NODA MERAH KEKASIH

NODA MERAH KEKASIH
KARENA AKU PEDULI


__ADS_3

***


Sepeninggal Zidan Clara masih saja bersedih meski tak seperti sebelumnya. Pertemuan tak sengajanya dengan Zidan sedikit membuatnya lega, sejak dulu Zidan adalah satu-satunya teman laki-laki yang paling akrab dengannya.


Kalo boleh jujur, dulu dia sempat suka pada kakak kelasnya itu, tapi hanya sebatas suka. Mungkin karena Zidan baik dan sering membantunya. Namun, setelah Zidan lulus laki-laki itu menghilang dan perasaannya pun ikut lenyap dari hatinya.


Tok tok tok


Ketukan di pintu membuyarkan lamunan Clara, ia beranjak dari tempat tidur untuk membukakan pintu.


Bu Franda tersenyum, di tangannya memegang gelas berisi susu untuk ibu hamil lalu memberikannya kepada Clara.


"Seharusnya ibu tidak usah repot membuatnya, Clara bisa buat sendiri." 


Mereka lalu duduk di tepi tempat tidur, Clara meneguk susu di tangannya sampai habis tak tersisa.


"Tidak apa ibu senang melakukannya." 


Clara tahu jika bu Franda baik dan tulus, hanya saja dia merasa tidak enak karena terus merepotkan. Sudah diberi tumpangan gratis dilayani seperti tamu hotel pula.


"Sekarang kamu tidur, pasti kamu capek!" Dibantunya Clara berbaring seperti mengurusi anaknya sendiri, menarik selimut untuk Clara. Ia lalu duduk di tepi ranjang, membelai surai gadis itu.


"Apa kamu masih belum memaafkan laki-laki itu?"


Clara menggeleng cepat, kedua matanya mulai berkaca. Dan bu Franda tahu mengapa Clara masih enggan memaafkan Yuan. Sebenarnya diam-diam dia pergi menemui Yuan, ia hanya ingin yang terbaik buat Clara. Dan dari pertemuan itu Yuan punya itikad baik untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya dengan menikahi Clara.


Dan dari pengakuan Yuan pula, laki-laki itu pun sebenarnya mencintai Clara, tapi Clara tidak percaya dan mengusirnya.


Wajar, Clara merasa sakit hati karena penyesalan Yuan bukan karena perbuatannya yang terlanjur, tetapi karena dia melakukan itu karena menganggap Clara sudah tidak perawan, dan itu sangatlah menyakitkan.


Clara sakit hati dan kecewa, rasa cinta yang dipendamnya menjadi hancur berkeping-keping. Dia tidak terlalu mempermasalahkan keperawanan yang telah terlanjur direnggut Yuan, karena itu juga salahnya.


"Ya sudah, sekarang kamu istirahat. Besok pagi mau sarapan apa biar ibu buatkan?"


"Tidak usah repot-repot, bu, Clara bisa masak sendiri. Clara biasa masak sendiri di rumah."


"Tapi ibu tidak akan mengizinkanmu turun ke dapur selama kamu tinggal sama ibu, kamu nggak boleh bantah. Paham!"


Clara manyun, dia merasa punya ibu yang sangat menyayanginya sekarang.


"Baiklah kalau ibu sudah bicara begitu Clara bisa apa selain menurut?"


"Bagus, anak pintar. Selama kamu tinggal sama ibu, ibu ingin memanjakan kamu." Clara memejamkan kedua matanya saat bibir bu Franda menempel di keningnya.


"Ibu berharap kamu tetap tinggal disini sama ibu, menemani hari tua ibu," sambungnya dengan kedua mata yang mulai berkabut.


Clara mengangkat tubuhnya lalu memeluk bu Franda. "Clara nggak akan pernah ninggalin ibu, Clara sayang sama ibu."


Keduanya lalu larut dalam suasana haru. Clara begitu terharu. Baru kali ini dirinya merasakan pelukan hangat seorang ibu. Clara berjanji tidak akan pernah meninggalkan bu Franda, ia berjanji akan menemani wanita itu dan merawatnya dikala dia telah renta.


Clara mengurai pelukannya, menghapus jejak air mata di kedua pipi bu Franda, wanita itu pun melakukan hal yang sama pada Clara lalu keduanya saling melempar senyum.

__ADS_1


"Terima kasih sayang. Harnum begitu beruntung punya putri sepertimu." 


"Clara juga beruntung karena  ibu punya sahabat sebaik bu Franda."


"Ah, kamu terlalu berlebihan. Ibu tidak sebaik itu, dulu ibu sempat sangat membenci ibumu."


"Maukan ibu bercerita tentang masa muda kalian?"


Bu Franda terdiam, jika boleh jujur dirinya belum siap dan tidak akan pernah siap. Menceritakan masa lalunya itu sama saja membuka luka hatinya yang sudah bertahun-tahun dia kubur.


"Lain kali saja ya sayang ini sudah malam, kamu harus istirahat!"


