
***
Kedua mata Clara tak berkedip melihat Yuan yang juga menatapnya. Berada begitu dekat dengan Yuan selalu membuat tubuh Clara panas dingin dan gemetaran. Jangan lupa jantungnya yang berdentum-dentum seakan hendak keluar dari tempatnya.
Dan seperti waktu itu, Yuan tiba-tiba menarik Clara lebih dekat dengannya dan perlahan menyambut bibir mungil gadis itu.
Semula Clara berontak, tetapi ciuman Yuan yang berbeda dari sebelumnya membuat Clara terlena dan lambat laun membalasnya dengan sama lembut dan sama manisnya.
Tok tok tok
Ketukan di daun pintu yang sangat keras membuyarkan khayalan Clara tentang Yuan.
"Astaghfirullahal adzim." Clara meraup wajahnya. Bagaimana bisa dirinya membayangkan yang tidak-tidak sepertinya itu?
Dirapikkannya rambutnya terlebih dahulu sebelum kemudian membuka pintu dan mendapati Desi berdiri di depannya.
"Ngapain pake dikunci?" Nada bicara Desi terdengar kesal, wajar saja karena perutnya sangat sakit karena menahannya cukup lama.
"Awas minggir, aku kebelet pipis."
Clara menggeser tubuhnya agar Desi bisa masuk lalu kembali ke kelas. Saat melewati bangku Adelia gadis itu berbisik.
"Pssttt, lo cuci muka apa tidur, lama amat?" bisik Adelia, kedua pipinya mengembang karena menahan tawa.
"Mau tau atau mau banget?" Clara ikut berbisik.
Adelia berdecak kesal, ia ingin melayangkan cubitan di pinggang Clara tapi melihat wajah bu Franda yang menatap mereka membuat niat Adelia urung.
"Awal lo lihat pembalasan gue!"
Clara menjulurkan lidahnya ke arah Adelia dan dibalas dengan juluran lidah pula.
"Clara silahkan duduk di bangku kamu!"
"Iya, bu."
Bu Franda menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua mahasiswinya itu. Dalam benaknya berpikir, andai saja ia bisa memiliki anak, mungkin sudah sebesar mereka. Sayangnya ia mandul sehingga diceraikan suaminya.
***
Clara kembali ke rumah sakit dan melihat ayahnya sudah siuman. Zidan pamit karena ia juga harus kuliah. Zidan memang mengambil kuliah di jam itu karena jika pagi ia bekerja, dan kebetulan hari ini ia libur jadi bisa membantu Clara menunggui ayahnya.
Clara membersihkan tubuh Darma dengan cara mengelapnya dengan handuk yang sudah ia basahi terlebih dahulu, hati-hati sekali karena ayahnya sesekali terlihat meringis saat Clara mengelap di bagian yang memar.
"Sakit? Maaf, Clara akan lebih hati-hati. Tahan, sebentar lagi selesai."
__ADS_1
Darma tak menjawab, ia hanya melihat saja apa yang dilakukan Clara padanya. Diam-diam kedua sudut matanya mulai menghangat. Clara masih saja mau merawatnya padahal ia sering menyakitinya, dan tak segan berbuat kasar padanya, tetapi Clara tetap baik dan selalu menunjukkan baktinya.
Pintu terbuka dan Adelia masuk membawa beberapa kantong plastik dan paper bag berisi makanan dan buah-buahan. Gadis bersurai panjang itu tadi berpamitan keluar sebentar ternyata untuk membeli itu semua.
Adelia memperhatikan apa yang dilakukan Clara pada Darma, ayah yang selalu membuat hidupnya menderita. Diam-diam Adelia bangga mempunyai sahabat yang begitu sabar dan tabah seperti Clara. Mungkin jika dirinya yang ada di posisi seperti Clara pasti sudah membuang jauh-jauh ayah seperti itu.
***
"Ayah sudah kenyang." Darma menahan tangan Clara saat hendak menyuapinya lagi.
"Tapi ayah harus makan banyak biar cepat sembuh, katanya mau cepat pulang jadi ayah harus makan yang banyak. Ayo aa lagi!" Bujuk Clara sambil menyodorkan sendok berisi bubur yang tadi suster antarkan.
Darma menggeleng, semua makanan yang masuk ke mulutnya terasa pahit. Darma ingin minum kopi buatan Clara seperti biasanya.
"Ya udah kalau ayah udah kenyang. Tapi ayah harus makan buah yah?"
"Nih udah gue kupasin dan udah gue potong-potong sekalian." Adelia menyodorkan mangkuk.
Adelia ternyata sudah mengupas buah apel dan sudah dipotong-potong kecil-kecil agar mempermudah Darma saat memakannya.
"Makasih Adel, baik banget sii." Ucap Clara menerima mangkuk itu dengan senyum tulus.
Betapa beruntungnya dirinya mempunyai sahabat seperti Adelia, sudahlah baik, kaya, tidak sombong, dan suka menolong orang. Adelia juga tak pernah memandang rendah dirinya yang jika dibandingkan dengannya maka akan seperti langit dan bumi.
