
***
Ditempelkannya lagi handuk kecil yang sudah dibasahi dengan air hangat yang ia ambil di dapur. Yuan pingsan setelah tiba-tiba memeluknya. Dari bau nafasnya Clara tahu jika laki-laki yang kini terbaring di sofa itu sepertinya mabuk.
Clara tadi membangunkan ayahnya agar menemaninya merawat Yuan, tetapi di kamar ayahnya tidak ada. Entah pergi kemana, Clara khawatir karena pria itu belum sembuh benar tapi sudah keluyuran.
Clara melepas sepatu dan kaos kaki laki-laki itu, juga mengendurkan dasinya. Sepertinya Yuan belum pulang ke rumahnya setelah pulang dari kantor. Tapi apa yang menyebabkan laki-laki itu meminum minuman beralkohol itu? Apa tidak tahu selain haram minuman itu juga tidak baik untuk kesehatan?
Ia saja sudah muak dan bosan menasehati ayahnya dan sekarang melihat laki-laki yang dicintainya mabuk membuatnya kecewa.
"Kamu kenapa sih kak, minum-minuman itu? Kalau ada masalah seharusnya dibicarakan jangan palah minum. Lagian kenapa mesti pulang ke sini bukannya pulang ke rumah?"
Clara terlihat sedikit kesal karena kedatangan Yuan dalam keadaan mabuk. Apalagi ini hampir tengah malam. Apa kata tetangga jika ada yang melihatnya, pasti dikira mereka akan berbuat macam-macam.
"Ayah kemana lagi perginya? Belum sembuh kenapa keluyuran, kalau kenapa-kenapa gimana aku yang repot?"
Clara mengintip lewat jendela, berharap ayahnya segera pulang, tapi sepertinya ayahnya sepertinya belum akan segera pulang. Clara lalu masuk ke kamarnya untuk mengganti bajunya yang terasa lengket di badan. Setelahnya ia pergi ke dapur untuk membuat teh manis hangat untuk Yuan jika laki-laki sadar nanti.
"Apa kak Yuan bertengkar sama Adel ya?" Gumam Clara sendiri sambil mengaduk teh yang baru dituang air panas.
"Tapi kenapa bertengkar, kan belum lama jadian seharusnya lagi mesra-mesranya dong, lah ini palah berantem?"
Clara terus berpikir jika Yuan mabuk karena ada masalah dengan Adelia. Clara tidak tahu jika Yuan mabuk karena kecewa, marah, sakit hati, dan cemburu melihat dirinya pulang diantar lelaki lain.
Teh sudah jadi lalu dibawanya ke ruang tamu menggunakan nampan. Clara lalu duduk di sofa satunya, meraih gelas lalu mengesapnya perlahan.
Clara menatap laki-laki yang masih terpejam di depannya.
"Ganteng banget apalagi kalau lagi tidur kayak gini, tenang dan damai."
Entah apa yang menggerakkan Clara untuk berdiri lalu pindah ke dekat Yuan. Tangannya terulur membelai rambut lelaki itu, cukup lama Clara menatap wajah tampan Yuan.
Tangannya gemetar dan jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
"Ahh!" Clara kaget karena Yuan tiba-tiba membuka kedua matanya dan memegang pergelangan tangannya.
"Ma-maaf, aku pikir kak Yuan masih tidur?" Clara menarik tangannya tapi cekalan tangan Yuan terlalu erat.
"Kak, lapasin tangan aku!" mohon Clara lirih hampir tak terdengar, ia khawatir Yuan mendengar suaranya yang bergetar.
Yuan tak merespon ucapan Clara, ia hanya diam menatap Clara dengan sorot tajam, dan Clara tidak berani berlama-lama beradu pandang dengan lelaki itu.
__ADS_1
"Kak Yuan minum dulu setelah itu pulang! Keluarga kakak pasti sekarang khawatir sama kakak!"
Clara meraih gelas berisi teh manis hangat di meja, membantu Yuan minum setelahnya menyimpannya kembali. Clara hendak berdiri karena bedekatan dengan laki-laki itu tidak baik buat jantungnya yang semakin tidak karuan, tetapi lagi Yuan mencekal tangannya.
"Mau kemana?" tanya Yuan dengan ekspresi wajah yang sulit Clara artikan.
'Pleasa, jangan lihat aku kayak gitu, kak Yuan, aku nggak kuat!' batin Clara merana.
"A-aku m-mau pindah ke situ." Sahutnya sambil menoleh sofa depan mereka.
"Ngapain pindah? Di sini juga masih luas kok!" Yuan lalu duduk tanpa melepaskan tangan Clara sedikitpun.
Clara menggeser duduknya, tetapi Yuan justru menariknya lebih dekat hingga tubuh mereka menempel satu sama lain.
Clara merasa tubuhnya gemetar, keringat dingin membasahi tangannya saat tubuh mereka saling bersentuhan.
Clara menunduk, tak berani menatap laki-laki di depannya.
Yuan menghela dagu Clara agar melihatnya, dan tanpa sepatah kata menyambar bibir gadis itu. Clara tersentak dan hendak melepaskan diri, tetapi Yuan justru memeluknya erat.
Clara berontak tapi semakin ia berontak semakin Yuan mengeratkan pelukannya. Akhirnya Clara pasrah dan bahkan mulai membalas pagutan Yuan padanya.
