NODA MERAH KEKASIH

NODA MERAH KEKASIH
KERIBUTAN DI PARKIRAN


__ADS_3

***


Adelia yang penakut tak berani menatap layar lebar di depan, mereka akhirnya menonton film horor sesuai suara terbanyak. Hanya Adelia yang tidak setuju, Yuan, Clara, dan Zidan setuju.


Bahkan Zidan terlihat sumringah, dalam benaknya berpikir jika Clara ketakutan pasti akan memeluk dirinya. Tapi kenyataannya Clara sama sekali tidak takut, gadis itu justru menonton tanpa berkedip.


"Maaf," ucap Clara saat tak sengaja tangannya dan tangan Yuan sama-sama berada di dalam plastik berisi snack.


Clara hendak menarik tangannya tapi Yuan menahannya, menggenggamnya erat. Keduanya mata mereka saling mengunci satu sama lain. Jantung Clara berdebar tak karuan, ingin rasanya membuang pandangannya, tetapi apa daya ia tak kuasa.


'Jangan dilihat Clara, jangan dilihat. Ingat Yuan milik Adel, sahabat kamu sendiri. Kamu jangan merusak kebahagiaannya. Ingat itu!' batin Clara mengingatkan, tapi meski begitu ia tak bisa menampik jika genggaman Yuan pada tangannya begitu lembut dan hangat, sangat sulit baginya untuk menolak.


Clara merasa seluruh tubuhnya bergetar seperti ada aliran listrik yang menyengatnya saat Yuan semakin mengeratkan genggamannya. 


Kedua mata laki-laki di depannya menatapnya dengan tatapan yang sulit Clara artikan.


"Ehemm."


Deheman Zidan menyadarkan Clara, lalu menarik paksa tangannya. Menoleh Zidan yang bermuka masam.


'Zidan kenapa masam gitu ya? Apa dia marah sama aku? Tapi marah kenapa? Aneh.' batin Clara, ia tak mengerti dengan laki-laki yang duduk di samping kirinya.


"Mau ini?" Zidan menawari cemilan miliknya pada Clara.


"Boleh. Kamu masih inget aja cemilan kesukaan aku?" Clara mengambil beberapa keping biskuit kecil-kecil yang berbentuk kartun.


"Inget dong. Bahkan aku masih ingat semua apa yang kamu suka dan kamu gak suka. Warna favorit, film favorit, makanan dan minuman favorit. Bahkan aku masih ingat tempat favorit kamu di sekolah. Di perpus kan sambil baca buku? Dan masih banyak lagi yang aku ingat tentang kebiasaan kamu."


Zidan sebenarnya sedang mengkode Clara, berharap Clara peka dan menyadari perasaannya.


Clara terhenyak mendengar pengakuan Zidan. Ia tidak menyangka selebgram di sampingnya itu mengingat semua apa yang dirinya suka dan tidak suka sampai hal terkecil.


Dahi Clara mengerut. "Kamu …" Clara menggeleng tak percaya.


"Kenapa, kamu nggak percaya, apa perlu aku sebutin satu-satu?"


"Gak. Gak perlu aku percaya kok."


Keduanya lalu sama-sama diam saat seseorang yang duduk di belakang mereka menegur agar jangan berisik.


*


"Kalian laper ga sih?" tanya Adelia setelah mereka keluar dari gedung bioskop.


Clara menilik jam di pergelangan tangannya, sebenarnya ia lapar tapi ini sudah terlalu larut. Clara takut ayahnya pulang karena ia tadi lupa meletakkan kunci rumah di pot seperti biasanya.


"Boleh, kita mau makan dimana?" tanggap Yuan, lalu membenarkan rambut Adelia yang berantakan. Gadis itu tersipu malu, wajahnya sudah semerah tomat.


Sementara Zidan muak, ia yakin jika Yuan melakukan itu hanya untuk memanas-manasi Clara. Zidan melihat Clara yang menunduk, mungkin tidak ingin melihat adegan itu.

__ADS_1


'Cih, norak. Gak gentle. Lo lihat pembalasan dari gue buat Clara.'


Zidan meraih tangan Clara. 


"Sayang, katanya kamu mau belajar. Mending aku antar kamu pulang ya, supaya kamu bisa belajar! Lagian ini udah malem, gak baik anak perempuan masih di luar di jam begini."


Clara menatap Zidan yang memanggilnya 'sayang' kemudian berpikir jika laki-laki itu hanya ingin menyelamatkannya dari sakit hatinya.


"Iya. Kalian kalau mau makan kami nggak ikut ya, aku mau pulang. Tadi aku lupa taruh kunci di tempat biasa. Aku takut ayah pulang terus gak bisa masuk." Meskipun hanya alasan tapi yang ia katakan memang tidaklah bohong. Clara memang mengkhawatirkan ayahnya.


"Ah, kalo elo nggak ikut gak jadi ah. Gak seru."


"Loh, kok gitu, Del? Udah nggak papa kalian makan aja berdua katanya tadi lo laper. Tapi maaf gue nggak ikut gue mau pulang. Yuk Zidan!"


Tanpa menunggu jawaban Adelia  Clara menarik tangan Zidan pergi dari sana. Clara tidak mau semakin sakit hati karena Yuan selalu bersikap manis terhadap Adelia.


