
***
"Aku senang karena kamu akhirnya mau ikut denganku. Aku janji setelah ini aku akan menemui ayahmu dan meminta kepada beliau untuk segera menikahkan kita." Yuan menggenggam tangan Clara, lalu mengecupnya.
Clara tersenyum. "Bagaimana dengan Adel, Kak? Adel sangat mencintaimu. Aku nggak ma nyakitin dia. Dia sahabat aku sejak dulu."
Bagaimana pun Clara tidak ingin menyakiti sahabatnya, tetapi bayi dalam kandungannya juga butuh seorang ayah. Dia tidak mungkin bisa membesarkan anaknya seorang diri tanpa suami.
"Itu urusanku, biar aku yang akan menjelaskan padanya, Adelia pasti mengerti. Dia kan sahabat kamu, dia pasti akan merelakan aku untuk kamu."
Clara kembali tersenyum, begitu juga dengan Yuan. Setelah beberapa minggu mencari Clara akhirnya dia menemukannya. Yuan tidak akan melepaskan Clara apapun yang terjadi, Clara adalah miliknya hanya miliknya.
Yuan tak melepaskan genggamannya sedikitpun seolah takut Clara akan pergi lagi. Mereka berjalan menuju parkiran dimana Yuan memarkirkan mobilnya. Dia akan membawa Clara pulang kepada ayahnya dan meminta Darma segera menikahkan mereka.
Yuan tahu Darma tak menyukainya, tapi dia mencintai Clara.
Sementara di dalam otak Clara sedang memikirkan Zidan, perkataan laki-laki itu terus membias di ingatan. Selama beberapa minggu mereka semakin dekat, dan Zidan selalu setia ada di sisinya memenuhi semua permintaan aneh-anehnya yang kadang tak masuk akal.
'Apa aku begitu kejam pada Zidan? Apakah ini adil untuknya? Dia sudah begitu baik padaku, selalu ada untukku, tapi aku malah menyakitinya. Namun, aku juga butuh Kak Yuan, dia ayah bayiku, dia yang lebih berhak atas bayi ini, tapi dia belum tau aku hamil? Apa dia akan menerima bayinya?'
Bermacam pikiran berkecamuk memenuhi kepala Clara. Dia bingung harus berbuat apa? Benarkah apa yang dia lakukan? Benarkan pilihannya tidak salah?
Hah! Kenapa hidupnya selalu rumit?
"Setelah nanti kita menikah aku tidak akan mengizinkanmu kerja di kafe itu lagi. Kamu harus fokus kuliah! Tinggal satu semester lagi kan?"
Pertanyaan itu berhasil membuyarkan lamunan Clara, dia lalu menoleh Yuan yang juga menatapnya. Clara tersenyum.
"Iya, Kak. Clara nurut saja apa kata Kak Yuan," jawab Clara.
Senyum Yuan mengembang sempurna. "Gadis pintar." Yuan mengecup tangan Clara yang berada dalam genggamannya.
"Kamu cukup jadi ibu rumah tangga saja, menunggu aku pulang dari kantor," sambung Yuan.
"Iya."
Mereka tiba di parkiran, Yuan membuka pintu mobil untuk Clara. Dan saat Clara akan masuk dia melihat mobil Zidan masih terparkir di sana. Clara terdiam.
'Itu kan mobil Zidan kenapa masih disini, apa dia masih di taman? Sedang apa dia?'
Tiba-tiba Clara cemas, takut Zidan akan berbuat nekat. Mengakhiri hidupnya misal karena kecewa padanya? Ya Tuhan, apa yang harus dia lakukan? Dia bukan cuma telah membuat Zidan patah hati, tapi dia juga telah memberi luka pada Zidan.
"Kenapa, ayo masuk!"
Clara melepaskan genggamannya pada Yuan. "Maaf Kak, aku nggak bisa ikut sama Kak Yuan," ucapnya lemah.
"Kenapa? Apa kamu kamu tidak mau menikah denganku?"
__ADS_1
"Bukan begitu ... a-aku mau nikah sama Kakak, tapi aku nggak mau nyakitin Adel. Kembalilah sama Adel, Kak, aku ikhlas."
"Tapi …"
"Maaf Kak, aku harus pergi." Clara memutar badannya dan pergi meninggalkan Yuan yang masih terbengong.
"Jadi kamu lebih memilih bocah itu ketimbang aku?"
Clara menghentikan langkahnya, menoleh kembali pada Yuan. Wajah laki-laki itu memerah seperti tangah menahan amarah.
Yah, Yuan memang sedang marah. Entahlah, dirinya pun bingung kenapa jika bersangkutan dengan Clara emosinya selalu saja cepat naik. Ada apa sebenarnya dengannya?
Clara terdiam sejenak, dia tahu keputusan ini juga bukan keputusan yang tepat, tapi dia benar-benar merasa bersalah pada Zidan. Mungkin karena dirinya tahu seperti apa Zidan selama ini.
Hidup di panti asuhan membuatnya kekurangan kasih sayang. "Maafkan aku Kak." Clara kembali melanjutkan langkahnya.
