NODA MERAH KEKASIH

NODA MERAH KEKASIH
BAWA AKU BERSAMAMU


__ADS_3

***


Disimpannya kembali ponsel miliknya ke dalam kantong celananya setelah menerima panggilan dari seseorang. Yuan segera meninggalkan kantornya meski dia belum lama datang. Hal itu menuai banyak tanya dari karyawannya dan juga om Hari.


Pria itu bertanya tapi Yuan seperti tak mendengar, dia terus berjalan dengan tergesa menuju parkiran.


"Mau kemana anak itu?" gumamnya sendirian lalu membuang nafas dalam, berharap tak ada hal buruk yang akan terjadi. Dia paham betul watak Yuan yang sedikit keras kepala dan suka nekad.


Yuan tiba di taman dan langsung turun mencari-cari keberadaan Clara. Rupanya yang menelponnya tadi adalah orang yang diperintahnya untuk mencari tahu keberadaan Clara.


Langkah Yuan terhenti kala kedua matanya menangkap sosok perempuan yang membuatnya tidak tenang. Clara sedang berjongkok sambil mengusap-usap kelinci yang memang dibiarkan bebas berkeliaran.


"Kamu lucu banget sih jadi gemes deh." Clara duduk di rumput lalu memangku kelinci itu sambil terus membelainya.


Yuan tersenyum, perlahan kedua kakinya terayun menghampiri Clara.


"Kamu lapar ya, duh kasihan kamu. Tapi aku nggak bawa makan …"


"Clara ..."


Clara terhenyak lalu mengangkat wajahnya, dan lidahnya seakan tercekat, wajahnya mendadak berubah pucat.


"Ka--kamu …" Kelinci di pangkuannya terlepas tanpa sadar, dadanya bergemuruh bercampur antara rindu dan benci. Hampir 2 bulan lebih dirinya bisa menghindar dari laki-laki itu kini mereka bertemu lagi.


"Iya ini aku, aku mencarimu kemana-mana. Clara, kenapa kamu terus menghindariku?" Yuan hendak mendekat, tetapi Clara mengangkat tangannya.


"Stop! Jangan mendekat!" Clara berdiri dan hendak pergi, tapi tangan Yuan lebih cepat bergerak mendekap tubuh Clara. Clara memberontak, memukul dan mencakar punggung laki-laki itu.


"Lepas, aku benci sama kamu!" Clara memukul-mukul punggung laki-laki yang memeluknya.


"Aku nggak akan lepasin kamu. Aku cinta sama kamu, Clara. Aku akan bertanggung jawab." Pria itu makin erat memeluk meski Clara terus memukuli punggungnya.


Tapi pria itu seolah tak merasakan sakit. Cakaran Clara tak sebanding dengan sakit yang ia berikan kepada gadis itu.


"Bohong! Kakak bohong. Aku benci kakak. Lepaskan aku!"


"Lepaskan dia!" Teriakan Zidan berhasil membuat pelukan Yuan melemah, dan kesempatan itu dimanfaatkan Clara untuk melepaskan diri dan berlari menuju Zidan, berlindung di balik punggungnya yang lebar.


"Kamu nggak apa-apa?" Zidan sangat khawatir terjadi sesuatu pada Clara.


Clara menggeleng sambil terisak. "Aku nggak papa, Zi." Clara mencengkeram lengan Zidan kuat seolah meminta perlindungan.


"Aku takut, Zi."


"Sudah jangan takut, kan ada aku." Zidan mengalihkan pandangannya ke arah pria tadi.

__ADS_1


Yuan memutar badannya menghadap Zidan.


"Kamu …?" Zidan seperti tak percaya dengan penglihatannya. Otaknya langsung berpikir keras. 


Tadi Yuan mengatakan akan bertanggung jawab,  jika demikian laki-laki yang sudah menghancurkan masa depan Clara adalah Yuan, kekasih Adelia-sahabat Clara.


"Ck, kamu lagi. Aku nggak ada urusan sama kamu. Berikan Clara padaku!!" Yuan mengatakannya dengan sinis dan sorot mata tajam ke arah Zidan.


"Nggak akan. Kamu telah melukainya. Sebaiknya jauhi Clara dan jangan ganggu hidupnya lagi!"


Yuan tertawa mendengar ucapan Zidan yang sok jadi pahlawan kesiangan buat Clara.


"Kamu siapanya Clara berani ngatur-ngatur dia?"


"Aku temannya."  


'Teman yang mencintai diam-diam' sambung Zidan dalam hati.


"Hah, teman? Jadi cuma teman?"


Zidan tak menjawab, dia menggenggam tangan Clara erat seolah takut gadis itu dirampas Yuan.


"Kamu mencintai Clara kan?" sambung Yuan masih menatap Zidan penuh permusuhan.


"Iya, aku mencinta Clara dan akan menikahinya. Ada masalah?"


Deg ….


Clara terdiam menatap Zidan yang juga tengah menatapnya, kedua netra mereka bertemu. Clara mencari kesungguhan di mata elang itu barangkali Zidan hanya sedang berakting seperti biasanya, tapi Clara tidak menemukan apa-apa selain kesungguhan di mata Zidan.


Zidah mencintainya? Sejak kapan? Kenapa ia tidak pernah menyadarinya? Terlebih mengapa Zidan tidak pernah mengatakannya? 


