
***
Clara memandangi Darma yang terbaring lemah tak berdaya dari kaca. Tubuh pria itu dipasangi beberapa selang yang Clara tidak paham untuk apa saja.
Di samping kiri tempat itu juga ada meja kecil, di atasnya ada alat pendeteksi jantung yang berfungsi menandakan jika Darma masih hidup.
Clara mengusap air matanya yang terus saja mengalir sejak tadi. Ia takut terjadi sesuatu pada ayahnya. Ia membenci Darma karena selalu membuatnya menderita, tetapi ia juga sangat mencintai pria itu dibalik rasa bencinya yang menggunung.
Ia sudah kehilangan ibunya sejak lahir, dan kini ia tidak mau kehilangan ayahnya juga. Bagi Clara Darma adalah segalanya terlepas dari sikap dan perlakuan buruk Darma terhadapnya.
'Ayah, aku sangat mencintaimu, ayah. Jangan tinggalkan Clara. Clara tidak punya siapa-siapa lagi selain ayah. Tuhan, aku mohon jangan ambil ayahku. Dia satu-satunya keluarga yang aku miliki. Tolong sembuhkan ayahku, Tuhan.' Clara terus berdoa dalam hatinya, yang ada di pikirannya saat ini hanya Darma.
Clara lupa dengan perlakuan Darma yang terus saja membuatnya sakit hati dengan tuduhan bahwa dirinya bekerja sebagai perempuan murahan yang menjual tubuhnya demi lembaran kertas rupiah.
"Sella."
Sentuhan di bahu mengalihkan perhatian Clara, mengusap kembali pipinya dengan kedua tangan.
"Iya Zidan?" Clara hampir lupa jika Zidan telah begitu banyak membantunya.
"Gue mau bayar administrasi dulu yah? Kamu tunggu disini! Jangan kemana-mana!" sambung Zidan dengan tatapan sayang, sayang Clara belum menyadari itu.
Clara mengangguk. "Iya."
Lagi pula mau kemana dirinya jika ayahnya ada di dalam sana sedang berjuang untuk hidup.
Zidan meninggalkan Clara menuju tempat administrasi hendak melunasi semua biaya Darma selama di rumah sakit ini.
"Zidan!"
Panggilan itu berhasil menghentikan langkah Zidan, ia lalu berbalik. Zidan melihat Adelia sedang berjalan tergesa menghampirinya dengan Yuan di belakangnya.
"Gimana keadaan bokapnya, Clara?"
Tampak sekali dari wajah Adelia jika ia mengkhawatirkan ayah dari sahabatnya itu.
Zidan melirik Yuan yang berdiri di belakang Adelia, wajah Yuan datar tanpa ekspresi apa lagi tersenyum.
"Sudah diperiksa dokter dan sekarang sedang istirahat," sahut Zidan kemudian.
"Syukurlah. Clara sekarang dimana? Bagaimana keadaannya?" Adelia sangat menyesal di saat seperti ini ia justru tak ada di samping sahabatnya, Clara pasti sedang sangat membutuhkan dirinya sekarang.
"Dia sedang menunggu ayahnya, di kamar Melati B," terang Zidan lalu hendak pergi, ia juga tidak mau meninggalkan Clara berlama-lama.
"Lo mau kemana?"
"Mau ke bagian administrasi, melunasi biaya om Darma."
"Biar aku aja." Yuan yang sedari tadi diam buka suara.
Zidan menatapnya dengan tatapan mengejek, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Yuan.
"Nggak perlu. Gue masih sanggup bayar. Lo urus aja cewek pura-pura lo itu! Gue tinggal dulu ya, Adel."
__ADS_1
Yuan mengepalkan kedua tangannya, ia sangat kesal pada Zidan. Yuan merasa tersinggung dengan ucapan Zidan, tetapi apa yang Zidan katakan memang benar. Dirinya hanya berpura-pura mencintai dan memacari Adelia untuk membuat Clara cemburu dan marah.
"Kak, kak Yuan nggak apa-apa?" Tanya Adelia menyentuh lengan Yuan.
Yuan tersentak lalu tersenyum canggung. "Iya, aku nggak apa. Yuk katanya mau jenguk ayahnya Clara!"
Adelia mengangguk, mengeratkan pelukannya pada lengan Yuan.
"Tadi Zidan ngomong apa?" tanya Adelia saat mereka mencari ruangan yang disebut Zidan. Ruang Melati B.
"Bukan apa-apa, bukan hal penting," sahut Yuan tanpa berniat menceritakan apa pun yang Zidan katakan tadi.
Adelia tak bertanya lagi. Rasa cintanya yang begitu besar pada Yuan membuat Adelia tak berpikir macam-macam pada kekasihnya itu.
Tiba ruang Melati B, Adelia melihat Clara sedang duduk seorang diri. Wajahnya yang ia sembunyikan di antara kedua tangannya membuat Clara tak menyadari kedatangannya dan Yuan.
"Clara," panggil Adelia lembut.
Clara mengangkat wajahnya lalu berdiri memeluk Adelia dan menangis.
"Adelia, ayahku …"
"Iya, gue ngerti. Lo yang sabar ya. Gue tau lo pasti kuat!" Adelia mengusap-usap punggung sahabatnya, ia tahu jika Clara pasti sedang sangat hancur sekarang.
