
***
"Zidan, stop! Aku peringatkan, jangan macam-macam!"
Zidan tertawa puas melihat wajah Clara yang sudah pucat karena ketakutan.
"Kamu takut kan?"
"Gak!"
"Bohong, mukamu merah gitu?"
Clara memegangi kedua pipinya. Dan benar saja, wajahnya terasa panas, jantungnya pun semakin cepat detaknya.
Didorongnya laki-laki itu agar menyingkir dari hadapannya. Namun, Zidan tetap tak menggeser posisinya sedikit pun sehingga membuat Clara harus sedikit menggunakan tenaganya, tapi tetap saja Zidan tak gerak dari tempatnya.
Clara kesal lalu menatap Zidan yang juga tengah memandang dirinya. Pandangan mereka bertemu, wajah Zidan berada begitu dekat dengan wajahnya sehingga ia bisa merasakan hembusan nafas hangatnya menerpa wajahnya.
"Cantik," lirih Zidan. Namun, terdengar oleh Clara membuat wajahnya kian merona.
"Apaan sih, Zi …" Clara mendorong dada Zidan sekali lagi dan berhasil. Zidan mundur beberapa langkah lalu tertawa, dia gemas sekali pada gadis itu. Andai saja sudah jadi istrinya ia pasti sudah mencubit kedua pipinya.
Langkah Clara terayun menuju ruang tamu saat terdengar suara ketukan pintu dari luar, kemudian membukanya. Seorang gadis yang mungkin sepantara dirinya berdiri dengan tersenyum ramah.
"Iya, cari siapa, Mbak?"
Perempuan di depan Clara menelisik Clara dari bawah sampai atas lalu tersenyum.
"Kamu pasti Clara ya, iya pasti. Perkenalkan, nama saya Ningsih asisten rumah tangga Bu Franda." Gadis bernama Ningsih itu mengulurkan tangannya, Clara menyambutnya.
"Oh, Mbak Ningsih saya Clara."
"Oh namanya cantik kayak orangnya, hihihi."
"Ah, Mbak Ning bisa saja. Ayo masuk, Mbak!"
Clara bmenggeser tubuhnya memberi akses Ningsih agar bisa masuk, lalu duduk di ruang tamu berhadapan.
"Mbak Ningsih sudah lama kerja disini?"
"Lumayan. Eh, panggil saja Ningsih aja biar akrab. Kayaknya umur kita nggak jauh deh!"
"Oh, baiklah."
Meski baru pertama kali bertemu, tetapi mereka seperti sudah lama saling mengenal. Banyak sekali kesamaan dalam hal makanan dan hobi, bedanya Ningsih terlihat lebih banyak bicara, tidak seperti dirinya yang sedikit pendiam.
***
Clara baru saja menutup pintu hendak berangkat ke kampus saat Zidan datang menjemputnya. Dan ternyata dia tak sendiri, tapi bersama Adelia.
__ADS_1
"Kok kalian bisa barengan?" Tanya Clara menunjuk mereka berdua.
"Tadi aku lihat dia di pinggir jalan sedang nunggu angkot, jadi aku ajak aja sekalian," terang Zidan kenapa dirinya bisa bersama Adelia.
"Tumben?"
"Ban mobil gue bocor, jadi terpaksa tadi gue mau naik angkot eh, ada Zidan ya udah gue ikut. Aslinya sih emang males banget karena gak bareng elo, Cla." Adelia menimpali.
"Ya udah yuk, nanti kalian telat!" ajak Zidan yang di angguki kedua gadis itu.
"Sella, kamu duduk di depan!" Clara yang hendak membuka pintu belakang urung.
"Aku dibelakang aja, Zi."
"Nggak, kamu di depan!"
"Dibelakang aja nggak papa."
"Aku bilang di depan ya di depan!" Nada suara Zidan sedikit meninggi membuat Clara dan Adel tersentak. Ini kali pertama mereka mendengar Zidan berkata kasar, selama ini laki-laki itu sangat lembut.
Clara terpaksa menurut walaupun hatinya sangat kesal, Zidan terlalu mengaturnya.
Sepanjang perjalanan Clara hanya diam, ia marah pada Zidan dan tak menggubris mereka berdua yang asik bercanda. Di tengah perjalanan Adelia meminta berhenti, ada beberapa tugas yang harus dia photocopy.
"Kamu marah?" tanya Zidan menoleh Clara.
"Oke aku minta maaf karena sikapku terlalu berlebihan. Aku cuma ingin selalu deket sama kamu aja."
Clara menoleh. "Tapi nggak gini juga kali, Zi. Kamu terlalu posesif tau nggak? Kita belum nikah, tapi kalo sikap kamu begini terus aku jadi ragu sama kamu."
