NODA MERAH KEKASIH

NODA MERAH KEKASIH
INGIN MATI SAJA


__ADS_3

***


Darma terhenyak melihat Clara yang meringis kesakitan, ada darah di kening putrinya tapi hanya sebentar pikirannya kembali pada tujuannya. Bibirnya yang kehitaman karena rokok menyungging senyum puas.


Darma melempar tas itu setelah mengambil amplop berisi uang yang Dion berikan pada Clara. 


"Tebal juga pasti isinya banyak?" Kedua mata Darma membola melihat kertas lembaran merah yang lumayan banyak jumlahnya. Clara sendiri belum membukanya jadi ia tidak tahu persis berapa jumlahnya.


"Rupanya kamu benar-benar jual diri," ejek Darma tersenyum sinis. Clara menggeleng cepat.


"Nggak ayah, itu uang dari Dion. Clara pinjam," sangkal Clara, ia tidak mau ayahnya berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya.


"Cuih." Darma meludah ke lantai. "Kamu pikir aku tidak tau pekerjaanmu heh? Ja ..."


"Cukup ayah! Clara tidak pernah melakukan pekerjaan kotor seperti yang ayah dituduhkan selama ini."


Rasa kecewa dan direndahkan oleh ayahnya sendiri membuat Clara muak dan berubah menjadi berani. Selama ini ia sudah cukup sabar dan bersikap baik terhadap Darma, tetapi apa yang dirinya dapat? Darma selalu menghina dan merendahkannya. Mengatakan jika dirinya persis seperti almarhumah ibunya yang kata ayahnya bekerja di club malam.


Ibu yang tidak pernah Clara lihat dan Clara rasakan kasih sayangnya. Melihat potretnya saja Clara belum pernah. Tapi kenapa ayahnya selalu mengatai orang yang sudah meninggal?


Darma meludah lagi. "Kamu pikir aku peduli kamu mau bekerja apa?"


Darma membalikkan badannya hendak pergi dengan cepat Clara menghalangi dengan berdiri di depan Darma.


"Ayah Clara mohon ... kembalikan uang itu! Clara tidak tau lagi harus pinjam ke siapa lagi untuk bayar kontrakan minggu depan." Clara memohon sambil menangis berharap hati ayahnya akan luluh dengan air matanya. 


Tapi entah terbuat dari apa hati Darma. Pria itu justru mendengus kesal lalu mendorong tubuh Clara agar menyingkir dari hadapannya.


"Aghh." Clara terjatuh ke lantai, ia sudah tidak sanggup lagi melawan ayahnya. Selain lelah setelah bekerja hatinya juga sakit. Clara pasrah dan membiarkan Darma pergi dengan membawa uang yang Dion berikan.


"Ibu ..."


Ditekuknya kedua kakinya lalu membenamkan wajahnya di sana, menangis sesegukan seorang diri. Luka batin yang Darma berikan setiap hari membuat Clara ingin mati saja daripada harus tersiksa setiap hari.


Entah berapa lama Clara menangis hingga rasanya air matanya kering tak tersisa. Clara bangun lalu mengayunkan langkah lemahnya ke kamar.


Melempar tas yang kini telah kosong, hanya ada sisir dan peralatan make upnya. Hatinya kian pilu mengingat perlakuan Darma selama ini. Tak pernah sekalipun ia menerima kasih sayang dari laki-laki yang ia panggil sebagai ayah. Clara lelah, Clara tidak sanggup menjalani hari-harinya yang seperti di neraka.


Clara beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian naik ke tempat tidur. Ia ingin beristirahat dan melupakan semuanya. Namun, baru saja kedua matanya hendak terpejam ponsel miliknya berbunyi. Clara sangat kesal lalu duduk.


"Siapa sih yang telpon malam-malam, ganggu orang mau istirahat aja?"

__ADS_1


Dengan perasaan dongkol diusapnya layar lalu menempelkannya ke telinga.


"Halo?"


["Selamat malam nona apa saya mengganggu?"]


Clara menarik handphonenya dan melihat nomor asing menghubunginya.


"Siapa nih?" ketusnya, Clara ingin menunjukkan bahwa dirinya sangat terganggu karena ini sudah tengah malam lebih dan ia salang capek dan butuh waktu istirahat.


["Wow, jangan galak-galak nona nanti nggak ada cowok yang mau. Aku Yuan, masih ingat kan?"]


Seketika jantung Clara berdebar kencang, walau mendengar suaranya saja sudah membuatnya tak karuan begini?


Clara mengatur debaran di dadanya. "Tau nomor gue dari mana lo?" 


Laki-laki di seberang telepon terbahak dan itu membuat Clara makin kesal setengah mati. Sudah mengganggu ketenangan orang sekarang tertawa tidak jelas.