Adelia tahu persis perasaan Clara terhadap ayahnya. Benci, tapi cinta Clara jauh lebih besar pada Darma. Meski Darma sering menyusahkan Clara, tetapi itu tak mengurangi rasa cintanya pada pria itu.
Yuan hanya diam tanpa tahu harus berbuat apa. Ia juga ingin memeluk Clara, memberikan kekuatan pada gadis pujaannya itu. Tapi lagi-lagi ia teringat pada kelakuan Clara yang dianggapnya perempuan murahan.
***
"Iya sama-sama. Nggak usah, lagian ini sudah malam. Kamu langsung tidur ya. Maaf besok aku nggak bisa jemput kamu, aku ada kerjaan."
"Iya nggak apa, lagian Adel kan bisa bawa mobil sendiri. Lagi pula Adel juga mau temenin Clara di rumah sakit. Ya udah Adel masuk dulu ya, kak." Adelia hendak turun, tetapi Yuan menahannya dengan mencekal pergelangan tangannya. Adelia urung.
"Iya ada apa, kak?"
Yuan tak menjawab tapi mendekatkan tubuhnya ke arah Adelia, gadis itu gugup saat menyadari Yuan makin mendekatkan wajahnya. Adelia memejamkan kedua mata, bersiap menyambut Yuan. Namun …
KLIK
"Apa kamu bisa turun kalau sabuk pengamannya nggak dilepas?"
Adelia tersentak lalu membuka matanya, melihat ke arah perutnya dimana saltbeath baru saja terlepas dari tubuhnya.
"Itu … itu …" Adelia malu luar biasa, bisa-bisa dirinya berpikir jika Yuan akan mengecup bibirnya padahal dia sangat ingin Yuan melakukan itu padanya.
Adelia turun dengan tergesa karena malu dan langsung masuk ke dalam tanpa menoleh ke belakang.
"Adelia, Adelia, apa yang lo pikirin? Lo ngarep kak Yuan … ah, lo udah berapa lama sih pacaran sama dia? Baru seminggu! Jadi jangan mikir yang aneh-aneh apalagi mikir itu …"
Adelia meruntuki kebodohannya tadi. Ia sangat malu sekarang, apa yang harus ia lakukan jika bertemu dengan Yuan lagi? Mau ditaruh dimana wajahnya.
Sementara di dalam mobil Yuan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Gadis yang sangat polos dan lucu. Tapi sayang punya sahabat yang munafik dan sok suci macam Clara."
Entah mengapa setiap mengingat Clara dirinya jadi teringat kelakuan gadis itu yang suka bergonta-ganti pasangan.
Tapi mengapa Clara menolak berkencan dengannya? Apa Clara khawatir dirinya tak mampu membayar tarif per malam perempuan itu?
***
Clara tersentak saat seseorang menyentuh bahunya, ia lalu menegapkan badannya. Rupanya ia tertidur di kursi dekat ayahnya dirawat.
"Kamu …" Suara Clara tercekat di tenggorokan saat melihat Yuan berdiri di dekatnya dengan tanpa tersenyum.
"Apa yang kamu lakukan disini? Pulanglah! Adelia pasti akan salah paham kalau tau kak Yuan ke sini!" usir Clara dengan nada sinis, ia tahu laki-laki itu datang pasti ingin menghinanya lagi.
Saat masih di perjalanan pulang dari mengantar Adelia, Yuan berpikir jika ia ingin menunjukan rasa simpatinya pada Clara, akan tetapi sikap Clara justru membuatnya semakin berpikir buruk tentang perempuan itu.
"Jangan ge'er. Aku kesini cuma mau jenguk ayah kamu saja."
Clara menunduk malu, ia sudah salah paham pada Yuan.
"Bagaimana keadaan ayah kamu?" Yuan melihat Darma yang masih tak bergerak.
"Seperti yang kamu lihat. Ayah masih belum siuman, mungkin pengaruh obat bius."
Yuan hanya diam tak menjawab.
"Ohiya kemana pacar kamu? Kenapa dia tak menemani kamu disini?"
Clara terdiam sesaat. "Pacar?"
"Iya, selebgram itu?"
Clara tersenyum, rupanya sandiwara Zidan berhasil. Yuan menganggap mereka berpacaran.
"Dia pulang karena besok ada acara," jawab Clara tanpa berniat menjelaskan, biarlah Yuan tetap menganggap dirinya dan Zidan berpacaran. Dengan begitu Yuan akan terus bersama Adelia.
"Apa kamu sudah makan?"
Clara menggeleng.
Rasa cemas dan khawatir membuat Clara melupakan dirinya sendiri.
"Kebetulan aku juga belum makan, dan tadi sebelum kesini aku mampir beli dua nasi goreng sama teh manis hangat di jalan. Aku yakin kamu pasti kamu belum makan?"
Yuan mengangkat kantong kresek di tangannya tinggi. Tadi dia memang sempat membeli nasi goreng sebelum sampai di rumah sakit, ia teringat Clara yang pasti belum mengisi perutnya.
"Kenapa melihatku begitu? Kalo kamu tidak mau ya sudah aku makan sendiri." Yuan hendak pergi menuju sofa tapi Clara memegang tangannya.
"Siapa bilang aku nggak mau? Mau kok."
Clara berdiri, merebut kantong plastik di tangan Yuan lalu berjalan ke arah sofa.
Yuan tersenyum bahagia.
__ADS_1
Bersambung