
***
Hari ini Clara sudah diperbolehkan pulang, Zidan pergi ke bagian administrasi untuk melunasi biaya rumah sakit Clara. Sémentara Clara ditemani ayahnya Darma yang sedang mengemasi barang-barang.
Clara hanya duduk manis tanpa melakukan apa pun selain mengamati apa yang pria paruh baya itu lakukan. Sebenarnya Clara ingin membantu tapi Darma tak mengizinkan meski dirinya sudah memaksa.
Betapa berbedanya Darma yang dulu dengan Darma yang sekarang. Jika dulu dia selalu membuatnya susah kini justru berbanding balik. Darma sangat perhatian dan menyayanginya.
Sepertinya ia harus bersyukur atas peristiwa di parkiran waktu itu karena kejadian itu telah merubah Darma menjadi manusia lebih baik.
Tak berapa lama Zidan datang kemudian membantu mendorong kursi roda Clara. Zidan juga membantu Clara menaiki mobilnya sebelum kemudian mereka meninggalkan rumah sakit menuju rumah Darma.
"Hati-hati."
Zidan membantu Clara turun dari mobil lalu memapah masuk dan mendudukkannya di ruang tamu sementara Darma membawa baju kotor milik Clara lalu membawanya ke belakang.
Zidan duduk di samping Clara, subuh tadi dia baru saja pulang dari luar kota karena ada urusan pekerjaan dan langsung mandi kemudian ke rumah sakit menjemput Clara.
Clara memperhatikannya. Zidan menyandar pada sofa dengan memejamkan kedua matanya, sementara tangan kanannya memijit-mijit kepalanya.
Clara ingin membantu tapi mereka belum menikah jadi dia hanya diam memperhatikan.
"Kamu pasti capek ya, Zi, maaf ya aku nyusahin kamu terus?"
Zidan membuka kedua matanya lalu menegakkan badan.
"Dikit, tapi begitu ketemu sama kamu semuanya hilang."
"Kok bisa gitu?" tanya Clara polos.
Zidan meraih tangan Clara lalu menggamnya.
"Bisa, karena kamu sumber penyemangatku, sumber kebahagiaanku."
Keduanya lalu saling menatap dalam, mengunci satu sama lain hingga beberapa saat.
"Makasih, Zi, kamu pasti capek gara-gara aku?" lirih Clara haru.
Zidan tersenyum lalu mengangguk, mengusap kepala Clara lembut.
"Sama-sama, ini belum apa-apa. Biasanya aku hanya punya waktu istirahat 2 jam saja."
"Dua jam?" Clara membulatkan keduaa matanya, dia tidak bisa membayangkan betapa lelahnya menjadi Zidan yang harus pulang pergi ke luar kota.
'Apa nanti kalo kita udah nikah dia juga akan tetap begitu, aku pasti akan kesepian karena Zidan selalu pergi' batin Clara mengembara kemana-mana.
"Hu'um."
Tiba-tiba Clara jadi kasihan pada Zidan. Hidup seorang diri tanpa keluarga tentunya sangat kesepian, tidak punya tempat untuk berbagi keluh dan kesah.
Ia tahu seperti apa rasanya kesepian, dan dirinya juga mengerti seperti apa rasanya mencintai tanpa dicintai.
__ADS_1
"Kenapa melihatku begitu? Aku tau aku ini tampan dan senyumku juga manis. Awas nanti kamu jatuh cinta loh," goda Zidan menaik turunkan sebelah alisnya.
"Auuw, kok dicubit sih?" Zidan mengusap lengannya bekas cubitan Clara barusan.
"Biarin, habis kamu gombal sih?"
"Kok gombal? Aku gak gombal aku kan emang tampan dan senyumku juga manis, makannya banyak cewek-cewek yang naksir."
Tiba-tiba Clara takut, takut bersaing dengan fans-fans Zidan di luaran sana yang pastinya jauh lebih segalanya dibandingkan dirinya yang jauh dari kata sempurna.
Dirinya tidak terlalu tinggi meski tidak pendek, penampilan pun apa adanya dan jarang sekali berdandan.
"Kok mukanya sedih gitu kenapa? Aku salah ngomong ya?" tanya Zidan yang menyadari perububahan wajah Clara yang tiba-tiba murung.
Clara menggelengkan kepalanya. "Nggak, aku cuma lagi bayangin penggemar-penggemar kamu yang pastinya sangat cantik-cantik dan lebih baik dari aku," sahut Clara lalu membuang wajahnya ke samping. Ia tidak mau Zidan melihat jika kedua matanya menghangat.
Zidan terdiam mencerna ucapan Clara barusan hingga beberapa saat kedua sudut bibirnya melengkung ke atas.
Apa Clara sedang cembuaru? Apa dia mulai takut kehilangan dirinya? Jika iya itu artinya apakah Clara mulai menyukainya?
"Kamu cemburu?"
"Enggak, siapa yang cemburu?" sahut Clara tanpa melihat Zidan.
"Dih, masih aja gengsi, bilang aja kalau kamu mulai jantuh cinta sama aku. Ya iya secara siapa sih perempuan yang nggak klepek-klepek? Aku tampan, senyumku menawan, masih muda dan sukses."
