NODA MERAH KEKASIH

NODA MERAH KEKASIH
BERDAMAI DENGAN KEADAAN


__ADS_3

***


"Mantan yang mana, mantan lo kan banyak?"


Dion berdecak kesal, melempar guling di dekatnya pada Yuan. 


"Sialan, gue nggak kayak elo bang yang suka mainin perasaan cewek."


Yuan terbahak, dia tahu bahwa adik sepupunya itu jarang sekali terlibat hubungan dengan makhluk yang bernama perempuan. Yang dia tahu Dion pernah berpacaran dengan seorang gadis pelayan cafe di tempatnya, tapi Dion tidak pernah membawanya ke rumah. Bahkan namanya saja dia tidak tahu.


Dirinya dan Dion sama-sama tak begitu mempedulikan dengan siapa mereka berpacaran. Bagi mereka yang penting 'lo bahagia gue juga bahagia' hah, seunik itu hubungan mereka.


Namun, meski begitu mereka sama-sama menghargai pilihan masing-masing dan selalu mendukung satu sama lain.


"Terus, lo nggak rela gitu? Lo kan udah ada Dinda?" ujar Yuan masih tak mengalihkan pandangannya.


"Bukan gitu maksud gue."


"Lah terus?" 


"Bagus nya gue pergi apa nggak ya, ke nikahan dia?"


Yuan mengalihkan pandangannya pada Dion sejenak sebelum kemudian meraih minuman kaleng di atas meja.


"Lah lo mau nya gimana?"


"Clara sih nggak ngundang gue tapi ngundang cewek gue."


Yuan menyemburkan minuman yang ada di mulutnya hingga tempat tidurnya basah.


"Clara?"


"Iya, nama cewek gue dulu Clara. Kenapa lo kenal?"


Yuan bingung harus menjawab apa? Dirinya masih syok. Apa Clara yang dimaksud adiknya adalah Clara yang sama? 


Memori Yuan berputar, mengumpulkan puzzle demi puzzle yang berceceran.


Clara yang ia kenal juga bekerja di sebuah cafe milik keluarganya yang dikelola oleh om Angga, sepupu mamanya. Oh, astaga jadi …


"Lo punya foto Clara?"


"Punya, bentar."


Dion meraih ponselnya di dalam saku celana pendeknya. Membuka galeri mencari foto Clara. Hampir isi galeri hanya foto gadis itu. Bukan karena dirinya belum move on, tapi … dia masih belum menerima jika mereka sudah putus. (Ah, sama saja itu😂)


Tubuh Yuan seketika lunglai, ternyata benar dugaannya jika Clara mantan Dion adalah Clara yang sudah ia renggut kehormatannya.


Oh, kenapa dunia ini begitu sempit sehingga kemanapun kita berlari akan kembali ke tempat semula. Dirinya sudah bertekad melupakan gadis itu, tapi kenapa justru yang ada sebaliknya. Permainan takdir apa ini Tuhan?


"Cantik kan bang?"


Yuan tak merespon, pikirannya masih berkelana. Apa jadinya jika Dion tahu dirinya telah menodai mantan kekasihnya yang waktu itu mungkin masih berstatus pacar Dion.


"Eit, jangan lama-lama liatnya nanti lo naksir lagi? Iya lah secara Clara bukan cuma cantik dari luar, tapi hatinya juga baik. Aku aja langsung jatuh cinta dari pertama bertemu."


Dion membayangkan saat pertama mereka bertemu. Saat itu dirinya yang baru saja di perintahkan sang papa untuk membantu om Angga di cafe urung memperkenalkan diri sebagai bos mereka, tetapi kembali menyamar untuk melihat kinerja karyawannya secara langsung. 


Dan Dion melakukan itu supaya dirinya dapat berinteraksi lebih akrab dengan para pekerjanya. Dan dari sana dia tahu karyawannya merasa senang atas royalti yang diberikan. Capek lembur, tapi sangat sebanding dengan upah yang di dapat.


Saat itulah dia melihat Clara di antara semua karyawannya lalu mulai mendekati gadis itu. Mencoba menjadi teman, memberinya perhatian lebih, dan sampai akhirnya dirinya menyatakan perasaannya.

__ADS_1


Bak gayung bersambut, gadis itu menerimanya. 2 tahun, iya dua tahu mereka menjalin asmara, melalui suka dan duka bersama sampai pada hari itu entah kenapa dia begitu kesal pada Clara dan melontarkan kata putus. Dan tanpa diduga Clara menyetujuinya.


Setiap dirinya mengingat itu ia sangat menyesal, tapi ia mencoba ikhlas dan menerima keputusan Clara. 


Semuanya sudah terjadi. Lagi pula ia sudah punya Dinda yang juga sangat baik meski tak secantik Clara tapi Dinda sangat mengerti dirinya.


"Di bawah ada Adelia dia mau ketemu lo." 


"Adel? Mau ngapain?"


"Mana gue tau, kangen kali, kan elo pacarnya." Dion beranjak dari tempat tidur. "Dah ah gue mau turun. Buruan kasihan cewek lo nungguin dari tadi!"


"Iya bawel lo."


Dion tertawa lalu meninggalkan kamar Yuan menemui Adelia.


"Bentar ya, kak Yuan mau mandi dulu sepertinya. Daripada bengong sendirian mending kita nongkrong dulu di taman!"


