NODA MERAH KEKASIH

NODA MERAH KEKASIH
RUMAH SAKIT


__ADS_3

***


Clara tersentak saat merasakan ada sesuatu yang menempel di tubuhnya, kedua matanya terbuka lebar dan mendadak jantungnya tak berirama. Bagaimana tidak? Jarak dirinya dan Yuan begitu dekat. Terlebih wajah Yuan yang hanya beberapa senti di depan wajahnya.


Nafas laki-laki itu begitu hangat menyapu wajahnya. Dikerjap-kerjapkanya kedua matanya.


"Aku lihat kamu kedinginan jadi aku buka jaketku biar kamu nggak dingin."


Clara tak menjawab, dibiarkannya Yuan menyelimutinya dengan jaketnya.


"Aku mau keluar sebentar, kamu lanjutin lagi tidur aja!"


Clara masih tak merespon, melihat punggung Yuan hingga hilang di balik pintu. Clara melihat jaket milik Yuan lalu tersenyum.


"Kak Yuan ternyata baik juga," gumamnya lalu memeluk jaket Yuan seolah-olah sedang memeluk laki-laki itu.


Clara berkhayal andai dirinya benar-benar sedang dipeluk Yuan, menyandarkan kepalanya di dada bidang itu. Ah, tentu sangat nyaman.


"Astaga apa yang aku pikirkan? Apa aku sudah gila?" Clara menggeleng-gelengkan kepalanya, merutuki pikirannya yang mulai ngelantur kemana-mana.


Usai makan malam yang terlambat tadi Yuan memaksa menemani Clara menunggui ayahnya. Entahlah, melihat Clara sedih membuatnya iba dan ingin melindunginya. Yuan lupa dengan semua kebenciannya pada Clara. 


Yuan ternyata pergi ke minimarket yang ada di seberang rumah sakit untuk membeli rokok dan air mineral. Lalu kembali ke ruang di mana Darma dirawat.


Yuan melihat Clara sudah tertidur kembali dengan memakai jaketnya sebagai selimut. Ia terus memandangi wajah Clara yang terlelap sambil tersenyum. Sesekali ia mendengar gadis itu mengigau memanggil ibunya.


"Jika sedang seperti ini kamu seperti bayi yang butuh perlindungan, Clara. Polos, dan lemah. Tapi sayang … kamu tak sepolos kelihatannya. Kamu munafik dan rendahan. Kamu rela menukar tubuhmu demi uang." Yuan meracau sendiri, mendadak rahangnya mengeras dan tangannya terkepal.


Ia teringat kelakuan Clara yang pergi dengan beberapa pria yang berbeda dalam satu minggu. Mungkin, jika ia tak melihatnya sendiri ia takkan percaya melihat kelakuan Clara yang memalukan.


Tapi lagi-lagi rasa ibanya muncul dan mengalahkan rasa bencinya terhadap Clara.


"Aku harap setelah ini kamu kembali jalan yang benar, Clara. Kamu masih muda, sayang kalau kamu menyia-nyiakan hidup kamu dengan pekerjaan kotor itu."


***


Yuan terjaga dari tidurnya dan melihat Clara sedang menata makanan di atas meja. Ia memperhatikan gerak-geriknya Clara. Gadis itu terlihat berbeda karena tak memakai riasan wajah sedikit pun.


'Kamu cantik banget, Clara, walau tanpa make up. Wajah kamu terlihat lebih fresh.' tak terasa Yuan memuji Clara dalam hatinya.

__ADS_1


Yuan pura-pura tertidur lagi saat Clara menghampiri ranjang ayahnya dimana dirinya tertidur sambil duduk. Yuan membuka kedua matanya sedikit kala mendengar suara orang terisak.


"Ayah, kenapa ayah tidur terus? Bangun ayah. Apa ayah nggak mau Clara buatkan kopi? Aku sangat menyayangimu ayah. Aku tidak peduli meski ayah sering kasar dan mengambil uang Clara, Clara ikhlas. Ayah bangun! Clara sayang sama ayah," isaknya sambil menciumi tangan ayahnya yang digenggamnya.


Yuan trenyuh, mau tidak mau ia ikut merasakan kesedihan perempuan yang sedang memeluk ayahnya itu. Betapa Clara sangat menyayangi ayahnya meski pria itu sering menyakitinya.


"Clara …" panggil Yuan lembut.


Clara kaget, ia pikir laki-laki itu masih tidur. Dihapusnya jejak air mata di kedua pipinya.


"Eh, kak Yuan udah bangun, Clara ganggu ya? Maaf," ucap Clara menunduk, Clara merasa bersalah karena dirinya laki-laki itu jadi terbangun.


"Nggak, aku sudah banggun dari tadi."


