NODA MERAH KEKASIH

NODA MERAH KEKASIH
TAK ADA KHABAR


__ADS_3

***


"Lo kenapa, Bang, abis putus cinta lo?" 


Seperti biasa, Dion masuk ke kamar Yuan dan langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang, tentu saja Yuan yang sedang kesal pada Clara kini makin bertambah kesal dengan ulah adiknya itu.


"Ck, masuk kamar orang gak ketuk pintu dulu! Dasar gak sopan lu!" sungut Yuan lalu melempar guling di dekatnya.


"Lah, pintunya kan gak di tutup ngapain pake ketuk dulu?"


Yuan menoleh ke arah pintu yang ternyata pintu kamarnya terbuka lebar. Padahal ia tadi sudah menutupnya, mungkin tertiup angin?


Dion lalu duduk bersila di depan Yuan yang sedang memainkan ponselnya, punggungnya menyandar pada sandaran dipan.


"Lo belum jawab pertanyaan gue. Lo lagi ada masalah apa cerita sama gue?"


Yuan hanya melirik adiknya yang menatapnya cemas, lalu kembali  menatap layar pendar di tangannya. Merasa diacuhkan Dion mulai kesal.


"Bang, gue ngomong sama elo bukan sama tembok jawab napa?"


"Jawab apaan?" Yuan justru balik bertanya membuat Dion bertambah kesal. 


Pasalnya dirinya diperintah sang mama yang khawatir pada anak lelaki kesayangannya itu, jika dibanding dirinya kedua orang tuanya lebih menyayangi Yuan ketimbang dirinya yang sebenarnya lebih berhak karena ia yang anak kandung papa dan mamanya. Sedang Yuan adalah anak dari almarhum kakak mamanya yang sudah meninggal karena kecelakaan.


"Mama itu khawatir sama elo tau gak, Bang?"


Yuan menghentikan jemarinya mengetik, menarik nafas dalam lalu menghempasnya perlahan. Hampir saja ia melupakan orang yang sudah memberinya kehangatan kasih sayang seorang ibu. 


Saat kedua orang tuanya meninggal ia masih terlalu kecil dan masih membutuhkan kehadiran kedua orang tuanya. Dan Elina lah yang memberikannya kasih sayang tiada batas untuknya. Elina menyayanginya sepenuh hati seperti anaknya sendiri.


"Gue nggak papa," jawab Yuan tanpa mengalihkan pandangannya.


"Tapi mama khawatir, bukan cuma mama sih gue juga khawatir sama elo." Dion menatap Yuan dengan tatapan selidik.


"Elo putus sama Adelia?" 


Yuan menggeleng.


"Terus, kenapa elo kelihatan marah dan kesal banget tadi?"


Dion terus saja mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sungguh membuatnya bingung harus menjawab apa? Apa ia harus membuka aibnya sendiri karena telah merenggut kesucian seorang gadis? Akan seperti apa kecewanya kedua orang tua yang sudah susah payah mendidiknya dengan baik.


Dirinya sebenarnya sudah beruntung karena Dion tidak pernah menceritakan kelakuan buruknya selama tinggal di luar negeri jika Dion cerita, Elina pasti akan sangat kecewa padanya.


"Gue nggak apa. Gue mau ketemu mama." Yuan beranjak dari tempat tidur menemui Elina di kamarnya.


Tok tok tok


"Mah, ini Yuan. Yuan boleh masuk nggak?"

__ADS_1


Pintu terbuka dan Yuan melihat Bram yang sepertinya baru selesai mandi terlihat dari rambutnya yang masih terlihat basah.


"Eh, Yuan, ada apa?"


"Mau ketemu mama."


"Masuk!"


Yuan masuk dan menghampiri Elina yang sedang menyisir rambutnya di depan meja rias, Yuan memeluknya dari belakang, menyandarkan dagunya di pundak wanita itu.


Elina tersenyum, lalu memutar tubuhnya menghadap Yuan.


"Kata Dion tadi kamu pulang dan langsung membating pintu. Ada masalah apa, heemm? Cerita sama mama!"


Yuan menatap mata wanita di depannya, dia melihat pancaran kasih sayang dari sorot mata teduh itu, Yuan juga melihat ada ketulusan disana. Dan itu membuatnya merasa bersalah karena sudah mengecewakan perempuan itu.


"Nggak ada apa-apa, mah, cuma ada masalah sedikit di kantor tapi Yuan akan mengatasinya segera," Dustanya, ia tak sampai hati melihat Elina kecewa terhadapnya.


Tak bisa ia bayangkan betapa kecewanya perempuan yang sedang memeluknya itu jika tahu dirinya telah menodai seorang gadis, terlebih karena telah salah sangka pada Clara.


"Papa percaya kamu bisa mengatasi setiap masalah di kantor karena itulah papa percayakan kantor itu sama kamu dan Hari," ucap Bram yang baru keluar dari kamar mandi menimpali.


Yuan lalu mengikuti papahnya yang duduk di sofa di kamar itu.


"Makasih, papa sudah percaya sama Yuan. Yuan janji akan bekerja lebih baik lagi agar perusahaan kita lebih maju lagi."


***


Adelia yang baru tiba melihat Clara sedang berjalan seorang diri menuju gedung kampus. Gadis itu membunyikan klakson mobilnya membuat Clara yang sedang berjalan sambil melamun terperanjat lalu menepi. Adelia menurunkan kacanya, tersenyum.