Bermacam dugaan kini berkelebat di benak Clara membuat kepalanya pusing. Clara mencengkeram lengan Zidan erat untuk menjaga keseimbangan tubuhnya yang mulai kehilangan kesadaran.


"Hebat, rupanya kamu mau jadi pahlawan kesiangan? Clara itu milikku, dia sudah ternoda olehku jadi biarkan aku yang bertanggung jawab."


"Tapi Clara nggak mau sama kamu, jadi sebaiknya kamu pergi dan jangan ganggu hidupnya lagi. Clara sudah sangat menderita karenamu." Zidan sangat geram, jika tak ingat mereka di mana pasti sudah dihajarnya habis laki-laki tak tahu diri itu.


Yuan mendengus kesal, kedua tangannya terkepal, rahangnya mengeras menahan amarah.


"Jangan halangi niat baikku. Biarkan aku membawa Clara pulang. Berikan Clara padaku." Yuan mendekat, tapi Zidan mundur beberapa langkah.


"Jangan memaksaku berbuat kekerasan!" 


Yuan tak menggubris ancaman Zidan, langkahnya terus terayun hingga mereka kini hanya berjarak 2 meter saja.

__ADS_1


"STOP! Jangan memaksaku, Kak, kalau Kakak terus maju aku tidak akan segan-segan memukul Kakak!"


Yuan tersenyum smick, baginya Zidan hanya anak kecil yang tak perlu membuatnya takut. Kakinya terus melangkah perlahan namun pasti.


Zidan terus mundur dengan masih menggenggam tangan Clara, sebenarnya tangannya sudah gatal ingin memukul Yuan, tetapi ditahannya. Ia tak mau membuat Clara takut dan membencinya karena Clara benci laki-laki yang tempramen, hanya mengandalkan otot bukan otak. Clara benci itu semua. Ia tidak mau bila itu terjadi.


"Stop, Kak Yuan, kalau nggak aku akan panggil warga!"


Yuan tak peduli, dia terus melangkahkan kedua kakinya dan Zidan pun selalu mundur.


"Berikan Clara padaku!"


"Nggak! Aku nggak mau ikut kamu! Aku benci sama kamu! Zi, tolong bawa aku pergi dari sini. Aku nggak mau ikut dia." Clara terisak, dia benar-benar tidak mau ikut bersama Yuan. Melihatnya saja sudah membuat ia merasa jijik pada dirinya sendiri.


Bagaimana bisa ia dulu begitu pasrah dalam pelukan pria brengsek yang tak pernah menghargainya? Bagaimana ia bisa jatuh cinta pada laki-laki yang merendahkan harga dirinya? Ia sungguh bodoh, tidak bisa menahan dirinya. Terlebih mengapa rasa cinta itu masih tetap ada meski ia juga membencinya? Kenapa?


"Clara tolong maafkan aku, ikutlah denganku. Aku akan meminta ayahmu untuk menikahkan kita. Aku mencintaimu, Clara. Sungguh," ucap Yuan menghiba. Hati Clara mendadak ada yang hangat.


Benarkah Yuan mencintainya? Tapi bagaimana dengan Adelia yang juga sangat mencintai laki-laki itu? Tidak mungkin ia tega menyakiti hati sahabatnya sendiri? Tapi dirinya juga mencintai Yuan, terlebih ada anak laki-laki itu di dalam rahimnya.


Clara dilema. Ia tidak tahu harus bagaimana.


"Clara aku mohon ikutlah denganku, aku akan menikahimu. Aku janji nggak akan nyakitin kamu. Aku mencintaimu, Clara," mohon Yuan lagi, suara begitu tegas dan penuh keyakinan.


Clara makin dilema, hatinya kembali bergetar mendengar ucapan cinta dari Yuan. Jika mau jujur ia pun masih sangat mencintai laki-laki itu, rasa kecewa dan benci ternyata tak mampu mengikis perasaannya untuk laki-laki yang kini berdiri di depannya dengan wajah mengiba.


Clara menatap Zidan, Zidan pun menatapnya. Zidan melihat ada keraguan di manik indah Clara. Ia tahu jika Clara masih mencintai Yuan.


"Pergilah, semoga kamu bahagia." Perlahan diturunkannya tangan Clara yang ada di lengannya, tersenyum.


"Aku pergi ya. Jaga diri kamu baik-baik, ingat aku kalau kamu butuh bahu untuk bersandar." Zidan perlahan berjalan mundur, tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah Clara.


"Dadah." Zidan membalikkan badannya, dia tidak mau Clara melihat jika ada genangan air di kedua matanya.


"Zidan," panggil Clara, tetapi Zidan terus melangkah hanya melambaikan tangannya tanpa berbalik ke arah Clara.


Sakit. Sangat sakit. Cinta pertama yang telah sekian lama ia pendam harus berakhir sangat tragis. Kecewa? Tentu saja ia kecewa, tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Cinta tidak bisa dipaksakan, ia tidak bisa mencegah hatinya untuk tidak jatuh cinta pada Clara begitupun sebaliknya, dirinya tidak bisa memaksa Clara untuk mencintainya.


Clara mencintai Yuan. Hati Clara bukan untuknya, tetapi untuk laki-laki itu.


Tiba-tiba seseorang menggenggam tangannya, Zidan menoleh.


"Bawa aku bersamamu!"


Bersambung 

__ADS_1


__ADS_2