
***
Sepanjang jalan pulang Zidan terus memikirkan igauan Yuan, nama yang disebut Yuan dalam alam bawah sadarnya benar-benar mengganggu pikirannya.
Apakah Clara yang Yuan maksud adalah Clara orang yang sama ia kenal? Tapi rasanya tidak mungkin Clara bisa mengenal orang seperti Yuan? Masalahnya jika melihat keadaan Yuan rasa-rasanya mustahil jika Clara yang Yuan Maksud adalah Clara teman SMA nya.
"Semoga saja bukan kamu orang yang Yuan maksud Clara?" gumam Zidan tanpa sadar. Untung saja Roby yang sedang fokus menyetir tak mendengar gumaman nya.
***
"Iya ada, kenapa kak?" Adelia melirik Clara yang sedang fokus dengan bukunya.
Seperti biasa, gadis itu akan belajar usai jam kuliah. Dan dengan setia Adelia akan menunggunya hingga Clara selesai.
Tapi kali ini sedikit berbeda, jika biasanya Adilia mengobrol dengan temannya yang belum pulang sekarang ada seseorang yang selalu menelponnya kala jam kuliahnya usai.
Clara acuh bahkan seperti tak mendengar Adelia yang sedang bermesraan dengan Yuan lewat sambungan seluler.
Tapi siapa yang tahu jika gemuruh di dadanya terasa sangat menyiksanya. Namun, Clara berusaha bersikap biasa. Clara tidak ingin membuat sahabatnya tahu jika dirinya kini sedang merasakan cemburu yang luar biasa.
["Tidak ada apa-apa, nanti pulangnya aku jemput ya?"] Suara Yuan di seberang telpon.
"Mmmm … boleh tapi Adel bawa mobil. Mobil Adel gimana kalau kak Yuan jemput Adel?" Adel sangat manja membuat Yuan yang ada di sana jengah.
Yuan suka cewek yang mandiri.
["Gampang nanti. Oh iya nanti malam aku mau ajak kamu nonton?"]
"Baiklah, nanti malam Adel tunggu."
Mereka masih melanjutkan obrolannya, sesekali Clara melirik saat Adelia tertawa atau merengek manja seperti anak kecil.
Clara tersenyum dalam sakit yang dirasakan hatinya kini. Bagaimanapun ia ikut senang melihat sahabatnya senang. Biarlah ia pendam sendiri luka hati yang ia rasakan. Sebagai sahabat yang baik bukankah seharusnya begitu?
"Hai, sudah mau pulang ya?"
Tiba-tiba kedua gadis itu dikejutkan kemunculan Zidan dari arah belakang. Mereka baru saja meninggalkan ruang kelas.
__ADS_1
Kedua gadis itu menoleh bersamaan. Baik Clara maupun Adelia sama-sama kaget melihat Zidan berada di kampus mereka. Sedang apa selebgram itu di kampusnya? Apa sedang membuat konten untuk diunggah di sosmed nya?
"Zidan, ngapain lo di sini? Bikin konten?" tanya Adelia, beberapa hari lalu Clara sempat memberitahu jika ia bertemu dengan Zidan.
Dan Adelia juga sempat bertemu secara tak sengaja di sebuah pusat perbelanjaan saat dirinya sedang berbelanja dengan pengasuhnya.
"Mulai besok gue jadi salah satu mahasiswa di kampus ini."
"Lo serius?" Clara tak percaya jika apa yang Zidan ucapkan beberapa hari lalu di kafe bukanlah bercanda, Zidan benar-benar pindah ke kampusnya.
Mereka berjalan menuju parkiran. Di sana telah ada Yuan yang sudah menunggu Adelia dengan bunga di tangannya.
Adelia menghampiri Yuan yang langsung memberikan bunganya pada Adelia.
"Kamu suka?" Tanya Yuan melirik Clara dengan sengaja untuk memanas-manasi.
Clara memalingkan wajahnya, ada titik air yang menggenang di kelopak matanya. Dadanya terasa sesak menyaksikan Adelia yang bermanja-manja pada lengan Yuan.
Zidan yang menyadari situasi mulai paham saat melihat Yuan, orang yang ditolongnya kemarin lusa.
"Iya," jawab Clara pendek.
Clara lalu menunduk lagi, ia tidak berani mengangkat wajahnya karena pasti akan melihat pemandangan yang akan membuat hatinya kian perih. Ditahannya air matanya yang sudah mengaburkan penglihatannya.
