NODA MERAH KEKASIH

NODA MERAH KEKASIH
DASAR ANEH


__ADS_3

***


Clara memalingkan wajahnya ke samping kala laki-laki yang sedang duduk di belakang kemudi itu meliriknya dari kaca spion bagian dalam. Hatinya kian dongkol melihat lelaki itu tersenyum.


Bukan apa? Semakin banyak laki-laki yang belum memperkenalkan dirinya itu tersenyum, semakin saja membuat hatinya gaduh. Dadanya pun kian berdegup kencang seperti sedang genderang yang sedang ditabuh. 


Ada apa dengannya? Jatuh cintakah?


Ah, mana mungkin dirinya jatuh cinta sama orang yang bahkan namanya saja belum tahu. Tapi sungguh laki-laki ini jika sedang tersenyum sangat manis meski wajahnya terlihat sangat menyebalkan.


'Oh astaga, aku mikir apaan sih? Bisa-bisanya aku mikir yang nggak-nggak' runtuk Clara dalam hati.


 


"Oh iya, nama saya Yuan Angga Wijaya. Panggil saja Yuan!" Yuan memperkenalkan dirinya pada Adel dan Clara.


Adel tersenyum. "Aku Adelia, dan yang di belakang itu sahabat aku. Namanya Clara. Oh iya, kak Yuan kuliah di sana atau ..." Kalimat Adelia terhenti kala melihat senyum manis Yuan mengembang.


Adelia kehilangan kata-katanya, tenggorokannya seperti tercekat dan suaranya tidak keluar.


'Ya Tuhan senyumnya manis banget.' ujar Adel dalam hati, seketika gadis itu lupa dengan luka di telapak tangannya, berganti hatinya yang kini berdebar tak karuan. 


Untuk beberapa saat Adelia terpaku menatap mahluk Tuhan di sebelahnya.


"Nggak, saya sudah kerja. Tadi hanya kebetulan lewat." jawab Yuan masih tersenyum.


Adel menanggapinya dengan anggukan. Dalam hatinya Adel berdoa semoga Yuan belum memiliki pacar sehingga dirinya mempunyai peluang menjadi pacar Yuan.


"Sepertinya tangan kamu sudah nggak sakit?" tanya Yuan melirik tangan Adelia sekilas.


Adelia melihat tangannya. "Lumayan, udah nggak sakit kayak tadi."


"Apa masih mau ke rumah sakit atau mau jalan-jalan?"


"Hei, Bung! Anda buta ya? Teman saya itu sakit bukan mau piknik!" sela Clara sewot, hatinya dongkol bukan main pada laki-laki yang tengah meliriknya. Meski tahu Yuan hanya bercanda tetap saja ia sangat kesal.


"Saya kan cuma tanya kenapa anda galak sekali nona? Kalau Nona galak begitu nanti nggak ada laki-laki yang mau dekat-dekat loh."


Adelia terkekeh mendengarnya. "Tuh, dengerin, Cla, nanti lo nggak laku loh kalo galak-gakak," timpal Adelia. Clara makin tambah kesal, bukannya membela dirinya karena telah meledeknya Adelia justru ikut mengolok dirinya.


Clara membuang wajahnya lagi ke samping, rasa kagum pada Yuan mendadak berubah jadi semakin kesal.


"Antar kami pulang aja kak, tapi sebelum itu kita antar Clara ke rumahnya dulu. Kak Yuan nggak keberatan kan?" sahut Adelia lembut serta senyum tak pernah lenyap dari bibirnya. Tentu saja itu sangat mengherankan Clara. Tidak biasanya Adelia seramah itu pada orang asing? Apalagi seorang laki-laki? 


"Oke baiklah, tapi tunjukin jalannya ya?"

__ADS_1


Adelia mengangguk. Obrolan berlanjut tapi Clara hanya menyimak, hatinya semakin kesal pada laki-laki yang baru dikenalnya itu.


***


"Adel, elo nggak apa-apa diantar pulang sendirian? Kalo mau gue bisa antar elo sampai rumah kok?" Clara melirik Yuan dari balik kaca mobil dalam saat hendak turun. 


Yang dilirik hanya tersenyum.


"Nggak usah, Cla, gue nggak apa kok. Lagian kalo elo pergi bokap elo nanti nyariin, kalo elo nggak ada ntar ngamuk lagi."


Adelia paham betul sifat ayah sahabatnya, selain suka mabuk Darma juga pemarah. Clara harus selalu ada untuk melayaninya. 


Clara tersenyum kecut. "Ya udah deh. Kalo ada apa-apa elo telpon gue ya!" Diliriknya lagi laki-laki itu. Yuan kembali tersenyum, dia tahu jika gadis cantik itu mengkhawatirkan sahabatnya.


"Tenang saja Nona, saya bukan orang jahat kok. Saya akan mengantar sahabat Nona yang manis ini pulang ke rumahnya tanpa ada yang kurang sedikit pun, utuh."


Kedua pipi Adelia langsung merona mendengar pujian dari laki-laki yang sejak tadi telah mencuri hatinya. Adelia menyadari perubahan wajah sahabatnya itu.


Clara turun dengan membanting pintu mobil hingga berbunyi 'BRUUG'.


"Teman kamu galak sekali ya, tidak seperti kamu yang ramah dan manis," puji Yuan sekali lagi setelah mobil kembali berjalan. Untuk kedua kali wajah Adelia kembali merona. 


