NODA MERAH KEKASIH

NODA MERAH KEKASIH
KETAKUTAN CLARA


__ADS_3

***


Bu Franda berniat mengutarakan kabar baik itu pada Clara, tetapi urung. Dia sedang bahagia sekarang karena Darma menyambutnya. Pria dari masa lalunya itu ternyata masih menyimpan perasaan yang sama sepertinya.


Perasaan yang dulunya pernah menggebu-gebu, tapi seketika hancur saat mendengar Darma menikah dengan sahabatnya sendiri, Harnum.


Dia pikir perasaan itu sudah mati, tapi ternyata tidak. Perasaan itu kembali menggelora saat tanpa tak sengaja melihat Darma di lampu merah beberapa waktu lalu.


Tapi … benarkah Darma masih mencintainya? Bukankah waktu itu dia pernah mengatakan tak akan pernah menikah lagi demi cintanya pada Harnum?


Lalu sekarang … pria itu tiba-tiba merubah keputusannya sendiri. Apa dia melakukannya demi Clara? Ah, kenapa rasanya sulit dipercaya setelah apa yang dulu dilakukan Darma padanya.


Pada akhirnya bu Franda urung mengutarakan pada Clara, dia harus berfikir jernih. Dia tidak boleh tergesa-gesa, dia tidak mau merasakan kecewa untuk kedua kalinya.


"Jadi mau dirayakan atau sederhana saja?" Bu Franda bertanya saat mereka hanya berdua saja, Darma dan Zidan sedang keluar entah kemana. Tadi mereka hanya bilang pergi ke suatu tempat.


"Sederhana saja, bu. Lagipula, Clara malu, masa sudah hamil mau dirayakan?" sahut Clara seperti tak bersemangat. 


Sebenarnya Clara takut, takut tidak bisa mencintai Zidan, takut laki-laki itu suatu saat akan meninggalkannya. Clara sadar, dunia Zidan sangat berbeda dengan dirinya. Setiap hari, kapanpun dan dimanapun Zidan berada akan selalu jadi sorotan banyak mata. 


Terlebih gadis-gadis remaja yang mengidolakannya. Apakah dirinya yang jauh dari kata trendi, seksi dan menarik ini bisa bersaing dengan penggemar-penggemarnya?


"Clara …" Sentuhan di bahu menariknya dari lamunan. "Ada apa? Apa ada sesuatu yang kau risaukan, ceritalah sama ibu!"


Clara menggeleng, dia tidak mau menambah beban wanita itu lagi.


"Ya sudah kalau tidak mau cerita ibu juga tidak memaksa."


Clara jadi tak enak hati mendengar ucapan Bu Franda barusan.


"Bu, kenapa mereka lama sekali perginya?" Entah kenapa Clara mulai cemas, dia khawatir pada Zidan dan ayahnya yang tak juga kembali.


Mendengar itu bu Franda beranjak dari duduknya berpindah ke ranjang pasien. Tersenyum.


"Apa kamu mulai merindukan calon suamimu?"


"Hah?" Mendengar pertanyaan seperti itu Clara gelagapan. 


Rindu? Benarkah dirinya merindukan Zidan? Mereka baru saja bertemu dan berpisa selama setengah jam. Dan bahkan mereka hampir tak pernah berpisah selama 3 hari ini. Zidan selalu mengunjunginya bahkan menemaninya saat ayahnya sedang pulang.


"E--enggak, siapa yang rindu? Clara cuma khawatir aja karena ini sudah mau maghrib," ujar Clara beralasan, dia tidak mau mengaku jika sebenarnya rindu pada Zidan.


"Rindu juga tidak apa-apa, kan dia calon suamimu." 


Clara tidak membahas itu lagi. "Bu, kok Clara masih ragu ya?"


"Ragu kenapa?"


"Clara takut Zidan akan meninggalkan Clara, ibu kan tau kehidupan Zidan di luar seperti apa? Zidan setiap hari dikelilingi gadis-gadis cantik. Clara takut akan hal ini, Clara takut dia akan berpaling dan meninggalkan Clara."


Sungguh, bayangan akan hal itu sudah menghantui dirinya. Padahal belum tentu akan terjadi.


Bu Franda mengusap kepalanya, tersenyum.


"Jangan memikirkan yang belum tentu terjadi. Ibu percaya Zidan itu anak baik dan dia bertanggung jawab. Percaya sama ibu!"


"Mudah-mudahan itu benar."


Keduanya lalu membahas topik lain, kali ini bu Franda selalu menggoda Clara yang sejak tadi terus saja membahas Zidan. Bu Franda menuduh Clara sedang merindukan Zidan, tetapi Clara selalu menyangkal dan mengatakan dirinya tak merindukan laki-laki itu.

__ADS_1


Namun, lain di mulut lain di hati. Hatinya bertentangan dengan apa yang diucapkannya. Ya, entah mengapa akhir-akhir ini hatinya mulai condong pada Zidan.


Mereka tidak sadar jika sepasang mata memperhatikan mereka sejak tadi. Bibir seksinya selalu tersenyum.


"Sella, Sella. Kalau kangen bilang aja, pake malu segala, aku kan calon suamimu."


Celetukan dari arah pintu membuat kedua perempuan beda generasi itu menoleh asal suara. Zidan sedang berjalan ke arahnya.


"Zidan, sejak kapan kamu di situ?" 


Clara tidak sadar jika sejak tadi laki-laki itu telah berdiri di dekat pintu sehingga dia mendengar percakapan keduanya.