Tapi ia tetap bersyukur dengan apa yang ia punya sekarang.
"Biar ayah makan sendiri, kamu makanlah, kamu kan juga belum makan!" Darma merebut mangkuk di tangan Clara lalu memakan isinya.
Darma tidak mau terus dihantui perasaan bersalahnya. Setelah sembuh nanti ia akan bekerja dan akan berusaha menjadi ayah yang baik buat Clara. Darma ingin membahagiakan buah hatinya di sisa umurnya.
Clara melihat ayahnya sebentar lalu menghampiri Adelia yang sedang mengeluarkan makanan.
"Lo kenapa beli makanan sebanyak ini, lo laper apa doyan?" Clara heran mengapa sahabatnya itu membeli makanan hingga mejanya hampir penuh.
Adelia tertawa. "Kak Yuan mau kesini, tadi dia nelpon dan ngajak makan siang bareng, tapi gue bilang nggak bisa karena gue di rumah sakit nemenin elo, eh, dia malah mau kesini ya udah makanannya gue tambahin. Lo nggak apa kan … kak Yuan makan siang bareng kita?" papar Adelia panjang lebar.
Deg, ' Kak Yuan mau ke sini?'
Clara terdiam sejenak, bayangan halu nya saat di toilet kampus pun berkelebat. Ia sangat malu karena membayangkan yang tidak-tidak dengan laki- laki-laki itu. Untung saja itu halu maka jika sungguhan ia pasti akan sangat malu sekali sekarang.
"Iya nggak papa," sahut Clara kemudian.
Selang beberapa menit Yuan datang, ternyata Yuan pun datang tidak dengan tangan kosong. Di tangannya terdapat paper bag dan parcel berisi buah-buahan. Parsel itu ia berikan kepada Clara.
__ADS_1
Mereka lalu menyantap makan siang mereka sambil bercerita apa saja. Tapi Adelia yang lebih banyak berbicara, menceritakan masa kecilnya dulu yang lahir sebelum waktunya.
"Kata papa juga aku lahir saat papa mama masih sangat miskin." Wajah Adelia mendadak muram, ia teringat cerita mamanya yang mengisahkan hidupnya dan suaminya sebelum Adelia lahir.
Semua diam menunduk, baik Yuan maupun Clara sama-sama tak bisa berkomentar apapun. Clara sendiri tidak tahu jika sahabatnya punya kisah hidup yang pahit.
Ponsel Adelia berbunyi membuyarkan kesunyian karena semua saling diam.
"Assalamualaikum, mah?" Salam Clara setelah mengangkat panggilan yang ternyata dari mamanya.
[Kamu dimana, sayang, kok belum pulang mama khawatir loh] Terdengar nada kekhawatiran di seberang telpon.
"Adel di rumah sakit lagi ne …"
["Rumah sakit? Siapa yang sakit? Kamu sakit?"] Suara di seberang terdengar sangat panik, wajar saja karena Adelia tak memberitahu mama dan papa nya.
"Ayahnya Clara. Ya udah ya, mah, Adel juga udah mau pulang nih."
Sambungan berakhir setelah mamanya mengingatkan Adelia untuk berhati-hati saat menyetir.
"Clara gue pulang dulu ya," pamit Adelia lalu menoleh Yuan.
"Aku sebentar lagi juga mau pulang. Nggak apa kan … aku disini?" Yuan menatap Adel, menunggu jawaban kekasihnya.
"Oh, yaudah nggak apa-apa. Aku juga bisa pulang sendiri. Kak Yuan kalau masih mau disini Adel titip Clara ya?"
Yuan terdiam sejenak, Adelia begitu percaya kepadanya. Apakah dirinya tega jika memutuskannya nanti? Karena tidak mungkin ia dan Adelia bersama karena yang sebenarnya ia cinta adalah Clara_sahabat karibnya.
"Biar gue antar ke depan," ucap Clara yang diangguki Adelia.
Kedua gadis itu meninggalkan Yuan dan Darma hanya berdua saja.
Sepeninggal Adelia dan Clara, Darma memanggil Yuan agar mendekat. Darma menanyakan siapa namanya dan ada hubungan apa dirinya dengan putrinya.
Rupanya Darma sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya laki-laki itu. Yuan memang selalu mencuri pandang ke arah Clara saat mereka makan tadi. Tatapan Yuan juga berbeda saat berbicara selalu melihat ke arah Clara.
"Saya Yuan, om. Teman Clara sama Adel," sahut Yuan. Sepertinya Darma akan berbicara sesuatu kepadanya.
"Cuma teman?"
Yuan diam, tidak tahu harus menjawab apa. Jika ia mengatakan pacar Adelia tapi mencintai Clara apalah Darma akan marah.
"Tidak usah kau jawab aku sudah tau jawabannya." Darma menatap Yuan dengan pandangan menghujam.
Dari tatapan Darma, ia tahu jika ayah Clara tak menyukainya.
__ADS_1
"Jauhi putri saya! Saya tidak sudi anak saya berhubungan dengan laki-laki pecundang sepertimu!
Bersambung