
***
Seperti yang sudah Clara duga, pagi sebelum pergi ke kantor. Laki-laki itu datang ke rumahnya dan mencarinya. Yuan hanya bertemu Darma yang menahan amarah untuk tidak menghajar laki-laki yang telah menghancurkan anak gadis.
"Ayah, Clara mohon jangan sakiti dia. Clara juga salah, seharusnya Clara mencegahnya bukan membalasnya." Air matanya tak bisa dibendung, sebelah tangannya memegang tangan ayahnya yang terkepal.
"Clara mencintainya ayah."
Darma terdiam lalu merengkuh tubuh Clara ke dalam pelukkannya. Ia tidak menyangka nasib anaknya akan seperti ini. Apakah ini karma untuknya karena dulu pun dirinya menodai Harnum hingga hamil hingga lahirlah Clara? Dan sekarang laki-laki lain pun menodai anak gadisnya.
"Kalau boleh saya tau Clara pergi kemana ya, Om?"
Darma tersentak dari lamunan lalu menatap Yuan dengan kebencian. Sejak awal Darma memang tidak suka dengan laki-laki yang berdiri di depannya.
"Saya tidak tau," jawab Darma singkat.
"Kalau begitu kapan Clara pulang, Om?"
"Saya juga tidak tau."
Yuan tertunduk lesu, ia rasa percuma bertanya pada ayah Clara. Benar kata Adelia Darma memang tak pernah peduli pada anaknya.
Yuan merasa makin bersalah karena telah membuat hidup Clara makin menderita.
Akhirnya Yuan pamit dengan menelan kecewa di hatinya.
"Clara, apa sebegitu tak termaafkan perbuatanku sampai kamu selalu menghindar dariku. Clara, aku mencintaimu. Dan aku sangat menyesal karena telah menuduhmu yang bukan-bukan. Kamu dimana, Clara?"
Yuan benar-benar frustasi. Ia tidak tahu lagi dengan cara apa agar Clara mau memaafkan kesalahannya. Apa perlu ia berlutut sampai gadis itu mau mengampuninya.
Ia pun mengakui jika meski ia membenci Clara, tetapi dirinya juga tak bisa pungkiri ada nama gadis itu di lubuk hatinya yang terdalam. Sejak pertama perjumpaan mereka ia tidak bisa melupakan Clara. Yuan merasa Clara berbeda dari perempuan-perempuan yang pernah dikencaninya.
Clara spesial, Clara galak, dewasa, lucu, dan terkadang manja. Dan yang pasti dia apa adanya, mandiri dan kuat.
Yuan tiba di kantor dan langsung masuk ke ruangannya. Baru juga duduk sekretarisnya menghampiri dan mengatakan jika ia ada pertemuan dengan pak Sadewa.
"Iya, kamu atur saja tempatnya," perintah Yuan tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel di tangannya.
Yuan sedang mengetik pesan untuk Clara, menanyakan keberadaan nya, tetapi centang satu itu artinya gadis itu mematikan datanya. Yuan menunggu beberapa saat tapi centangnya tak kunjung berubah.
Yuan lalu membuka galeri, mencari photo Clara yang diambilnya secara diam-diam saat pertama ia datang ke rumah Clara. Tampak gadis itu sedang menunduk serius membaca buku di bawahnya.
Bibirnya mengurai senyum. "Cantik banget." Gumamnya sambil membelai wajah Clara di ponselnya.
__ADS_1
"Makasih, pak."
Yuan sontak mengangkat wajahnya, mengerutkan dahi menatap sekretarisnya yang ternyata belum pergi dari hadapannya.
"Ngapain kamu masih disini?"
"Nunggu bapak."
"Nunggu saya?" Yuan makin mengerutkan keningnya.
"Iya, kali aja bapak butuh sesuatu apa gitu?"
"Tidak! Sana kamu keluar!" Dikibaskan tangannya ke udara, menyuruh sekretarisnya enyah dari hadapannya.
Yuan memijit pelipisnya setelah sekretaris yang menurutnya kurang se ons itu keluar.
Heran, darimana om nya nemu sekretaris macam itu? Sayangnya gadis itu pintar meski otaknya kadang oneng.
Diperiksa kembali pesan singkat yang dikirim untuk Clara, masih centang satu.