Clara menoleh cepat, memutar bola mata jengah. Berdebat dengan laki-laki di depannya selalu membuatnya kehabisan kata-kata.
"Mau kemana?"
"Ke kamar. Mau ikut?"
"Kalo boleh sih?" Jawab Zidan sambil mengusap tengkuknya yang mendadak gatal.
"Enak aja. Ga boleh!" Ketus Clara lau meninggalkan Zidan yang tertawa karena berhasil menggodanya.
Langkah Clara terhenti saat hampir mencapai pintu kamar, sayup telinganya mendengar seperti ada suara mesin cuci yang sedang beroperasi.
"Kenapa ada suara mesin cuci? Siapa yang lagi nyuci? Apa Ayah lagi nyuci?" Berfikir sejenak kemudian berjalan ke arah belakang.
Dan benar dugaannya Darma sedang berdiri di depan mesin cuci.
"Ayah," panggilnya. Darma menoleh. "Apa yang sedang Ayah lakukan?" Clara menghampiri ayahnya.
"Ini … Ayah lagi nyuci baju kamu yang kotor tadi."
"Ayah biar nanti Clara yang melakukannya Ayah istirahat saja, pasti Ayah capek."
Clara merebut pakaian d tangan Darma kemudian menaruhnya ke keranjang, tapi Darma mengambilnya lagi hingga terjadi perdebatan diantara keduanya. Dan pada akhirnya Clara mengalah membiarkan Ayahnya melakukan apa yang dia mau. Clara hanya melihat tak jauh dari sana.
"Siapa yang mengajari Ayah cara menggunakannya?"
__ADS_1
Selama ini jangankan memegang mesin cuci, pergi ke dapur saja tidak pernah Darma lakukan. Laki-laki akan berteriak menyuruhnya untuk selalu menyiapkan apa yang dia mau.
"Bu Franda," sahut Darma tanpa menoleh.
"Bu Franda? Kenapa Ayah nggak nikah saja sama dia? Clara setuju kok bila Ayah nikah sama dia."
Darma menghentikan aktifitasnya sejenak. "Bu Franda tidak akan mungkin menerima Ayah lagi karena kesalahan Ayah sangat besar padanya."
***
"Kok bengong? Mikirin apa?"
Clara membenarkan posisi duduknya menyandar pada tempat tidur. Lepas magrib tadi dia melakukan panggilan vidio call pada Zidan. Dia ingin minta pendapat laki-laki itu mengenai ayahnya dan Bu Franda.
Wajah Zidan memenuhi layar di tangan Clara, menunggu gadis pujaannya meneruskan ceritanya.
"Aku kepikiran Ayah. Menurut kamu apa yang harus aku lakuin buat nyatuin mereka la?"
Meski tidak tahu persis seperti apa hubungan Darma dengan Bu Franda dahulu, tetapi Clara yakin jika mereka masih menyimpan perasaan satu sama lain.
"Nanti aku pikirkan caranya, sekarang aku harus pergi ada job malam ini."
"Malam begini?"
"Iya sayang, kenapa? Kamu keberatan?"
Clara tak menjawab. Entah mengapa hatinya mendadak tidak rela, takut jika di luar sana Zidan akan berpaling pada perempuan lain.
'Ah, kenapa aku jadi takut begini? Biasanya tidak apa?' Clara membatin, bingung pada perasaannya sendiri kenapa jadi seperti ini?
"Nggak. Kamu hati-hati ya, kalau selesai langsung pulang! Istirahat! Kamu juga butuh istirahat! Jangan terlalu ngoyo cari duit, Zi. Aku menerima kamu karena hatimu bukan karena harta kamu."
Zidan tersenyum. "Siap tuan putri, laksanakan." Clara tertawa melihat ulah Zidan, laki-laki itu selalu tahu cara agar membuatnya selalu ceria.
Mereka lalu saling diam, menatap wajah dalam layar masing-masing. Sekali lagi Clara harus bersyukur karena memiliki Zidan di hidupnya. Ia akan berusaha mencintai Zidan dengan segenap perasaannya.
Clara mengahiri panggilannya saat Darma memanggilnya.
"Kiss nya mana?" goda Zidan sebelum panggilan berakhir tapi sukses membuat kedua pipi Clara menghangat.
"Apaan sih, Zi, jangan aneh-aneh deh." Bukan dia tidak mau melakukannya, tetapi ia hanya terlalu malu.
"Nggak mau ya udah. Ilofu calon nyonya Zidan."
Clara hanya trsenyum tanpa membalas ucapan Zidan. Ia masih sungkan mengungkapkan isi hatinya. Panggilan kemudian berakhir. Clara memenuhi panggilan ayahnya yang sedang menunggunya di meja makan.
Ternyata disana juga ada Bu Franda yang sudah menunggu. Mereka lalu makan seperti keluarga sungguhan. Clara bahkan berkali-kali memperhatikan Darma dan Bu Franda yang sesekali saling mencuri pandang.
'Hah, semoga Zidan segera menemukan jalan untuk menyatukan mereka kembali' batin Clara, dia selalu berdoa untuk kebaikan keduanya. Aamiin.
Bersambung
__ADS_1