"Boleh."


Dion mengayunkan langkahnya ke taman diikuti Adelia di belakangnya.


"Kak Yuan itu kalo mandi lama, kek cewek." Dion mulai berbicara lagi setelah menjatuhkan berat tubuhnya di kursi begitupun gadis cantik dengan penampilannya yang selalu memesona.


"Oh, gitu?"


"Hu'um."


Keduanya lalu diam sejenak, menengadah ke langit yang cukup cerah dengan bertabur bintang yang menghiasi angkasa.


"Lo tau kan kalo Clara mau nikah sama Zidan?" 


Adelia menoleh ke samping. "Tau, kenapa?"


Bayangan wajah Clara terus saja mengusik sekalipun ia sedang bersama Dinda-kekasihnya. 


Melihat Dion terdiam Adelia mengerti jika lelaki itu masih mempunyai perasaan pada Clara. 


Disentuhnya pundak Dion. Laki-laki itu menoleh. "Gue tau lo masih cinta kan sama dia, tapi Clara udah memilih Zidan. Lo ikhlasin ya?"


Dion diam sejenak sebelum kemudian mengangguk.


"Gue ikhlas kok, asal Clara bahagia gue juga bahagia."


Keduanya lalu saling tersenyum satu sama lain hingga beberapa saat. 


"Kalo diperhatiin lo ternyata cantik banget ya Del?"


"Apaan sih, jangan gombal deh!" Wajahnya terasa panas, jantungnya pun mendadak deg-degan.


"Gak gombal beneran. Kak Yuan beruntung banget dapetin elo."


"Dion, jangan mulai deh ..."


Dion terbahak melihat Adelia mulai salah tingkah. Entahlah, dia suka sekali menggoda pacar kakaknya itu. Sebab, kedua pipi Adelia mudah sekali merona setiap mendapat sanjungan atau pujian dan itu membuatnya senang.


Tawa Dion baru berhenti saat mendengar deheman dari arah belakang yang ternyata Yuan sudah berdiri sejak tadi.


Wajah Yuan terlihat tak senang dengan keakraban mereka.


"Baiklah, gue tinggal ke dalam dulu ya, Adel." Dion masuk meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


Adelia bangun dari duduknya lalu menghampiri Yuan.


"Ngomongin apa sampai kalian tertawa sebahagia itu?" Nada suaranya mengandung cemburu.


"Hah? E-nggak ngomongin apa-apa," sahut Adelia santai, tetapi dalam hati dia senang karena sepertinya laki-laki itu cemburu. "Kamu  cemburu?"


"Nggak."


"Masa?"


"Iya."


"Oh ya udah. Kak, aku mau pulang dulu udah malam."


"Aku antar!"


"Nggak usah aku bawa mobil."


"Tapi ini udah malem. Bahaya!" Yuan sedikit memaksa.


"Nggak usah kak, Adel berani pulang sendiri."


Yuan tak memaksa lagi, mereka lalu masuk ke dalam rumah. Adelia berpamitan pada mama Nurma dan juga papa Bram yang baru keluar dari kamarnya, sedang Dion tak kelihatan batang hidungnya.


"Kamu yakin nggak mau aku anter?" tanya Yuan saat Adelia sudah duduk di belakang kemudi.


"Nggak usah aku berani pulang sendiri kak Yuan istirahat aja kakak pasti capek?" 


Yuan tersenyum, entah mengapa suasana hatinya kini membaik setelah mendengar ucapan Dion tadi. Ikhlas, berdamai dengan hatinya. Dion mengikhlaskan Clara menikah dengan orang lain jadi dirinya pun harus begitu. Ia akan berusaha menata hidupnya kembali, toh dirinya sudah mau bertanggung jawab tapi Clara selalu menolaknya.


Sebagai laki-laki Clara terlalu angkuh baginya, sok tidak butuh pertanggung jawaban darinya dan sekarang, dia memilih lelaki lain. Jadi buat apa dirinya mengemis cinta dan maaf dari perempuan itu.


Ada Adelia yang mencintainya jadi dia akan berusaha membuka pintu hatinya untuk gadis itu.


"Kak Yuan …"


Kibasan tangan di depan wajah membuyarkan lamunannya. 


"Kenapa?"


"Nggak apa. Kamu hati-hati ya di jalan, jangan mampir kemana-mana, langsung pulang." Reflek tangan kanannya bergerak mengacak-acak rambut Adelia.


Adelia terdiam, tidak biasanya pria itu begitu manis terhadapnya? Kenapa? Ada apa? 


"Kok palah bengong? Atau mau aku antar?"


"Eh, gak usah kak nanti ngerepotin."


"Nggak, nggak ngerepotin. Masa antar pacar sendiri pulang ngerepotin sih. Kamu geser gih biar aku yang bawa mobilnya!" Yuan membuka pintu mobil dan seketika Adelia menggeser duduknya pada kursi penumpang.


"Beneran kak Yuan mau nganterin Adel? Terus nanti kak Yuan pulang naik apa?"


Yuan menatap gadis di sebelahnya, mengangkat sebelah alisnya.


"Aku akan menginap di rumahmu."


"Hah?"


Bersambung 


Hai, jangan lupa vota, komen, dan kasih hadiah ya.

__ADS_1


Masukan ke favorit biar nggak ketinggalan ceritanya.


Terima kasih semuanya😊


__ADS_2