["Kenapa kamu selalu galak sama saya nona, apa saya berbuat tidak sopan?"]


Clara terdiam, ada perasaan tidak enak yang tiba-tiba menyelimuti hatinya. Selama perkenalan mereka pun Yuan selalu bersikap baik dan sopan terhadapnya, tapi mengapa dirinya selalu ketus pada laki-laki itu?


"M-maaf, habis lo ngeselin."


Ah, sangat tepat sekali ucapan Yuan itu. Hatinya memang yang terganggu, tapi ia tidak ingin mengkhianati Dion-kekasihnya. Ia mencintai Dion.


"Ish, mana ada? Lo ngarang?" sangkal Clara, tidak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya jika Yuan mengganggu ketenangan hatinya.


["Nggak saya nggak ngarang."]


"Iya!"


["Nggak!]


Tiba-tiba mereka menjadi akrab dan obrolan mengalir begitu saja. Clara lupa pada kesedihan yang sedang dirasakannya. Yuan mampu membuatnya melupakan semuanya. Clara tertawa lepas seakan tidak ada beban dalam hidupnya.


Yuan mengakhiri panggilannya tepat saat jam di dinding menunjuk di angka 2 malam. Laki-laki jangkung itu tersenyum sendiri seperti orang gila. Yuan tidak sadar jika ada orang yang melihat tingkahnya sedari tadi.


"Ngapain lo, bang, senyum-senyum sendiri kaya orang gila?"


Sontak Yuan menoleh sumber suara. Di ambang pintu Dion-sang adik berdiri menyandar pada gawang pintu dengan tangan dilipat di depan dada.

__ADS_1


"Ck, sialan lo ngatain gue gila, elo yang gila!" sahut Yuan kesal lalu beranjak dari tempat tidur, meraih minuman kaleng yang tadi sempat ia bawa ke kamar.


Dion masuk dan langsung menghempaskan dirinya di ranjang Yuan.


"Belum tidur lo?" tanya Yuan setelah meneguk minumannya.


"Belum ngantuk, bang."


"Tumben, biasanya lo langsung tepar kalo pulang kerja?" Yuan duduk di sofa dekat ranjang, Dion bangun lalu duduk.


"Gue kepikiran cewek gue mulu."


"Ck, dasar bucin lo!"


"Bukan gitu, bang, gue kasihan sama cewek gue. Kerja capek-capek tapi uangnya selalu dirampas bokapnya buat mabuk sama judi," terang Dion mengenai pacarnya-Clara. Dion tidak tahu jika Yuan pun mengenal Clara.


"Terus lo mau apa?"


Dion berpikir sejenak. "Gue pingin nikahin dia dan bawa dia pergi dari rumahnya."


"Gila lo, lo mau ngelangkahin gue? Nggak ada. Lo mesti married kalo gue udah married, titik kagak pake koma!" Yuan naik ke tempat tidur dan langsung memejamkan matanya.


"Yah, bang jangan gitu dong. Elo kan jomblo kalo gue nungguin lo gue nggak kawin-kawin dong?"


"Kata siapa gue jomblo?" Yuan memutar tubuhnya menghadap Dion. "G-gue punya cewek kok."


"Masa? Kok nggak pernah dikenalin ke mamah, papah?" 


Selama ini Dion tidak pernah melihat abangnya itu dekat dengan perempuan apalagi memiliki pacar? Yang ada di otak abangnya itu cuma kerja dan kerja. Bukan tidak laku bahkan banyak gadis-gadis yang mendekati tapi sikap Yuan yang ketus dan dingin membuat banyak perempuan patah hati dan memilih mundur.


"Nanti kalo waktunya udah tepat pardi gue kenalin ke mamah sama papah." Yuan hendak membalikkan tubuhnya lagi tapi di tahan Dion. "Apa sih gue ngantuk! Gue mau tidur!"


"Tunggulah bang! Eh, cewek Abang cantik nggak?"


Meski kesal tapi Yuan tetap meladeni adiknya. "Cantiklah kalo nggak cantik mana gue mau. Dah ah, gue mau tidur!"


"Eh tunggu bang! Cantikkan mana sama cewek gue?" Tak ada sahutan, Dion mencondongkan tubuhnya. "Ya elah dasar kebo dah molor aja!"


Dion ikut membaringkan tubuhnya di samping Yuan dan memeluk laki-laki jangkung itu, tak peduli dengan makian Yuan yang terlontar untuknya agar jangan memeluknya. Untuk malam ini Dion ingin tidur dengan memeluk abangnya.


Bersambung

__ADS_1


Hai reader, jangan lupa vote, review, dan masukin rak ya. makasih


__ADS_2