"Kak Yuan salah, justru kebalikannya. Biasanya aku yang galak Clara yang ramah. Dia lagi banyak masalah aja makannya dia kayak gitu," jujur Adelia tanpa menghilangkan senyumnya.


'Gila, gue beneran jatuh cinta ini? Ya Allah kok indah gini yak?' batin Adelia. Ini pertama kalinya ia jatuh cinta pada seorang laki-laki, dan anehnya mereka baru saja saling mengenal kurang dari dua jam, benar-benar aneh bukan?


"Hu'um. Clara tinggal sama ayahnya yang suka judi juga mabuk. Clara itu luar biasa loh, setelah pulang kuliah dia harus bekerja di cafe sampai tengah malam," terang Adelia, gadis itu lupa jika tidak seharusnya dia menceritakan privasi sahabatnya pada orang lain. Terlebih pada orang asing. Tapi entahlah, Adelia hanya ingin mengobrol saja selama perjalanan ke rumahnya.


"Oh Ya?"


"Hu'um."


"Ibu nya?"


"Ibunya sudah meninggal setelah melahirkan Clara," sambung Adelia.


"Kasihan sekali."


"Iya, makannya aku sering bantu dia."


Sebenarnya Adelia ingin tetap mengobrol, tetapi takut terkesan dirinya agresif. Jadi Adelia memilih diam, hanya hatinya saja yang masih saja gedebak-gedebuk berisik tak karuan.


"Makasih ya Kak Yuan udah mau nganter. Mau singgah dulu?" Adelia menawari Yuan mampir ketika mobil itu tiba di depan pintu gerbang yang menjulang tinggi dengan rumah yang sangat megah di dalamnya, berbanding balik dengan rumah Clara yang sangat sederhana.


"Terima kasih, tapi saya masih ada janji dengan teman. Lain kali aja yah?" jawab Yuan ramah.

__ADS_1


Adelia turun kemudian melambaikan tangan pada mobil yang dikendarai Yuan yang mulai menjauh. 


"Apa tadi katanya? Lain kali? Berarti kita bakal ketemu lagi dong? Yes ..." gumamnya tersenyum kemudian masuk.


***


Setelah mengganti bajunya dengan baju rumah, Clara pergi ke dapur untuk membuatkan kopi ayahnya yang masih tidur sebelum ia pergi bekerja. Itu biasa ia lakukan karena ayahnya pasti sebentar lagi bangun dan minta dibuatkan kopi. 


Entahlah, meski galak dan sering menyusahkan Clara, tetapi ia tetap melayani ayahnya. Clara benci Darma tapi dia juga menyayangi pria setengah baya itu. Hanya Darma yang ia punya di dunia ini.


"Serius amat bacanya Nona?"


Clara terperanjat lalu mengangkat wajahnya, lebih terperanjat lagi saat melihat Yuan tengah berdiri menyandar pada pintu yang terbuka lebar, kedua tangan menyilang di dada, tersenyum manis ke arahnya.


"Kamu? Mau ngapain kesini? Mau minta uang jasa? Aku nggak punya uang." Ketus Clara yang sesungguhnya hanya untuk menutupi rasa gugupnya. Entahlah, dirinya selalu saja begitu setiap melihat senyum Yuan. 


Yuan menurunkan tangannya, berjalan ke arahnya lalu duduk di depan. 


"Ck ck ck, jangan galak-galak Nona nanti cantiknya ilang. Saya datang kesini bukan untuk minta uang tapi mau beli minum sama roti. Lagipula jangan selalu menilai kebaikan seseorang dengan materi."


Oh iya, selain bekerja di kafe Clara juga membuka warung kecil-kecilan untuk menambah penghasilan tapi tidak setiap hari buka, hanya jika ia belum pergi kerja saja atau sedang libur.


Kalimat itu berhasil membungkam Clara. Clara seperti terlempar ke dasar jurang terdalam. Ia merasa tidak enak hati karena telah menuduh yang tidak-tidak pada laki-laki yang telah baik mengantarnya pulang.


"Maaf, aku tidak bermaksud ... tadi mau beli apa?" Kali ini suara Clara lebih lembut tak seketus tadi. 


Kembali Yuan tersenyum manis ke arahnya, jangan tanya betapa gusarnya hati Clara kini.


'Jantungny aku kenapa jadi berisik gini sih? Tenang Clara, slow.  Tarik nafas, hembuskan perlahan' Clara menarik nafasnya dalam.


"Air putih sama roti."


Clara beranjak dari duduknya, mengambil sebotol minuman juga beberapa bungkus roti, memasukkannya ke dalam kantong keresek.


"Duapuluhribu."


Yuan merogoh kantong kemejanya, menyodorkan uang berwarna hijau itu pada Clara, setelah itu Yuan berlalu. Clara melanjutkan bacanya lagi tapi ...


"Clara ...."


"Iya ..."


"Besok pulang jam berapa? Aku jemput kamu di kampus yah!"


Belum juga Clara menjawab tapi Yuan sudah pergi. 

__ADS_1


"Dasar aneh," gumamnya kemudian tersenyum.


Hai reader. Ini adalah karya pertamaku, semoga kalian suka. Jangan lupa dukung dengan cara vote, review, dan masukin rak ya. makasih.


__ADS_2