Clara sebenarnya kecewa, tetapi apa yang bu Franda katakan memang benar, jam di dinding sudah menunjuk angka 10 lebih.


"Oh iya ibu kan tadi tanya kamu mau ibu masakan apa besok?"


Clara berpikir sejenak, dari beberapa hari lalu selain ingin makan bakso yang ada di kantinnya kampus dia juga ingin makan nasi uduk yang ada di dekat sekolahnya dulu.


Dulu ia sering membelinya karena selain enak harganya juga murah, tapi tidak mungkin ia tega menyuruh bu Franda untuk membelikannya untuknya. Tempatnya jauh dari rumah ini, tapi ia benar-benar ingin makan itu.


"Sepertinya tidak ada, bu," putus Clara akhirnya.


"Kamu yakin?"


Clara mengangguk yakin. Akhirnya bu Franda meninggalkan Clara setelah mengecup keningnya.


"Kamu kok bikin ibu susah sih, Nak? Harusnya kamu jangan minta yang aneh-aneh. Kan ngggak mungkin ibu bilang sama bu Franda kalau ibu ingin makan nasi uduk di dekat sekolah ibu dulu, tempatnya jauh dari sini." Gumam Clara sambil mengusap perutnya yang masih rata.


Baiklah, ia akan menelpon Zidan sekarang.


***


Di jalan otak Zidan terus berputar, bayangan wajah Clara yang menangis menari-nari di ingatan. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Gadis yang ia cintai sejak lama kini telah hamil anak orang?


Haruskah ia marah, atau menerima Clara beserta bayi yang di kandungnya meski itu bukan darah dagingnya? Ia sangat mencintai Clara dan sudah menunggu momen ini sejak lama.


Dan pada akhirnya Zidan memilih Clara, dan tetap akan menerima Clara apapun keadaan gadis itu.


Ponsennya berbunyi dan dengan sebelah tangannya Zidan meraih ponselnya, melihat siapa yang menelponnya. Wajahnya langsung berbinar begitu melihat nama yang tertera di layar sedang memanggil.


"Iya, Sella?"


"Zidan, aku boleh minta tolong nggak?"


"Iya tentu saja. Minta tolong apa?"


Clara tampak bingung, disisi lain merasa tidak enak, tapi disisi lain ia benar-benar ingin makan itu sekarang juga dan tidak bisa ditahan lagi.


"Sella, kamu masih di sana?"


"I--iya masih," sahut Clara gagap.

__ADS_1


"Kamu mau minta tolong apa, kamu ingin sesuatu? Katakkan sajak aku akan membawakannya untukmu?"


"Ak-aku mau makan nasi uduk yang di dekat sekolah kita dulu."


"Hah? Sekarang?"


"Iya sekarang."


Zidan terdiam, melirik jam di pergelangannya. Jam setenah sebelas lewat, mana ada penjual nasi uduk di jam segini? Lagi pula mereka pasti sudah pada tidur dan baru akan membuat nasi uduknya besok pagi.


Karena tak ada jawaban Clara paham, permintaannya pasti sangat aneh dan merepotkan. Mana ada penjual nasi uduk di jam begini? Tapi ia sudah tidak tahan karana ingin maķan itu.


"Ya udah deh kalau nggak bisa. Aku ngerti kok, permintaanku memang aneh." Suara Clara terdengar sangat kecewa.


Zidan terkesiap. "Eh, bukan gitu, aku hanya sedang mengingat gang masuknya soalnya aku lupa … hehe? Baiklah, satu jam lagi aku akan kesitu, tunggu aku ya!"


Zidan akan menutup telponnya, tapi Clara mencegahnya.


"Ada lagi yang mau kamu makan?"


"Nggak, tapi …"


"Tapi apa, katakan saja!"


"Kamu kenapa sih selalu baik sama aku?


"Karena ..."


"Dan karena aku cinta sama kamu Clara Permaisella Rahadi." Inginnya dirinya mengatakan itu, tetapi takut Clara justru akan menjauhinya.


"Kenapa Zidan?"


"Karena … karena aku peduli sama kamu. Ya sudah aku tutup ya soalnya aku lagi nyetir."


Panggilan pun berakhir.


"Kenapa kamu belum nyadar juga sih, Sella, aku tuh cinta banget sama kamu, aku ingin melindungi kamu, menjaga kamu."


Entah kapan Clara akan  menyadari perasaannya. Yang jelas ia akan menunggu hari itu, hari dimana Clara akan menerimanya, menerima cintanya, Zidan yakin saat itu akan segera datang.


Pasti, dan dirinya percaya itu.


Sementara itu Clara merasa ada yang aneh dengan sikap Zidan tadi. Laki-laki itu seperti tengah gugup, kenapa? Ada apa dengan Zidan?


"Tadi Zidan kenapa kok kayak orang gugup gitu?" 


Bersambung 


Jangan lupa vote, komen, masukin rak dan kasih hadiah ya.


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2