NODA MERAH KEKASIH

NODA MERAH KEKASIH
WALAU AKU MENCINTAIMU


__ADS_3

***


Kedua kaki Clara lemas seperti tak bertulang. Tubuhnya gemetar seperti terkena aliran listrik ber watt-watt, nafasnya pun terasa sesak, lidahnya kelu hingga tak mampu bersuara.


Yuan tiba-tiba saja memeluknya dengan sangat erat seolah-olah takut dirinya akan pergi.


"Maafkan aku Clara, tolong ampuni aku. Beri aku waktu untuk menebus dosaku." Yuan melepas pelukan, membingkai wajah Clara yang sepertinya kebingungan.


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Tolong menikahlah denganku. Jangan pergi lagi dariku."


Clara masih tak mampu berkata, dia seperti tersihir sehingga hanya diam seperti patung. Namun, di dalam hatinya bergetar setiap mendengar ungkapan cinta dari laki-laki itu. Kedua matanya berkaca-kaca.


Ungkapan cinta seperti inilah yang ia tunggu dari lelaki yang kini menatapnya dengan lembut. 


Tak terasa tangan kanannya bergerak menyentuh pipi Yuan dan membelainya perlahan, mengamati setiap detain wajah tampan di depannya.


"Aahh …" Clara tersentak dan tersadar, lalu melepaskan tangannya kemudian mundur beberapa langkah. 


Menggelengkan kepala seolah tidak percaya dengan apa yang barusan dilakukannya. Dia menoleh Zidan yang berdiri di dekatnya. Wajah laki-laki itu tanpa ekspresi, tapi Clara melihat gurat kesedihan disana.


"Zi-Zidan, ak-aku …" Clara terbata, hatinya diliputi perasaan bersalah.


"Aku nggak apa, selesaikan saja masalah kalian. Aku tunggu di dalam ya." Tanpa sepatah kata lagi Zidan meninggalkan Clara dan Yuan hanya berdua.


Zidan percaya Clara tidak akan terpengaruh dengan kedatangan Yuan. Dia juga percaya bahwa Clara tidak akan berbuat hal bodoh dengan memilih laki-laki yang telah menghancurkan hidupnya meski kini ada anak Yuan di perutnya.


"Kenapa Kak Yuan datang lagi? Kamu kan sudah tahu aku lebih memilih Zidan. Lagi pula dari mana kamu tahu aku tinggal di sini?" cecar Clara, dia tidak habis pikir kenapa Yuan bisa menemukannya.


Yah, dia ingat beberapa hari lalu dirinya seperti melihat Yuan. Apa laki-laki itu mengikutinya?


"Itu tidak penting, yang jelas aku hanya ingin kamu menerima lamaranku, menikah denganku, dan memaafkanku."


"Aku sudah bilang aku nggak bisa."


"Kenapa? Karena dia?" Yuan menunjuk Zidan yang melihat mereka dari kejauhan. Clara menoleh, Zidan berdiri di teras dengan muka terlihat sangat khawatir.


"Bukan."

__ADS_1


"Lalu?"


"Karena Adel. Kak, pergilah padanya. Aku mohon jangan sakiti dia, dia sangat mencintaimu dan berharap kelak akan menjadi pengantinmu!"


"Apa kamu tidak mengharap jadi pengantinku?"


Clara terdiam, menjadi pengantinnya? Tentu saja itu juga harapannya sejak awal, tetapi semenjak tahu bahwa Adelia mencintai dan berharap menikah dengan Yuan ia mengubur harapannya dalam-dalam.


"Kenapa tidak dijawab? Clara aku tahu kamu juga mencintaiku kan?" Diraihnya tangan Clara. "Katakan … kamu juga mencintaiku?"


Lagi Clara hanya bisa diam. Apa yang dikatakan Yuan memang benar, ia masih mencintainya hingga detik ini. Ia sudah berusaha melupakannya dan belajar mencintai Zidan, tapi nyatanya tak semudah yang dibayangkan. Cintanya pada Yuan justru semakin tumbuh dan memenuhi hatinya.


"Diam itu artinya iya." Kalimat barusan menyadarkan Clara dari lamunan.


"Tidak! Aku tidak pernah mencintaimu!" Clara menatap tajam Yuan, sungguh bukan kata-kata itu yang tadi ingin diucapkannya.


"Pergilah, dan jangan pernah ganggu hidupku lagi. Setelah lulus nanti aku akan menikah dengan Zidan." Clara terpaksa berdusta, semua ini ia lakukan agar Yuan tak lagi menemuinya.


Yuan mengalihkan pandangannya pada Zidan, lalu pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi, menoleh pun tidak.