"Jangan nangis Clara, jangan nangis! Kamu harus kuat. Ingat cita-cita kamu untuk tidak memikirkan cinta-cintaan lagi." Clara berusaha menguatkan hatinya, ia sudah berjanji untuk tidak memikirkan laki-laki manapun. Ia ingin meraih cita-citanya menjadi orang sukses.
Zidan memeluk Clara dari samping, ia sekarang mengerti jika yang Yuan sebut namanya waktu itu adalah benar Clara teman SMA nya.
"Oh, jadi pacar elo yang elo sembunyiin dari gue rupanya itu Zidan? Kenapa lo nggak pernah cerita sama gue?" Tiba-tiba Adelia sudah ada di dekatnya dengan Yuan yang meletakkan tangannya di bahunya.
Clara membuka mulutnya hendak menyangkal bahwa bukan Zidah yang ia maksud, tetapi Dion, teman kerjanya di kafe tapi Zidan menyela terlebih dahulu.
"Iya, kami sudah berpacaran lama. Sebenarnya gue mau kasih tau elo tapi Clara melarang. Bukan begitu, sayang?" Zidan sedikit menekan tangannya di bahu Clara, memberi isyarat jika sebaiknya ia mengiyakan saja.
Clara tersenyum.
Sementara Yuan seperti terbakar hatinya, rahangnya mengeras dan wajahnya memerah menahan amarahnya.
__ADS_1
Tak hentinya Yuan mengecap Clara dalam hatinya sebagai perempuan yang senang bergonta-ganti pasangan. Yuan semakin membenci Clara dan bahkan ia muak pada Clara.
Setelah sebentar bercengkrama mereka lalu berpisah setelah Adelia mengusulkan untuk double date malam ini. Clara hendak menolak tapi lagi-lagi Zidan menjawab lebih dulu.
Zidan berkali-kali menoleh Clara yang sedari tadi hanya diam sambil menatap keluar kaca mobil. Zidan mengerti jika Clara sedang bersedih karena Yuan.
"Kamu cinta sama laki-laki itu kan, Sella?" Zidan akhirnya buka suara. Clara menoleh sekilas lalu kembali menatap luar jendela.
"Nggak. Kenapa kamu ngomong gitu?"
"Mulut kamu boleh ngomong nggak tapi mata kamu nggak bisa bohong. Kenapa kamu nggak jujur aja sih sama perasaan kamu sendiri?"
Sebenarnya kalimat itu lebih pantas untuk dirinya sendiri. Sejak masih duduk di kelas 2 SMA ia sudah menaruh hati pada Clara. Hanya saja dirinya terlalu pengecut untuk berterus terang pada gadis itu.
Dan sekarang pun dirinya masih saja seperti pecundang, padahal dirinya yang sekarang bukanlah Zidan yang dulu. Siapa yang tak kenal Zidan Adi Mahendra. Selebgram dan youtuber dengan pengikut yang jutaan follower.
Namun, saat berhadapan dengan Clara tetap saja ia seperti Zidan yang dulu, Zidan yang selalu insecure di depan Clara.
Clara menarik nafas dalam, seberapa berusaha ia menyembunyikan perasaannya tapi nyatanya dengan sangat mudah diketahui oleh Zidan.
"Keliatan banget ya?" Clara menoleh Zidan, memperhatikan laki-laki yang sedang fokus mengemudi.
Zidan tak menjawab, hanya menolehnya sekilas lalu kembali menatap jalan.
Hening sesaat, Clara sedang menata hatinya agar selalu tegar menghadapi semuanya.
"Tapi nggak ada gunanya. Kak Yuan sudah jadi milik Adelia. Aku nggak mau bersaing sama sahabatku sendiri. Aku bahagia kok, kalau Adelia juga bahagia. Lagi pula …" Adelia menjeda ucapannya, menarik nafas untuk memberi oksigen pada hatinya yang berdenyut nyeri.
"Aku nggak mau mikirin cinta-cinta lagi, saat ini aku hanya ingin fokus kuliah biar cepat tamat dan cari kerjaan yang lebih baik lagi."
Pupus sudah harapan Zidan untuk memiliki Clara saat ini, gadis itu sudah menutup hatinya rapat-rapat. Tapi Zidan masih berharap jika suatu hari nanti Clara akan membuka pintu hatinya lagi dan ia berharap Clara akan memberinya izin untuk mengisi hatinya.
Bukan hanya itu, Zidan berharap Clara yang akan menjadi pendamping hidupnya nanti.
Bersambung
Jangan lupa masukin rak dan kasih dukungan ya. terima kasih
__ADS_1