NODA MERAH KEKASIH

NODA MERAH KEKASIH
NODA MERAH KEKASIH


__ADS_3

***


Clara kini sedang duduk di atas tempat tidur sambil sesekali menyeka kedua pipinya yang basah karena tak hentinya kedua matanya mengucurkan air mata.


Bu Franda dengan setia menemaninya dan mendengar penuturan Clara yang sedang mengisahkan nestapa yang menimpanya.


Betapa malang nasib anak sahabatnya itu. 


"Kalau begitu laki-laki itu harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Enak sekali jika dia dibiarkan begitu saja. Dia sudah menghinamu!" Berkata bu Frida dengan geram setelah mendengar cerita dari Clara.


Clara menggeleng. "Nggak, bu. Clara sangat membencinya. Clara nggak mau ketemu dia lagi." Tangis Clara kembali pecah, dia benar-benar tak ingin bertemu dengan Yuan. 


Direngkuhnya tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Ia tahu perasaan Clara seperti apa sekarang, dia bukan cuma kehilangan kesuciannya, tetapi juga harga dirinya sebagai perempuan terhormat.


"Lalu apa maumu?"


 


Clara melepas pelukan, mengusap kedua pipinya yang basah.


"Clara mau pergi jauh dari kota ini. Clara yakin dia pasti akan mencari Clara lagi."


"Tapi pergi kemana? Kamu tidak punya siapa-siapa selain ayahmu?"


Clara menggeleng, ia sendiri tidak tahu harus pergi kemana? Yang jelas dia hanya ingin pergi dari rumahnya.


Bu Franda berfikir sejenak.


"Kamu mau tinggal sama ibu?"


"Asalkan tidak merepotkan."


"Tentu saja tidak, ibu justru senang karena ibu jadi punya teman, ibu tinggal sendirian dan ibu selalu kesepian."


Melihat sikap Clara sebegitu terluka timbul dugaan jika gadis itu sepertinya mencintai laki-laki yang telah menghancurkan harga dirinya.


"Clara, boleh ibu tanya sesuatu?"

__ADS_1


Clara mengangguk. "Iya, bu. Tanya lah."


"Apa kamu mencintainya?"


Clara diam, menunduk. 


Ya, ia sudah merenung berkali-kali dan benar, ia mencintai Yuan bahkan sangat dalam. Hanya saja, ia tak ingin bersaing dengan sahabatnya sendiri.


"Iya, bu, Clara mencintainya. Tapi dia sudah menghinaku. Aku benci dia. Bu, tolong bawa aku pergi jauh dari sini. Aku nggak mau ketemu dia lagi!"


Bu Franda mengangguk, lalu menyuruh Clara untuk beristirahat. Ia akan menunggu Darma pulang untuk menjelaskan keadaan Clara. Dia tahu Darma pasti kecewa, tapi dia juga tahu pria itu juga sangat menyayangi Clara jadi tidak mungkin akan menyakitinya.


Sekitar pukul 3 sore Darma pulang dan bu Franda menceritakan semuanya tentang putrinya juga tentang keinginan Clara untuk pergi dari rumah untuk sementara waktu.


Darma tidak marah, dia justru kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga anak gadis satu-satunya.


"Apa ini karmaku, Franda? Dulu aku menghancurkan masa depan Harnum, dan kini orang lain pun melakukan hal yang sama pada anakku?"


***


Bu Franda membantu Clara berbaring. Setelah berdiskusi dan berdebat dengan Darma, pria itu akhirnya mengizinkan bu Franda membawa Clara untuk tinggal bersamanya meski dengan berat hati.


"Sekarang tidurlah, di sini kamu aman. Aku akan menjagamu." Dibelainya kepala Clara dengan sayang.


Clara kembali menangis. "Terima kasih banyak, bu. Clara tidak tahu harus dengan apa untuk membalas kebaikan ibu. Ibu mau menampungku yang sudah kotor dan ada noda merah di …"


"Sstttt … " Bu Franda menempelkan telunjuknya ke bibir Clara agar gadis itu tak melanjutkan bicaranya.


"Sudah, tidak usah diteruskan! Lupakan kesedihanmu! Ibu akan selalu menjagamu dan bayi yang ada di kandunganmu."


Diusapnya permukaan perut Clara, tangis Clara kian deras. Masa depannya hancur. Semua impian yang telah dirancangnya pun berantakan.


"Sekarang istirahatlah, tenanglah, kasihan bayimu jika kamu terus bersedih!" Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh Clara.


"Ibu tinggal dulu ya, kamu tidurlah! Nanti ibu bangunkan!" Clara mengangguk.