'Pergilah Kak, aku ikhlas melepasmu untuknya walau aku mencintaimu. Kamu lebih pantas bersama Adel daripada bersamaku.' rintih hatinya seiring dengan air mata yang mulai berjatuhan.


Apa ini berlebihan? Kenapa hidupnya selalu saja menderita?


Zidan memeluk bahu Clara dan membantunya berdiri. Membawa gadis yang telah bercucuran air mata itu ke teras lalu mendudukkannya di sana.


"Sella kenapa kamu membohongi perasaanmu sendiri?" Dihapusnya air matanya. "Aku tahu kamu mencintai laki-laki itu kenapa kamu tidak mengatakannya?"


Clara diam tak menjawab, ditatapnya Zidan yang berjongkok di bawahnya lekat. Kedua mata itu terlihat sangat tulus, tapi ada juga luka.


Clara berdecak. "Ck, jangan sok tau!" Berdiri kemudian masuk ke dalam rumah, meninggalkan Zidan yang terbengong.


"Hah? Ada apa dengannya? Apa perempuan yang sedang hamil begitu? Sebentar mewek, sebentar ngambek, sebentar ngomel, sebentar tertawa?"


Zidan benar-benar tak mengerti dengan sikap Clara hari ini. Tadi di kampus marah-marah karena tidak mau ia tunggu. Di kantin kesal karena tidak mau dilayani. Dan barusan … tadi nangis-nangis lalu bersikap seolah-olah tadi tidak ada apa-apa?


"Hah, perempuan benar-benar mahluk yang aneh, ribet, dan sulit dimengerti."

__ADS_1


Zidan lalu menyusul Clara ke dalam.


"Clara, kamu sudah pulang?" Bu Franda yang baru saja keluar kamar melihat Clara sedang duduk di meja makan dengan gelas berisi air putih di tangannya.


"Baru saja, bu. Ibu sudah mau pergi?" Bu Franda sudah rapi dengan penampilannya yang selalu menawan. 


"Eh, ada Nak Zidan juga?"


Clara menoleh ke arah yang dimaksud. Zidan sedang menghampirinya.


'Kenapa dia masih disini, aku pikir sudah pergi? Duh, gimana nih? Bu Franda kan mau pergi masa iya aku harus berduaan di rumah besar ini dengan Zidan? Memang tidak akan berbuat apa-apa sih, tapi tetap saja itu tidak boleh.' 


Clara begitu khawatir akan timbul fitnah jika mereka hanya berdua di rumah. Terlebih dirinya tengah hamil di luar nikah, ia pasti akan menjadi olok-olokkan warga. Kasihan bu Franda, dia pasti akan sangat malu.


"Clara, kenapa kamu melamun, Nak? Kamu sakit?"


Kalimat itu berhasil membuat Clara tersentak lalu menggeleng tanpa menjawab, melihat itu bu Franda mengerti apa yang ada di pikiran Clara. Dia lalu mengatakan jika bibi-bibi yang biasa bekerja di rumahnya akan kembali, jadi Clara tidak perlu takut. Setelah itu dia pamit.


"Kamu pasti takut aku macam-macam sama kamu kan, Sell?"


"Ah, enggak. Kenapa mesti takut? A-aku biasa saja." Clara tiba-tiba saja menjadi gugup, diteguknya kembali air putih yang masih di tangannya.


"Masa? Yang benar?" 


"I-iya. Lagian kenapa aku harus takut sama kamu?" Clara meraih kue yang ada di meja untuk menutupi gugupnya kemudian menggigitnya.


Zidan tersenyum jahil, timbul niatan untuk menjahili Clara. Diayunkan langkahnya mendekati Clara yang sedang menuang air minuman yang diambilnya dari dalam kulkas.


Dan tepat saat Clara memutar badannya gadis itu menabraknya, untung saja gelas di tangannya tidak terlepas dan jatuh ke lantai.


"Zidan, kamu bikin kaget aja deh," sungutnya, Zidan tak menjawab, tapi justru menatap Clara dengan tatapan yang sulit Clara artikan.


"Zi, kamu mau ngapain?" Clara mulai panik saat Zidan makin mencondongkan badannya. "Zidan, jangan macam-macam!"


Zidan tak menggubrisnya, dia justru makin bersemangat menjahili Clara. Dia sangat suka ekspresi Clara saat ketakutan seperti ini. Lucu dan menggemaskan.


"Zidan, kamu mau apa jangan macam-macam deh!" Clara tak bisa berkutik terlebih kedua tangan Zidan menghalanginya dengan bertumpu pada kulkas.

__ADS_1


Zidan tersenyum menyeringai, jahil. "Cuma mau satu macam."


Bersambung


__ADS_2