***
"Pergi? Pergi kemana ya, mbak?" tanya Adelia. Pagi ini seperti biasa Adelia menjemput Clara untuk berangkat ke kampus bersama, tapi Clara justru pergi entah kemana?
"Kok Clara nggak bilang sama gue ya?" Gumam Adelia sendiri, tidak biasanya sahabatnya itu pergi tanpa mengabarinya.
"Saya juga kurang tau, tapi dia pergi dengan seorang wanita."
"Oh, kalau terima kasih ya, mbak."
Adelia lalu berpamitan. Memacu kendaraannya lagi menuju kampus. Sebelum jam kuliah di mulai dia menghubungi ponsel Clara tapi nomornya tidak aktif, akhirnya dia mengirim pesan singkat.
"Clara, elo dimana? Kok, nggak masuk kuliah? Kata tetangga elo, elo pergi, pergi kemana? Kalo udah aktif cepat lo telpon gue!" Ketik Adelia lalu mengirimnya kepada Clara.
"Selamat pagi semuanya?"
"Selamat pagi, bu …."
***
Adelia duduk sendirian di kantin, sebenarnya banyak laki-laki yang mendekat dan menawari menemaninya tapi dengan galak diusirnya.
Bukan apa? Dia hanya ingin menjaga hatinya untuk laki-laki yang kini namanya terukir di hati. Adelia tidak ingin membuka celah untuk lelaki lain menyelinap masuk. Hatinya sudah terkunci rapat hanya untuk Yuan.
__ADS_1
Entahnya, mungkin dirinya terlalu berlebihan atau terlalu bucin. Tapi ia hanya ingin sekali seumur hidup jatuh cinta, menikah dengan cinta pertamanya. Apa itu berlebihan, ia rasa tidak?
"Hai! Melamun aja lo, cepet tua nanti!" Zidan tiba-tiba datang dan langsung duduk di depannya. Meletakkan es jeruk miliknya di meja depannya.
"Eh, elo, Zidan. Bikin kaget aja? Enggak, gue lagi mikirin Clara?"
"Clara? Kenapa dia? Sakit?" Raut cemas jelas terlihat di wajah tampannya, Zidan takut jika Clara sakit.
Adelia mengernyit. "Bukannya kalian pacaran ya? Kok, lo gak tau kalo Clara pergi?"
Zidan gusar, bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin mengatakan mereka hanya berpura-pura pacaran meski ia ingin.
"Itu … anu … apa?" Zidan menggaruk kepalanya gugup.
"Heh, kok, lo gugup gitu? Ada yang lo sembunyiin ya?"
"E--nggak, gak ada. Cuma perasaan lo aja kali."
Zidan menyeruput es jeruk miliknya untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"Oh, gue kira lo lagi nyembunyiin sesuatu." Adelia lalu menyuap bakso miliknya.
"Kira-kira Clara kemana ya?"
"Lo udah telpon dia?"
"Udah, tapi nomornya gak aktif. Apa dia ke tempat saudaranya … eh tapi setau gue dia gak punya saudara di sini. Clara cuma punya ayahnya?"
Mereka kemudian sama-sama diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Menerka-nerka kemana perginya Clara.
"Sebenarnya hubungan elo sama Clara kayak gimana sih? Kalian pacaran kan?" tanya Adelia tiba-tiba, ia merasa ada yang aneh. Jika memang Zidan pacar Clara tentu tahu kemana Clara pergi.
"Ya, nggak gimana-gimana. Kayak yang elo lihat. Tenang dan damai," sahut Zidan asal, dalam hatinya dia merasa geli sendiri.
'Gimana nggak adem ayem, lah, kita nggak ada hubungan apa-apa, tapi gue cinta sama Clara dari jaman sekolah dulu. Cuma gue takut ditolak. Gue takut Clara jadi menjauh dari gue. Mungkin gue terlalu pengecut karena nggak berani ngungkapin perasaan gue ke dia, tapi begini aja gue bikin gue bahagia.' Zidan membatin, meski tidak bisa memiliki Clara, tapi selalu berada di sampingnya saja dirinya sudah senang.
"Gimana kalo ntar malem kita ke tempat kerjanya?" Zidan memberi ide, barangkali mereka bisa ketemu Clara di tempat kerjanya.
Adelia berpikir sesaat. "Ide bagus. Kenapa gue nggak mikir ke arah situ? Oke, ntar malem lo jemput gue yak!"
"Okey …."
Bersambung
__ADS_1