Bu Franda beranjak dari duduknya tapi urung karena Clara mencegahnya. Ditatapnya wanita berparas mirip dengan ibunya itu.

__ADS_1


Bu Franda tersenyum, ia tahu arti dari tatapan Clara yang mewakili rasa terima kasihnya. Ia lalu mengecup kening Clara sebelum kemudian meninggalkan kamar itu.


Clara bangun lalu duduk menyandar pada sandaran tempat tidur, pikirannya kalut, jiwanya terasa hampa.


Entah harus bagaimana dirinya menjalani hari-harinya nanti. Orang-orang pasti akan menghinanya karena mempunyai anak diluar nikah. Sekarang siapa yang mau menikah dengan seorang gadis yang sudah dipanggil ibu.


'Kak Yuan, tidakkah kak Yuan merasa apa yang aku rasakan? Aku mencintaimu sepenuh hati hingga rela jatuh ke dalam dosa yang tak terampuni. Tapi apa balasanmu? Kamu justru hanya menganggapku sebagai perempuan tak berharga dan murahan. Tidaklah kamu mencintaiku sedikit pun selain prasangka burukmu selama ini?'


'Oh, kak Yuan. Andai kau tidak seburuk itu menilaiku mungkin aku masih bisa memaafkanmu karena aku juga bersalah.'


Clara sadar jika perbuatan Yuan pasti tidak akan berlanjut andai saja ia mencegahnya bukan malah membalasnya dengan kemesraan yang sama tentu hal ini tidak akan pernah terjadi. Tapi semua telah terjadi, tidak ada gunanya lagi disesali. Noda merah itu kini telah bertunas, mau tidak mau dirinya harus mempertanggung jawabkan perbuatannya sendiri.


Diusapnya permukaan perutnya yang masih rata.


"Maafkan ibu, Nak. Kamu ada karena sebuah kesalahan yang tak dilandasi rasa cinta dari ayahmu. Maafkan ibu karena kamu lahir nanti tanpa ada seorang ayah yang akan menggendongmu, mengajakmu bermain, berlarian. Tapi ibu janji, ibu akan selalu ada buat kamu, menemanimu, menjagamu semampu ibu. Ibu tidak akan melenyapkanmu. Ibu akan membesarkanmu meskipun tanpa ayahmu."


Betapa peliknya hidup ini, banyak sekali orang yang berbuat dosa berkali-kali tapi tak pernah menanggungnya. Sedang dirinya hanya sekali menerjang dosa itu, itupun karena ia tak kuasa menahan rasa cintanya, tetapi sudah harus menanggung dosanya. Apa hidup sebegini kejam terhadapnya? Baru saja ia sedikit bahagia karena ayahnya telah berubah.


Tapi sekarang nestapa justru melandanya tiada hentinya.


"Ibu, maafkan Clara karena membuat ibu kecewa. Andai ibu masih hidup pasti ibu akan malu punya anak sepertiku. Hamil tanpa adanya suami, tapi salahkan Clara jatuh cinta?"


Tak ada jawaban, Clara menatap kosong langit-langit kamar rumah bu Franda seolah mencari jawaban. Dan karena lelah akhirnya Clara tidur.


***


Clara membuka kedua matanya perlahan saat merasakan bahunya ada yang mengguncangnya. Senyum wanita tulus itu mengembang.


"Sudah sore, kamu mandi dulu setelah itu sholat!"


Clara bangun lalu duduk, mengumpulkan nyawanya yang belum sepenuhnya kembali. Kemudian pandangannya mengedar. Ia baru ingat jika tadi pagi dirinya dibawa ke rumah bu Franda karena ia ingin menghindar dari Yuan. Mengingat semua itu Clara jadi teringat nestapanya lagi, wajahnya murung.


"Sudahlah, jangan bersedih berlarut. Ada ibu yang akan selalu menjaga kamu. Ibu tahu ini berat buat kamu apalagi kamu masih sangat muda," ucapnya, tangannya terjulur menghapus kedua pipi Clara yang mulai basah.


"Sekarang kamu bangun, mandi, terus sholat. Minta ketenangan, ibu yakin kamu bisa melewati semua cobaan ini," sambungnya, Clara mengangguk.


Sungguh dirinya sangat beruntung dipertemukan dengan wanita sebaik bu Franda sebagai pengganti ibu yang tak pernah dilihatnya selain di foto. Andai ibunya masih hidup tentu akan melindungi dan menyayanginya seperti bu Franda.

__ADS_1


Bersambung 


Selamat malam, jangan lupa vote, masukin rak, review ya. Makasih semuanya.


__ADS_2