya. Mencari mobil Yuan dengan cara menekan tombol remot yang ada di tangannya dan ketemu.
"Ya ela nyusahin orang aja, mobil di sini nyarinya ke sono." Roby terus ngedumel, dia tak habis pikir dengan orang yang minum alkohol.
Apa segitu rabunnya kedua matanya sampa mobil miliknya berwarna hitam kenapa naik di mobil Zidan yang berwarna Silver?
"Apa enaknya sih mabuk, heran gue kenapa banyak sekali orang meminumnya padahal mereka tahu itu tidak baik buat kesehatannya juga dilarang agama"
Roby mengikuti mobil Zidan dari balakang. Sepanjang jalan Zidan sesekali melirik Yuan yang tertidur pulas di jok belakang dari kaca spion yang ada di atasnya.
Zidan melihat Yuan meneteskan air matanya. Zidan berpikir jika sepertinya pria yang ia tebak 4-5 tahun di atasnya itu sedang mengalami kekecewaan pada seseorang karena terlihat dari wajah Yuan yang tak bisa menyembunyikan kesedihannya.
"Mungkin dia baru putus sama pacarnya atau mungkin tunangannya," gumam Zidan menerka-nerka.
Mereka sampai di rumah Yuan yang ternyata lebih dari bayangan mereka, rumah itu sangat besar dengan halaman yang sangat luas.
Setelah berdiskusi dengan satpam akhirnya Zidan diperbolehkan masuk setelah satpam itu melihat majikan mudanya tertidur di mobil Zidan.
Satpam itu membantu Zidan mengangkat tubuh Yuan yang rupanya sangat berat.
"Yuan, kamu kenapa, Nak?" Nurma kaget melihat putranya pulang dalam keadaan dipapah.
Nurma mempersilahkan Zidan dan temannya masuk. Zidan menghempaskan tubuh Yuan di sofa. Nurma menangis melihat keadaan putranya.
"Yuan kenapa seperti ini, Nak?" Dilepasnya sepatu dan dasi yang masih melilit di leher Yuan.
Zidan dan Roby terus memperhatikan apa yang Nurma lakukan pada anak laki-lakinya. Zidan merasa tersentuh. Zidan yang sedari kecil sudah yatim piatu merasa terharu.
Seperti itu mungkin ibunya akan memperlakukan dirinya jika ibunya masih hidup.
Zidah dan Roby berpamitan setelah melihat keadaan Yuan telah membaik karena ada ibu yang akan merawatnya.
"Sekali lagi terima kasih ya Nak Zidan, tante tidak tahu kalau anak tante tidak bertemu orang baik seperti Nak Zidan dan Nak Roby." Nurma sangat bersyukur karena masih ada orang baik yang tak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
"Sama-sama tante. Sudah sepantasnya kita menolong sesama yang sedang membutuhkan."
Zidan dan Roby kemudian benar-benar berpamitan.
"Clara ...."
Kalimat itu berhasil menghentikan langkah Zidan, ia lalu membalikkan badannya, menajamkan telinganya barangkali ia tadi salah mendengar.
"Clara kenapa kamu tega padaku?"
Bersambung
__ADS_1