Clara menghentikan tangan Yuan saat lelaki itu mulai menggerayangi tubuhnya.
Yuan tak menjawab, hanya memandang Clara dengan pandangan yang sulit Clara tolak. Dan entah karena perasaan cintanya yang besar akhirnya Clara membiarkan Yuan melakukan sesuatu padanya. Dan bukan hanya itu, ia juga pasrah saat Yuan mengangkat tubuhnya lalu membawanya ke kamarnya.
Dibaringkannya tubuh Clara perlahan, kedua mata mereka saling mengunci. Tak ada bahasa, hanya hati yang saling berbicara mewakili semuanya.
"Clara … Clara …" bisik Yuan parau.
Jawaban Clara justru dengan tindakan mengulurkan tangannya memeluk leher Yuan.
Tempat tinggal Clara memang tidak terlalu ramai. Orang-orang lebih suka berada di dalam rumah atau pergi nonton setelah pulang dari rutinitas mereka.
Beberapa dari mereka juga ada yang lebih suka menghabiskan malam dengan nongkrong di taman bersama teman-teman mereka, tetapi biasanya mereka rata-rata seusia Clara.
Rasa kecewa dan pandangan rendah terhadap Clara menjadikan Yuan tak perlu bersikap kesatria yang akan merasa berdosa karena akan merusak masa depan seorang gadis. Baginya, Clara malam ini sangat manis dan membuatnya lupa diri hingga pada saat detik-detik terakhir Yuan tersadar oleh jeritan-jeritan yang sangat wajar di telinganya.
Yuan mengangkat dirinya dan melihat darah keperawanan yang baru saja terenggut.
Halilintar seakan menyambar dirinya.
__ADS_1
"Clara, Clara, kenapa kamu tidak mencegahku?"
Clara tak mendengar jelas ucapan Yuan barusan. Ia masih belum sadar sepenuhnya dengan pengalaman dahsyat yang baru saja dialaminya.
"Clara aku minta maaf, aku tidak akan melakukannya kalau tau kamu masih suci. Tolong maafkan aku Clara."
Kali ini petir menyambar lagi, tetapi kini menyambar Clara. Dua butir air mata jatuh menimpa bantal yang ditidurinya.
"Maksud kak Yuan apa?"
Bukan Clara tak mendengar dengan jelas, tetapi ia hanya tidak percaya jika Yuan meminta maaf karena telah merenggut kesuciannya. Apakah selama ini dirinya begitu rendah di mata lelaki itu?
Yuan meraih tangan Clara dan menggenggamnya erat.
"Tolong ampuni aku Clara? Aku tidak tau kalau kamu masih suci aku pasti tidak akan berbuat kurang ajar sama kamu. Aku pikir pria-pria yang mengantar kamu adalah pelangganmu. Tolong maafkan aku?"
Sekali lagi halilintar menyambar telinga Clara. Air matanya semakin deras. Hatinya begitu sakit karena ia memberikan kesuciannya karena rasa cintanya yang begitu besar pada lelaki itu, tetapi apa yang ia dapat. Justru Yuan memandang rendah dirinya.
"Serendah itukah aku di mata kamu, kak Yuan? Aku memang bukan orang kaya seperti Adelia tapi aku juga masih punya harga diri. Aku tahu mana yang boleh dan tidak boleh, aku tau mana yang baik dan mana yang buruk. Ssstt … jangan menyelaku! Apa yang ingin kak Yuan tau tentang aku?"
"Aku pikir pria-pria yang mengencanimu adalah pria hidung belang yang menyewamu?"
Yuan lalu menceritakan pria yang pernah pergi dengan Clara termasuk kakaknya Dinda dan Zidan.
"Astaghfirullahal adzim, kak Yuan. Ternyata pikiran kamu begitu dangkal. Jadi karena itu kak Yuan selalu memandang rendah aku?"
Clara semakin merasakan hatinya kian sakit. Mungkin jika bukan Yuan yang merendahkannya ia masih tak begitu peduli, tetapi direndahkan oleh laki-laki yang begitu dicintainya sungguh hatinya sangat sakit.
"Pria paruh baya itu adalah bos sekaligus sahabat almarhumah ibuku. Beliau sangat baik dan menganggapku seperti anaknya sendiri, istrinya juga sangat menyayangiku karena mereka tidak mempunyai keturunan," terang Clara dengan hati pedih.
"Pria dewasa yang mengantarku tadi dia adalah kakaknya, Dinda, teman kerjaku. Dia kasihan dan khawatir jika aku pulang sendirian malam-malam. Dinda juga ada di jok belakang," sambungnya lagi.
"Sedang Zidan, dia teman SMA aku sama Adelia. Apa kak Yuan pernah bertanya itu pada Adel?"
Yuan menggeleng, tak pernah ia mencari tahu atau pun bertanya pada Adelia siapa Zidan. Ia lebih percaya dengan penglihatannya sendiri.
"Sekarang kak Yuan sudah puaskan? Sekarang pergi dari sini! Aku benci sama kakak!" usir Clara tiba-tiba.
"Tapi Clara …"
Bersambung
__ADS_1
jangan lupa vote dan tap love n komen ya, makasih