"Sejak kamu bilang kangen aku."


"Dih, kapan aku bilang gitu?" Clara ngeles.


"Tadi …"


"Kapan? Kamu bohong?" 


"Nggak. Aku nggak bohong."


"Iya."


"Nggak." 


"Iya."


"Nggak."


Bu Franda hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat pasangan muda itu. Sama-sama tidak ada yang mau mengalah.


"Sudah, sudah. Karena calon suamimu sudah datang ibu harus pulang." Dia bangun dari duduknya, meraih tas lalu menyelipkannya ke pundak.


"Percayakan semuanya pada saya, Bu. Saya pasti akan menjaga dia dengan baik."


Bu Franda tersenyum lalu menghampiri Clara. "Ibu pulang dulu, besok kesini lagi menjemputmu." Dikecupnya kening Clara sebelum kemudian pergi. 


Sepeninggal bu Franda mereka saling diam, rasanya sangat canggung. Padahal sebelumnya biasa saja, debar di dada keduanya kini semakin hebat.


"Mmmm, ayah mana, Zi?" Clara membuka suara untuk mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa kaku.


"Ayah … eh, maksudku om Darma di mushola. Iya, di mushola."


'Kenapa aku jadi grogi gini sih? Biasanya juga nggak gini, tapi kenapa sekarang rasanya aneh? Tapi indah sih'?'


"Oh."


"Nanti gantian aku yang sholat om Darma yang jagain kamu." Zidan beranjak dari duduknya hendak berpindah ke sofa.


Berdekatan dengan Clara sungguh tidak baik buat jantung dan pernafasannya.


"Mau kemana?"


Zidan urung. "Ke situ …" Di tunjmuķnya sofa yang ada di ruangan itu.


"Ngapain? Kamu malu deket sama perempuan yang sedang hamil anak orang?"


Zidan tersentak mendengar ucapan Clara barusan, wajahnya terlihat kesal.

__ADS_1


"Kamu ini ngomong apa sih, bukan begitu."


"Lalu kenapa pindah kalau bukan karena malu, apalagi anak ini bukan anakmu pasti kamu jijik kan sama aku?"


Zidan semakin kesal dengan tuduhan Clara, padahal ia tadi hanya takut tak bisa mengontrol dirinya untuk tak menyentuh wanita itu.


"Kamu ini ngomong apa sih, Sell, jangan ngaco deh!" Suara Zidan naik satu oktaf.


Clara tak menjawab, entah mengapa tiba-tiba dia sangat takut kehilangan Zidan. Kedua matanya berkaca-kaca lalu mulai terisak membuat Zidan merasa bersalah karena membentaknya.


Zidan mendekati Clara lalu merengkuhnya ke dalam pelukan.


"Maaf, aku tidak bermaksud membentakmu. Maafkan aku." 


Clara mendongak. "Kamu nggak akan ninggalin aku kan?"


Zidan menggeleng. "Nggak akan pernah, aku akan selalu bersama kalian."


Clara mengeratkan tangannya pada pinggang Zidan.


Di luar, Yuan yang melihat itu hatinya begitu hancur. Sepertinya sudah tak ada lagi harapan baginya untuk memiliki Clara.


"Kamu lihat kan? Clara sudah sudah punya calon suami. Sekarang tepati janjimu. Jauhi dia!"


Yuan mengangguk lemas. "Baik om, jika itu yang om mau saya tidak akan mengganggu Clara lagi. Saya permisi om?"


"Hmmm …."


Yuan meninggalkan rumah sakit dengan kecewa, hatinya juga sudah hancur tak berbentuk. Ini adalah untuk kedua kalinya dia jatuh cinta pada seorang perempuan setelah hatinya patah beberapa tahun lalu hingga membuatnya lari ke minuman dan berkencan dengan banyak gadis.


Bagaimana dia tidak kecewa dan hancur? Gadis yang dipacarinya berselingkuh dengan laki-laki lain sampai hamil. Dan sekarang … dia menodai seorang gadis yang dicintainya, lebih parahnya gadis itu menolaknya.


Hah! Hidup macam apa ini? Kenapa setiap dirinya jatuh cinta pada seorang perempuan selalu saja berakhir mengecewakan.


***


"Napa lo, Bang? Lecek amat wajah lo kayak duit kembalian angkot?"


Seperti sebelumnya, Dion nyelonong masuk ke kamarnya tanpa permisi, berbaring di sebelah pria itu. Dion melihat Yuan yang masih kucel dan berkeringat.


"Emh, belum mandi lo, asem banget?"


Yuan tak menggubris adiknya, dia fokus pada langit-lagit kamarnya yang berwarna putih.


"Bang …"


"Hmmm," sahut Yuan tanpa mengalihkan pandangannya.


"Buruan mandi sono ada yang nyariin lo tuh di bawah!"


"Siapa?" tanya Yuan tak minat.


"Mang Udin," sahut Dion lalu terbahak, Yuan menyentil kuping Dion membuat adiknya itu mengaduh.


"Bang, lo tau nggak? Mantan gue mau nikah?"


Bersambung


Nah, sampai disini Yuan bakalan tahu jika Clara adalah pacar adiknya eh, tepatnya mantan pacar yang kehormatannya sudah Yuan renggut. Kira-kira apa ya reaksi Yuan?

__ADS_1


Makannya terus pantengin dan jangan lupa masukin rak biar gak ketinggalan kelanjutannya.


Ma'acih, ilofu💞


__ADS_2