"Adel …"


Gadis itu lalu memarkir mobilnya dan setelah itu menghampiri Clara yang menunggunya.


"Tadi gue ke rumah lo tapi lo udah nggak ada, kata tetangga elo elo udah berangkat?"


Mereka berjalan beriringan menuju gedung kampus.


"Elo kenapa nggak nunggu gue?" sambungnya menoleh Clara.


"Tadi gue diantar ayah sekalian ayah mau berangkat kerja."


"Bokap elo kerja? Dimana?"


"Di sebuah mall di daerah Depok."


Adelia mengangguk paham, ia tak bertanya lagi karena sepertinya Clara sedang tidak mau membahas ayahnya jadi ia memilih topik lain. Adelia menanyakan Yuan yang tak ada khabar. Namun, itu justru membuat Clara enggan berbicara. Clara tidak mau mendengar nama itu lagi, ia membenci Yuan sekarang. Laki-laki itu telah melukai hatinya dan menginjak harga dirinya.


Clara tak merespon, justru ia menghindar dari Adelia dengan berpura-pura ke toilet. Adelia merasa ada yang aneh dengan sikap sahabatnya itu. Ada apa dengan Clara?

__ADS_1


"Clara kenapa ya, kok kayak menghindar dari gue? Apa dia marah sama gue karena gue nggak ikut jemput ayahnya?"


Bermacam pertanyaan memenuhi tempurung kepalanya, ia mulai menduga-duga mengapa Clara seperti hendak menjauh darinya. Tapi kemudian Adelia berpikir jika itu mungkin hanya perasaannya saja, Clara mungkin sedang ada masalah di tempat kerjanya atau apa ya jelas sahabatnya itu tidak akan mungkin menjauhinya.


***


Seperti sebelum-sebelumnya setelah dosen yang mengajar mereka keluar maka Clara akan duduk sebentar untuk belajar dan dengan setia Adelia akan menunggunya sampai Clara selesai.


Sambil menunggu Clara memainkan ponselnya, mengetik beberapa pesan lalu mengirimnya pada Yuan. Sebenarnya ia hanya ingin tahu khabar kekasihnya itu selain karena rindu ia ingin tahu mengapa Yuan tak menghubunginya.


Adelia mulai bosan menunggu, kali ini berbeda dari biasanya. Sudah hampir satu jam lebih Adelia menunggu tapi Clara belum menyudahi belajarnya. Adelia memutuskan untuk menghampirinya.


"Cla, belum selesai juga ya?" tanyanya, ia mulai merasakan perutnya keroncongan karena tadi pagi hanya sarapan sepotong roti tawar dan segelas susu.


Clara menutup bukunya. "Udah, yuk!"


Mereka lalu keluar menuju parkiran sambil membicarakan banyak hal.


"Kayaknya papa sama mama mau gue lanjut S2 deh, tapi gue rada males. Gue pinginnya langsung kerja di perusahaan papa. Kalo elo mau ngapain?


Clara jadi ingat tawaran kakaknya Dinda yang menawarinya pekerjaan, hanya saja tadinya ia masih ragu karena tidak ingin meninggalkan ayahnya, tapi sekarang ada punya alasan dan bahkan ingin pergi jauh dari kota ini. Menjauh dari kisah hidupnya yang pahit.


"Gue belum tau tapi … ada yang nawarin pekerjaan di tempat temannya tapi gue belum bilang apa-apa sihl masih bingung."


Mereka tiba di parkiran, Adelia menekan remot mobilnya dan kemudian mereka masuk. Adelia mulai menjalankan mobilnya perlahan meninggalkan parkiran kampus.


Sebenarnya kampus mereka bukan kampus elit tapi justru kampus dari kalangan biasa, Clara tidak akan mampu membayar biaya jika dirinya kuliah di tempat yang bagus. Sebenarnya ayah Adelia juga keberatan putri semata wayang mereka kuliah di tempat rendahan seperti itu, tetapi Adelia bersikeras dan mengancam tidak akan kuliah jika tidak bersama Clara. Dan akhirnya ayahnya mengalah daripada Adelia tidak mau kuliah sama sekali?


"Kerja tempat bokap gue aja gimana? Kita bakal bisa bareng dan ketemu terus tiap hari. Nanti gue bilang sama papah a …"


"Adel awas!"


Ciiiitttt


Adelia menginjak rem mendadak dan beruntung mobilnya tak menabrak mobil yang tiba-tiba menyalip dan berhenti di depannya. Lebih beruntung lagi karena mereka memakai sabuk pengaman jika tidak, akan seperti apa jadinya.


"Lo nggak apa-apa kan, Del?"


Bukannya khawatir pada dirinya sendiri Clara justru mengkhawatirkan keadaan Adelia karena gadis itu juga baru sembuh dari sakit.


Adelia menggeleng. "Iya gue gak apa. Elo gimana apa ada yang luka nggak?" 


Clara menggeleng. 


Adelia lalu menatap ke depan dengan amarah yang sudah siap ia semburkan. Hampir saja mereka celaka karena kecerobohan pengendara sepeda motor yang tak beradab itu. Namun, amarahnya langsung surut begitu melihat pengemudinya keluar.


"Kak Yuan?"


Bersambung 

__ADS_1


__ADS_2