Clara suka diperhatikan, siapa sih perempuan tidak suka diperlakukan dan diperhatikan oleh seorang laki-laki, sepertinya tidak ada? Hampir semua perempuan suka dan senang, tapi bagi Clara Zidan terlalu berlebihan. Ia tidak suka.
"Atau kita putus aja?"
"Jangan!" Zidan meraih tangan Clara. "Aku nggak mau putus sama kamu, Sella. Oke aku janji nggak gitu lagi, tapi kamu jangan minta putus ya, kamu kan tau perasaan aku kayak gimana ke kamu."
Clara jadi merasa bersalah, Zidan sudah terlalu lama memendam perasaannya. Mungkin dia bersikap begitu karena terlalu mencintainya dan takut kehilangannya.
"Sella, maafkan aku ya? Kamu mau kan maafin aku?"
Clara tak langsung menjawab melainkan menatap kedua bola mata Zidan lalu tersenyum.
"Baiklah aku maafin kamu, tapi … kalau sikap kamu begitu terus mending kita udahan."
"Iya, janji." Zidan mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V. "Aku nggak bakal gitu lagi. Kita nggak putus kan?"
Clara menggeleng. "Nggak."
"Makasih ya, aku beruntung punya pacar kaya kamu. Sudah cantik, pintar, baik lagi."
__ADS_1
"Gombal." Kedua pipi Clara merona, dan Zidan melihat itu.
'Cantik banget sih kalo lagi senyum, bikin aku gemes aja.' Zidan membatin, ingin sekali mencubit kedua pipi Clara saking gemasnya.
Adelia kembali dan membawa 3 minuman dalam kaleng di tangannya. Satu untuk Zidan, Clara, dan satu lagi untuknya. Sebenarnya tadi selain mau photocopy, Adelia memang sengaja memberi waktu luang untuk kedua sahabatnya menyelesaikan masalah mereka.
Dan sepertinya kedua sahabatnya sudah akur, terlihat mereka kini kadang saling bertukar pandangan dan saling membalas senyum satu sama lain.
'Andai Kak Yuan seperti Zidan? Perhatian, romantis.' Adelia jadi ragu dengan perasaan Yuan terhadapnya.
Selama ini Yuan tidak pernah menyatakan cintanya sedikit pun, laki-laki itu jarang bicara. Justru dirinya yang lebih sering mengatakan perasaannya dan agresif.
'Apa karena Kak Yuan sudah dewasa ya jadi malu ngungkapinnya? Ya, pasti begitu. Kak Yuan pasti cinta sama aku, pasti.' Adelia sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tidak sadar mereka tiba di kampus.
"Yup, sampai. Eh, tunggu. Biar aku bukain pintunya."
"Zii … kamu kan udah janji …"
"Hehe … lupa, maaf. Ini terakhir, kamu nggak boleh nolak!"
Clara terpaksa menurut dan membiarkan Zidan membukakan pintu mobil untuknya. Dan seperti biasa, keromantisan Zidan selalu membuat iri teman-teman Clara. Mereka berandai mempunyai pacar seperti Zidan.
Namun, jauh di lubuk hati Clara yang paling dalam dia sedikit risih. Clara terbiasa mandiri dan tidak bergantung pada siapapun. Dia takut akan merasa nyaman dan ketika semua berlalu dia akan kehilangan.
Dan seperti sebelumnya Zidan akan menunggu sampai Clara selesai kuliah, tetapi kali ini dia tidak menunggu di depan kelas, tapi Zidan membuat konten untuk mengisi channelnya.
Zidan berkeliling kampus sambil menanyakan pada mahasiswa yang dijumpainya mengenai kampus mereka.
Sebagian menjawab suka dan betah, apalagi karena bisa bertemu dan melihatnya setiap hari.
"Kak,, boleh minta foto bareng gak?" Salah satu dari gadis yang Zidan wawancarai mengajak berfoto tentu saja Zidan melayaninya.
"Makasih Kak?"
Zidan hanya menjawabnya dengan senyuman dan anggukan setelahnya gadis itu pergi.
"Sepertinya Clara sudah selesai kuliahnya," gumamnya sendiri saat menilik jam dipergelangannya. Zidan kembali ke kelas Clara. Namun, kelas telah sepi.
Zidan kebingungan dan mencari Clara kemana-mana, tapi tak ketemu hingga ponselnya berdering.
"Halo …"
["Zidan, Clara masuk rumah sakit, lo cepetan kesini yah!"]
Bersambung
Hai hai … semoga terhibur dengan cerita author yang masih remahan bubuk rengginang ini.
Jangan lupa sub, review, vote, dan gif (hehe, ngarep)
__ADS_1