"Makasih ya, Zidan, kamu udah bantu aku. Kamu emang teman cowok terbaik aku," ucap Clara setelah berada di parkiran, tangan mereka pun sudah terlepas.


"Iya santai aja."


'Andai kamu tau perasaan aku, Sel. Dari dulu aku tuh udah suka sama kamu tapi kamunya gak nyadar-nyadar. Kapan sih kamu sadar itu, Sella? Aku nggak mau jadi temen kamu aku mau lebih.'


"Eh, itu ada apa ya, kok rame gitu?"


Zidan melihat apa yang di lihat Clara, di sana beberapa orang sedang berkerumun. Seperti ada keributan yang sedang terjadi.


"Gak tau tapi kayaknya ada keributan. Kita lihat yuk!" Zidan hendak pergi, tetapi Clara memegang tangannya.


Clara hanya tidak ingin menambah masalah, hidupnya sudah terlalu banyak masalah jadi ia tidak mau menambahnya lagi.


"Tapi, Sel, siapa tau mereka butuh bantuan kita. Kita kan wajib menolong sesama yang sedang membutuhkan bantuan kita."


Clara terdiam sesaat, yang dikatakan Zidan memang benar. Bagaimana jika yang sedang mengalami masalah adalah dirinya, tapi tak seorang pun mau membantunya?


Setelah berpikir akhirnya Clara mau ikut Zidan. Dan alangkah kagetnya ia saat melihat ayahnya sedang dihajar oleh beberapa orang yang berbadan besar-besar. 


Clara memeluk ayahnya dan meminta orang-orang itu berhenti memukuli Darma. Zidan pun ikut menolong dengan mengancam akan melapor pada polisi.


"Tapi bos kami akan menghajar kami jika kami gagal menagih hutang padanya." Kata salah satu dari mereka sambil menunjuk Darma yang sudah babak belur tak berdaya.


"Berapa hutangnya biar saya yang bayar?"


Mendengar ucapan Zidan keempat preman itu tertawa, menelisik Zidan dari atas sampai bawah.


"Yakin lo bisa bayar hutang dia? Punya duit berapa lo bocah ingusan?" Mereka kembali tertawa.


Zidan hanya diam lalu melirik Clara yang memeluk ayahnya yang sudah pingsan sambil menangis.


"Ayah, kenapa begini? Ayah jangan tinggalin Clara? Clara sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain ayah. Clara mohon buka matamu ayah!" isak Clara, menepuk-nepuk pipi Darma berharap pria itu membuka matanya.

__ADS_1


"Gue serius, berapa hutangnya?"


"He bocah! Yakin lo mau bayar hutangnya?"


Zidan mengangguk.


"100 juta, itu sudah sama bunganya."


"Cuma segitu?" Zidan lalu merogoh saku celana bagian belakang, mengambil dompet lalu mengeluarkan sesuatu dari sana.


"Ini kartu nama saya. Besok kalian datang ke rumah saya!" Zidan mengangsurkan kartu nama itu pada salah satu preman itu yang langsung menerimanya.


"Zidan Adi Mahendra?" Preman itu membaca kartu nama di tangannya lalu melihat Zidan.


"Lo, selebgram yang viral itu?"


Zidan tak menjawab, yang ada di pikirannya adalah preman-preman itu segera pergi agar ia bisa cepat membawa Clara dan ayahnya ke rumah sakit. Darma harus segera mendapatkan pertolongan segera.


"Boleh minta photo bareng?"


"Kita juga mau bos."


Zidan akhirnya meladeni preman-preman itu, mengambil gambar beberapa kali bidikan dengan handphon preman itu. Setelah itu mereka pergi.


Zidan dibantu beberapa orang memasukkan Darma ke dalam mobilnya lalu segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit. 


Sepanjang perjalanan Clara terus saja menangis tanpa henti sambil memangku kepala Darma, sesekali tangannya mengusap pipinya yang basah.


Zidan tak sanggup melihat gadis pujaannya seperti itu, ingin rasanya ia memeluk dan memberikan dadanya untuk Clara berbagi kesedihannya.


Sementara di parkiran mal Yuan yang menyaksikan kejadian tadi begitu gelisah. Yuan menoleh ke dalam mal karena tadi Adelia meminta izin ke toilet. Yuan lega begitu melihat gadis itu keluar dari pintu.


"Maaf Adel lama ya, kak, antri soalnya."


Tanpa berniat menjawab ucapan Adelia, Yuan menarik tangan gadis itu menuju mobilnya. Tentu saja Adelia kaget dan menyangka Yuan marah kepadanya.


"Kak Yuan marah sama Adel? Maafin Adel kak. Tapi tadi …"


"Kita ke rumah sakit!" Yuan menyela ucapan gadis yang duduk di jok penumpang.


"Hah? Siapa yang sakit, kak? Kak Yuan sakit? Sakit apa?" Adelia memeriksa tubuh Yuan, dia tampak sekali khawatir jika laki-laki yang siap menyetir itu sakit.


"Adel bukan aku yang sakit tapi ayah Clara."


Yuan lalu menceritakan semua kejadian tadi pada Adelia. 


"Ya udah, kita ke rumah sakit sekarang!"


Bersambung 

__ADS_1


Jangan lupa masukin rak dan vote ya. makasih


__ADS_2