"Clara! Clara jangan pergi! Clara!" seru Yuan, tapi Clara mengabaikannya panggilannya.
Clara mencari-cari Zidan kesana-kemari tapi belum ketemu.
"Zidan, kamu dimana, maafkan aku, Zi."
Clara hampir putus asa, taman yang cukup luas membuatnya kesulitan mencari keberadaan Zidan. Mau menelponnya mereka belum sempat bertukar nomor karena Clara mengganti ponselnya. Ponsel itu didapatnya dari ayahnya yang tidak ingin Clara berhubungan lagi dengan Yuan.
"Oh iya, Zidan kan selebgram, pasti orang-orang mengenalnya. Ah, elah, kenapa gak kepikiran dari tadi sii kan aku gak perlu capek begini?"
"Oh, selebgram ganteng itu ya, Kak? Kakak juga fans dia, tadi dia ada di sana." Salah satu dari mereka menjawab lalu menunjuk sebuah arah, Clara mengikuti dengan kedua matanya.
Tampak Zidan sedang dikerubuti para fansnya yang meminta berfoto.
"Makasih ya, Dek."
"Kakak pasti mau minta foto juga kan? Nih, tadi aku juga foto bareng sama Kak Zidan." Gadis remaja itu menunjukkan ponselnya, Clara hanya tersenyum lalu pergi setelah mengucapkan terima kasih.
Clara tak langsung mendekat, tapi menunggu hingga para fans Zidan pergi satu demi satu. Clara melihat Zidan sesaat lalu perlahan mendekat, meraih jemari tangan Zidan dan menggenggamnya.
"Bawa aku pulang bersamamu!"
"Clara, kenapa kamu disini, Yuan mana?" Zidan mencari keberadaan laki-laki yang tadi membawa Clara darinya, tetapi dia tak melihatnya. Dimana dia?
"Kenapa cari dia? Kamu gak suka aku disini? Yaudah aku pergi nih?" Clara pura-pura hendak pergi, tapi Zidan tak melepas tangannya.
"Eh, jangan! Masa gitu ngambek. Aku suka kok, suka banget malah."
Clara menarik kedua sudut bibirnya ke samping.
"Clara," panggil Zidan lirih.
__ADS_1
"Iya, kenapa?"
"Nggak apa-apa, cuma masih nggak percaya aja kamu disini."
Kedua mata mereka bertemu, tangan Zidan terulur merapikan rambut Clara yang berantakan ke belakang telinga.
"Kenapa kamu kembali?" sambung Zidan, kedua matanya tak lepas dari wajah Clara.
"Apa perlu dijawab?"
"Iya."
Clara melepaskan pegangannya, mengayunkan langkah ke depan kemudian menoleh Zidan.
"Karena aku memilihmu. Tapi maaf … aku belum bisa mencintaimu, Zidan. Tolong ajarkan aku cara untuk mencintaimu. Aku ingin mengubur semuanya dan membuka lembaran baru sama kamu."
Zidan diam sesaat, dia terlampau bahagia sehingga tak mampu berkata apa-apa selain kedua matanya yang tampak mengabur.
"Iya, aku akan mengajarimu."
"Makasih banyak, Zi."
***
Yuan tersadar begitu Clara telah pergi entah kemana. Dia berjalan kesana-kemari mencari Clara tapi tidak ketemu.
Yuan kembali ke tepi danau tempat dimana tadi dia bertemu Clara, tetapi hasilnya nihil karena Clara sudah pergi bersama Zidan.
"Sial. Awas nanti kamu Clara, aku pasti akan menemukan kamu lagi. Kamu nggak boleh jadi milik orang lain. Kamu hanya boleh jadi milikku!"
Clara tidak sadar jika pria yang dicintainya adalah pria yang penuh ambisi. Ya, ambisi untuk mendapatkan Clara bagaimana pun caranya.
Yuan kembali ke kantor dengan wajah yang sangat menakutkan, dia mengabaikan karyawan yang menyapanya saat berpapasan. Yuan juga memarahi CS yang sedang membersihkan ruangannya.
"Ngapain kamu disini? Keluar!" Bentaknya dengan keras. CS itu keluar dengan gemetar ketakutan.
"Ada apa lagi, Yuan? Kenapa kamu marah-marah lagi? Apa karena gadis itu lagi?"
Om Hari masuk ke ruangannya dan langsung duduk di depan Yuan, keponakannya itu hanya meliriknya sekilas lalu kembali menatap layar pendar di tangannya. Bermain game.
"Yuan, kamu itu sudah dewasa jangan seperti anak kecil! Kalau ada masalah selesaikan dengan kepala dingin!" Om Hari kembali menasehati.
Yuan berhenti mengotak-atik ponselnya, menyimpannya di meja. Benar kata om nya, dia bukan anak kecil lagi. Umurnya sudah 27 tahun.
Yuan menarik nafas berat, lalu menatap om Hari.
"Gadis itu menolakku, Om."
__ADS_1
Bersambung