"Aku tadi beli sarapan, kak Yuan cepetan cuci muka sana habis itu kita sarapan!" 


Clara berjalan ke arah sofa, sementara Yuan mencuci mukanya di kamar mandi. Setelah itu mereka sarapan sambil bercanda. Clara banyak bercerita tentang masa kecilnya yang sudah terbiasa bekerja.


Yuan menyimak, ia mulai ragu dengan penilaiannya sendiri tentang Clara.


Jika Clara menjual diri tentu dia tak akan kekurangan uang. Uang yang didapatkannya dari orang-orang yang mengencaninya tentu tidaklah sedikit. Jadi buat apa gadis itu capek kerja di cafe dan membuka warung kecil di rumahnya.


Saat hendak pergi Zidan datang dan kesal melihat Yuan ada di rumah sakit. 


"Ngapain dia disini? Menghina kamu lagi? Atau nyakitin kamu lagi?" tanya Zidan setelah Yuan pergi, wajahnya masam dan terlihat sekali dia tak suka dengan Yuan.


"Semalam kak Yuan nginep, dia nemenin aku jaga ayah."


"Apa? Nginep?"


"Hu'um."


"Berarti semalam kalian berduaan dong?"


Clara menangkap nada cemburu dalam kalimat Zidan. Clara berpikir apakah Zidan menyukainya, tetapi tidak mungkin? Kemudian Clara menepis pikirannya sendiri. Barangkali Zidan hanya mengkhawatirkan temannya? Iya pati seperti itu.


Pintu terbuka dan masuklah Dion bersama Dinda. Dinda memeluk Clara dan menghibur sahabatnya, Dion juga mengatakan rasa simpatinya. Dion melirik Zidan yang duduk santai di sofa.


'Ngapain dia pagi-pagi udah disini? Apa dia menginap? Tapi tidak mungkin, Clara tidak mengizinkannya.' batin Dion menahan cemburunya. 

__ADS_1


Setengah jam kemudian Dinda dan Dion pamit karena mereka harus bekerja.


"Clara, gue pulang dulu ya, gue meski kerja sekarang karena ada yang sakit jadi gue gantiin dia."


"Iya, makasih ya, Din, mungkin gue nggak akan masuk kerja beberapa hari, gue mesti merawat ayah dulu sampai sembuh."


"Nanti aku bantu izin sama pak Arman," sela Dion yang sedari tadi diam. Clara masih belum tahu jika restoran itu adalah miliknya karena jika Clara tahu dia pasti akan membencinya.


Setelah Dion dan Dinda pergi Adelia datang menjemputnya, sebenarnya Clara enggan meninggalkan ayahnya, tetapi Zidan mengatakan akan menjaganya.


***


Di kampus Clara ta bisa berkonsentrasi belajar, ia sangat mengkhawatirkan ayahnya. Ia tadi sudah berpesan pada Zidan untuk mengabarinya jika ayahnya siuman.


"Clara kamu kenapa, sakit?" tegur bu Franda saat melihat wajah Clara yang pucat.


"Nggak, bu, saya cuma kurang tidur saja. Semalam saya hanya terlelap 3 jam saja," terang Clara lalu menutupi mulutnya karena menguap. Clara benar-benar sangat capek dan mengantuk.


"Saya izin ke toilet ya bu, mau cuci muka." 


Bu Franda mengangguk, ia memaklumi jika Clara pasti capek karena harus kuliah dan bekerja.


Clara membasuh wajahnya di washtafel, saat melihat pantulan wajahnya di cermin Clara melihat bayangan Yuan tersenyum kepadanya.


"Astaghfirullahal adzim, kenapa aku jadi kepikiran dia terus sih?" 


Clara membasuh wajahnya lagi dengan air, berharap bayangan Yuan lenyap.


"Nggak ada cinta-cintaan, nggak ada pacar-pacaran lagi! Fokus Clara, fokus. Kamu udah janji nggak akan mikirin cowok lagi. Pikirin masa depan, gimana supaya cepat lulus dan bekerja di kantoran supaya kalau ayah minta uang kamu ada!"


Clara terus meyakinkan dirinya untuk tak memikirkan siapa pun. Clara keluar dari toilet dan hendak pergi, tetapi seseorang tiba-tiba menarik tangannya. Clara panik dan ingin berteriak tapi begitu melihat siapa yang menarik tangannya Clara terdiam.


Lidah Clara mendadak kelu dan tak bisa berbicara walau hanya sepatah. Ia berharap apa yang dilihatnya hanyalah ilusinya saja.


"K-kamu? Ngapain kamu disini?"


Bersambung 


Jangan lupa masukin rak, review, dan vote sebanyak-banyaknya ya. Makasih.

__ADS_1


__ADS_2